JIAD Buka Program Kejar Paket Bagi Transgender

Info Anda

Editor elgiants Dibaca : 121

JIAD Buka Program Kejar Paket Bagi Transgender
ILUSTRASI – Warga tengah mengerjakan soal kejar paket A di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Saat ini JIAD juga membuka kelas kejar paket bagi transgender.
Pegiat Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) melaksanakan program gratis kejar paket SD/SMP/SMA untuk transgender (Female to Male - Male to Female) tahun pelajaran 2019. Program ini berlokasi di Kabupaten Jombang Provinsi Jawa Timur.

Pegiat Jaringan Islam Anti Diskriminasi, Aan Anshori mengatakan program ini seperti program kejar paket seperti sekolah biasa. Hal ini dilakukan karena selama ini, transgender rentan terhadap diskriminasi.

“Karena mereka kami anggap paling rentan kehilangan hak-hak pendidikannya. Penampilannya yang trans seringkali membuat mereka rentan terdiskriminasi di sekolah formal,” kata Aan Anshori, Rabu (13/3).

Program ini sudah berjalan sejak tiga tahun lalu. JIAD bekerja sama dengan salah satu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PBKM) di Jombang. Kebetulan, yang punya PKBM tersebut adalah sahabatnya.   Dari bincang-bincang mereka, dia lantas meminta kuota agar transgender bisa sekolah di sana. Walau berada di Jombang, pesertanya bisa berasal dari mana saja.

Selama ini hampir tidak ada hambatan dalam program tersebut. Hanya mungkin, belum banyak transgender yang ikut karena banyak faktor. Salah satunya, sebaran informasi dan jarak sekolah dengan posisi mereka.

“Sudah ada delapan orang yang lulus dari program ini, dan ada satu yang melanjutkan kuliah,” jelas Aan.
Dalam program ini, peserta hanya disyaratkan membawa fotokopi kartu keluarga dan ijazah terakhir. Serta mengikuti prosedur pembelajaran yang telah ditentukan.

Program ini juga bisa mendatangi komunitas jika berjumlah lebih dari 15 peserta.
  Sebelumnya, pengamat sosial Universitas Tanjungpura Pontianak, Viza Julian mengatakan transgender jadi salah satu yang kerap didiskriminasi. Pada dasarnya masyarakat punya kecenderungan untuk takut, dan memusuhi kelompok di luar mereka.

   Pada saat kelompok tersebut inferior atau lebih lemah, biasanya akan termarjinalkan oleh masyarakat yang mayoritas dan superior. “Ini terjadi pada semua kelompok masyarakat minoritas, termasuk di antaranya kelompok LGBT,” sebutnya. Ada beberapa faktor yang membuat kelompok tersebut termarjinalkan. Pertama, fakta bahwa mereka minoritas.

Kedua,sepanjang sejarah, LGBT dianggap sebagai kelompok yang menyimpang dari kebiasaan umum masyarakat. Memperlakukan mereka secara tak adil, dianggap kewajaran. Ketiga, sebagian besar agama terutama agama samawi, diajarkan menempatkan golongan ini sebagai golongan yang melanggar perintah Tuhan.

Hal tersebut seakan memberi pembenaran perlakuan buruk terhadap mereka. Padahal, LGBT bukan fenomena yang hanya dipengaruhi faktor sosial, seperti yang banyak dipahami masyarakat sekarang.

Faktor bawaan juga berpengaruh. Banyak orang yang seumur hidupnya dididik sebagai lelaki, namun dalam tumbuh kembangnya jadi waria. “Hormon bisa menjadi penyebab ini. Ketidakseimbangan antara progesteron dan estrogen merupakan sesuatu yang berpengaruh pada perilaku,” katanya. (dino/balasa)