Senin, 09 Desember 2019


Sekolah Australia Ajarkan Bahasa Indonesia

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 128
Sekolah Australia Ajarkan Bahasa Indonesia

PEMBEKALAN - Murid Scotts Head Public School dibekali pengetahuan bahasa dan budaya Indonesia sebagai persiapan bagi masa depan mereka.

Sebuah sekolah dasar di Scotts Head kini menjadi satu-satunya sekolah bilingual Bahasa Inggris-Indonesia di negara bagian New South Wales (NSW) Australia. Pihak sekolah menyadari perlunya mempersiapkan murid mereka menghadapi kemajuan Indonesia tiga dekade mendatang.

Scotts Head Public School adalah satu-satunya sekolah di NSW yang mengajarkan dua bahasa Inggris dan Indonesia. Koordinator program bilingual di Scotts Head Public School, Karl Krause, menjelaskan murid-murid sekolah di Australia perlu dipersiapkan untuk mengantisipasi perkembangan tetangga terdekat mereka.

"Dengan populasi terbesar keempat di dunia dan pertumbuhan ekonomi enam persen per tahun, kelas menengah Indonesia dalam 30 tahun akan sangat masif. Kita harus mengantisipasi hal itu," katanya.

Scott Head terletak sekitar 480 kilometer dari ibukota NSW Sydney dan di kawasan pemukiman di tepi Pantai Lautan Pasifik tersebut memiliki warga sekitar 900 orang. Sekolahnya sendiri memiliki sekitar 110 murid.

Sekolah itu belum lama ini dikunjungi Konsul Jenderal Indonesia untuk NSW, Queensland, dan Australia Selatan, Heru Hartanto Subolo.

"Pihak Indonesia tertarik dengan apa yang kami kerjakan di sini karena kita semua menyadari hal ini akan bermanfaat bagi masa depan bersama. Terus-terang saja hal ini sekarang kurang mendapat perhatian dalam pendidikan Australia," ujar Krause.

"Kami bangga karena telah berupaya keras dan cerdas dalam memberi kesempatan bagi generasi masa depan kita untuk dapat bersaing kelak ketika mereka dewasa," jelasnya.

Di negara bagian Queensland, jumlah pelajar sekolah negeri dari tingkat TK hingga SMA yang belajar Bahasa Indonesia pada tahun 2018 meningkat menjadi 40.000 orang pada sekitar 50 sekolah.

Mulai tahun ini juga, sekolah-sekolah di Australia Barat diwajibkan mengimplementasikan minimal satu program bahasa di Kelas 3 dan 4 dengan tambahan pelajaran bahasa di setiap tingkat kelas berikutnya.

"Pada tahun 2023, semua murid dari Kelas 3 hingga Kelas 8 akan belajar bahasa," kata juru bicara Departemen Pendidikan Australia Barat.

Instansi tersebut kini mencari asisten pengajar bahasa yang tepat untuk mendukung program bahasa di sekolah-sekolah. Program ini mencari asisten bahasa dari Perancis, Jerman, Indonesia, Italia dan Jepang, begitu pula penutur bahasa Aborigin dan Mandarin yang tinggal di Australia. Asisten bahasa ini akan menghabiskan satu tahun bersama guru terkait, berbagi pengetahuan tentang bahasa dan budaya mereka.

Kepala Sekolah Scotts Head Public School, Gillian Stuart, mengatakan kemampuan berbahasa kedua sangat penting di dunia global saat ini.

"Pada tahun 2040, anak-anak Kelas 1 kita yang saat ini berusia tujuh tahun, akan bersaing mendapatkan posisi eksekutif. Tanpa kemampuan berbicara bahasa kedua, mereka tidak akan mendapatkan peluang," kata Stuart.

"Kami berharap dukungan pemerintah agar para pelajar dari tingkat TK hingga SMA mendapatkan pendanaan untuk program ini. Karena saat ini hanya dari TK hingga Kelas 6 yang didanai," katanya.

Konjen RI yang berkedudukan di Sydney, Heru Hartanto Subolo bersama rombongan disuguhi pertunjukan budaya Indonesia oleh murid-murid sekolah tersebut.

"Saya sangat bangga karena ini tidak hanya akan menjadi pengalaman belajar mereka tetapi juga cara mereka memahami dan terhubung dengan Indonesia. Terkait dengan bantuan guru, mengirim guru dari Indonesia, kami melakukannya di negara bagian Victoria. Tapi di NSW hal itu memang cukup ketat," ujarnya.

Pengamat pendidikan dari Melbourne University, Anna Dabrowski menjelaskan murid-murid yang bilingual terbukti mampu membuat keputusan kognitif yang lebih memadai dibandingkan murid yang hanya memiliki kemampuan satu bahasa.

"Kemampuan bilingual sangat bagus buat otak seseorang," katanya.

Hambatan terbesar justru soal mendapatkan guru bahasa adalah persyaratan sebagai guru terdaftar di masing-masing negara bagian dan teritori. Sumber daya di komunitas orangtua murid seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendukung program bilingual di sekolah-sekolah. (abc/bbc)