Jumat, 17 Januari 2020


Kisah Penyintas HIV Hadapi Diskriminasi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 132
Kisah Penyintas HIV Hadapi Diskriminasi

Drg Maruli, salah satu orang yang hidup dengan HIV (ODHIV).

Membincang status HIV bisa jadi masih menjadi suatu hal yang tabu bagi sebagian orang. Stigma seakan telah melekat pada Orang dengan HIV (ODHIV) ataupun Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Bahkan stigma dan diskriminasi tersebut tak jarang hadir dari orang terdekat.

Salah satu kisah mengenai masih tingginya stigma terhadap ODHIV dan ODHA dialami oleh Maruli Togatorop, seorang dokter gigi. Stigma negatif dari keluarga, tak pelak ia terima. Bahkan, pada saat itu, sang istri memilih untuk menceraikannya.

"Tapi sekarang saya sadar, kenapa dulu mereka mendiskriminasi seperti itu, karena mereka tidak paham apa itu HIV," ujar Maruli di Bandung, Sabtu (29/11).

Meski begitu, Maruli pun bisa membuktikan, dirinya mampu hidup sehat dan berprestasi, bahkan lebih daripada sebelumnya. 

"HIV bagi saya adalah berkah. Kalau enggak HIV, saya enggak akan seperti ini, saya semakin bersemangat, saya mengerti makna hidup yang sebenarnya, saya bisa berbagi dengan sesama," ujar pria yang didiagnosa HIV positif pada Juli 2014 di Jakarta.

Menurut Maruli, dengan dirinya terbuka akan status HIV yang dimilikinya, ia dapat memberikan informasi dan meluruskan stigma negatif mengenai HIV, terutama mengenai kemampuan untuk bangkit dan menyintas HIV/AIDS.

Tidak hanya Maruli. Hayu Ari Setyaningtyas, juga sempat mengalami diskriminasi dari pihak keluarga almarhum suaminya. Perempuan yang akrab disapa Arini ini didiagnosa mengidap HIV pada tahun 2013.

Pada saat itu, almarhum suaminya lebih dulu terdeteksi HIV positif dan meninggal dunia. "Saya didepak jauh-jauh dan dikeluarkan dari rumah, itu 40 hari setelah kematian suami saya," tutur Arini.

Akan tetapi, hal tersebut justru menjadi pemicu untuk melakukan pembuktian. "Saya masih punya hidup, saya masih bisa bangkit, saya masih punya karir," ujar Arini. Perempuan yang juga merupakan penyintas kanker ini pun pernah menerbitkan buku resep sehat bebas gluten.

Meski begitu, Arini mengaku mendapatkan dukungan penuh dari keluarga intinya. 

"Mereka mendukung saya, ketika saya harus akses layanan untuk akses ARV, saya selalu mendapat support. Walaupun ada sedikit keraguan di hati saya, bahwa saya itu akan mati. Itu dalam pikiran mereka karena mereka enggak mengerti," ujarnya.

 Kisah lain diungkapkan oleh Nurdiyanto. Pria yang lebih dikenal dengan nama Antonio Chaniago ini juga sempat mendapatkan stigma dari sahabatnya sendiri. Pada saat itu, Antonio yang sedang bermalam di rumah sahabatnya, turut meminjam baju. 

Beberapa hari kemudian, ia mendapatkan informasi dari rekannya yang lain, bahwa baju yang ia pinjam dibakar oleh sahabatnya itu.

"Di satu sisi saya marah, tapi di sisi lain ini menjadi pelajaran bagi saya, apa sih yang salah? Sepertinya sahabat saya kurang mengerti, kurang paham mengenai cara penularan HIV," ungkap pria yang aktif sebagai pendamping ODHA di Yayasan Kasih Suwitno Jakarta tersebut. 

