Minggu, 19 Januari 2020


Wajib Belajar Tujuh Tahun untuk Kembali ke Habitat

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 64
Wajib Belajar Tujuh Tahun untuk Kembali ke Habitat

MAKAN - Orangutan bernama Rambo tengah menikmati buah di Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Samboja, Kalimantan Timur, Jumat (5/12).

Matahari bersinar terik ketika kaki menginjak sisi timur tanah Borneo Jumat (5/12) lalu. Tak perlu waktu lama bagi tim untuk segera menjelajahi sudut-sudut di calon ibu kota baru Indonesia di Kalimantan Timur.

Pulau Kalimantan agaknya identik dengan kekayaan flora dan fauna di dalam hutan hujannya. Tak terkecuali di Samboja, Kalimantan Timur, yang terkenal sebagai habitat satwa orangutan. Bukan hanya sebagai rumah bagi primata tersebut, rupanya di Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Samboja, Kalimantan Timur ini, juga sebagai ‘sekolah’ untuk orangutan yang menghuninya.

Dari Bandara Sepinggan, Balikpapan menuju hutan konservasi ini, memakan waktu sekira 1,5 jam dengan menggunakan mobil dengan melewati medan yang cukup memacu adrenalin. Pengunjung harus menghadapi medan yang beragam, mulai dari aspal biasa, hingga jalanan tanah dan berkerikil, ditambah dengan jalanan menanjak dan berkelok.

Tak hanya itu, lalu lintas di sepanjang jalan dari Balikpapan menuju Samboja juga cukup padat dengan kendaraan-kendaraan besar seperti truk.

Setibanya di BOSF, tampak seekor orangutan bernama Rambo yang tengah asyik menikmati buah. Dia dikelilingi oleh aneka pepohonan, tempat bergelantungan, hingga danau buatan.

"Ini namanya Rambo, dia bisa dibilang orangutan yang cukup tua di sini," sambut Deputi Direktur Restorasi Habitat Orangutan Indonesia, Aldrianto Priadjati di Samboja.

Rambo rupanya tidak sendirian. Terdapat kurang lebih 100 orangutan yang ‘bersekolah’ di BOSF yang sudah berdiri selama 28 tahun ini.

"Ada 600 orangutan yang tinggal di seluruh hutan Kalimantan. Tapi di Kalimantan Timur terdapat 121 orangutan yang harus dididik sampai lulus," kata Aldrianto.

Di tengah area hutan seluas 1852 hektar ini, ratusan orangutan dirawat dan dididik di sebuah. Orangutan yang disekolahkan adalah mereka yang dulunya tidak tinggal di habitat hutan asli. Beberapa di antaranya bahkan pernah tinggal bersama manusia, hingga bermain sirkus.

Hal itu kemudian memicu perilaku orangutan menjadi tidak sesuai dengan tabiat aslinya. Orangutan harus sekolah selama tujuh tahun agar perilakunya bisa kembali, sekaligus menjaga kesehatannya.

Para pengelola dan relawan BOSF mendidik para orangutan ini agar dapat berperilaku, serta bisa bertahan dan dilepas kembali habitat asalnya, yakni di hutan Kalimantan setiap tahunnya.

"Selama tahun 2019 sendiri sudah ada 21 orangutan yang dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Kutai Timur. Utamanya orangutan jenis gen asli Kalimantan Timur, yaitu Pongo Abelii," kata Aldrianto.

BOSF tidak semata-mata langsung menerima orangutan yang sehat dan segera disekolahkan. Tak jarang para pengelola menerima orangutan dengan kondisi tidak sehat, bahkan cukup memprihatinkan.

Ada yang terkena penyakit menular, cacat karena pernah ditembak oleh senapan manusia, serta berbagai masalah lain yang kerap menimpa hewan mamalia itu.

"Untuk memantau kesehatan, orangutan wajib skrining kesehatan setahun sekali. Sebelum dilepasliarkan, dipastikan orangutan sehat dan asli dari Kalimantan Timur," terang Aldrianto. (antara/balasa)