Diketahui, Hari AIDS Sedunia pertama dicetuskan pada 1988 dan diperingati setiap 1 Desember. Penggagasnya adalah James W. Bunn dan Thomas Netter yang bekerja di bagian informasi Global Programme World Health Organization (WHO).

Tanggal ini diperingati agar menambah kesadaran penting dalam berjuang melawan virus penyebab AIDS, yakni HIV, sekaligus memberikan support pada pengidap AIDS dan mengenang para korban penyakit tersebut.

Berdasarkan data PBB, Minggu (1/12/2019), ada 32 juta orang yang meninggal akibat AIDS sejak 1990. Untuk 2018 saja ada antara 570 ribu hingga 1,1 juta yang meninggal akibat penyakit tersebut sementara, di seluruh dunia ada 37,9 juta orang hidup dengan HIV.

Lantas bagaimana sejarah 1 Desember menjadi Hari AIDS Sedunia?

Mengutip informasi HIV Alliance, James W. Bunn dan Thomas Netter sengaja memilih 1 Desember karena dinilai sebagai tanggal cantik. Alhasil, peliputan dari media pun diharapkan bisa optimal.

Hari AIDS Sedunia pun diikuti oleh negara-negara anggota PBB yang secara resmi mengakui Hari AIDS pada 27 Oktober 1988, termasuk Indonesia yang peringatannya dipimpin Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial.

Pada peringatan Hari AIDS Sedunia 2019, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guteres mengajak pentingnya peran komunitas atau masyarakat dalam mengakhiri AIDS. Ia berharap dengan kontribusi tiap komunitas, maka tidak ada satu pun penderita AIDS yang ditelantarkan.

"Advokasi yang kuat yang dimainkan para komunitas sangat dibutuhkan lebih daripada sebelumnya agar memastikan AIDS tetap menjadi agenda politik, bahwa HAM dihormati, dan pihak pengambil keputusan dan yang menerapakannya dapat terus akuntabel," ujar Guterres dalam pernyataan resminya.

Di Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap 1 Desember, simbol pita merah (red ribbon) bisa ditemukan di banyak titik. Anda mungkin bertanya-tanya kenapa HIV AIDS selalu identik dengan pita merah?

Pita merah jadi simbol universal tanda kepedulian dan dukungan bagi orang-orang dengan HIV. Ide simbol penggunaan pita merah hadir pada 1991 atau satu dekade setelah kemunculan HIV. Saat itu, 12 seniman berkumpul di sebuah galeri di New York, Amerika Serikat. 

Pertemuan itu dilakukan untuk membahas sebuah proyek untuk meningkatkan kesadaran masyarakat seputar HIV AIDS. Apalagi di tahun-tahun itu stigma terhadap orang dengan HIV AIDS begitu kencang.

Dari pertemuan itulah muncul ide penggunaan pita merah sebagai simbol kepedulian dan dukungan kepada orang-orang dengan HIV seperti dilansir laman worldaidsday.org.

Ide pita berasal dari pita kuning yang biasa diikat di pohon untuk menunjukkan dukungan bagi anggota militer AS yang tengah berjuang di Perang Teluk. Warna merah dipilih sebagai tanda keberanian, juga warna yang menyiratkan hati dan cinta.

Para seniman itu membuat sendiri pita merah itu. Lalu, membagikan di sekitar galeri seni New York.

Saat membagikan pita merah mereka juga menyelipkan informasi mengenai makna pita. Beberapa minggu sesudah pembagian, pita merah lebih mudah ditemukan di banyak titik, termasuk di karpet merah Piala Oscar.

Pembagian pita merah juga dilakukan dalam Freddie Mercury Tribute Concert di Stadion Wembley, London, Inggris, pada 1992. Saat itu, sekitar 100 ribu pita merah dibagikan ke penonton. Pengisi acara seperti penyanyi George Michael pun mengenakannya.

Sejak saat itu, pita merah dikenal sebagai simbol HIV AIDS di seluruh dunia. (kum/lip/bob)