Tokoh Masyarakat dan DPRD Sanggau Minta Polisi Bebaskan Tersangka

Regional

Editor sutan Dibaca : 1697

Tokoh Masyarakat dan DPRD Sanggau Minta Polisi Bebaskan Tersangka
MENGADU KE DPRD – Pihak keluarga, mengadukan kejadian yang menimpa AJ ke DPRD, Senin (1/2). DPRD mendukung AJ agar segera dilepaskan kepolisian, karena tindakan pencurian alat pertanian eks Gafatar sudah selesai di tingkat adat. (SUARA PEMRED/ SAIFUL FUA
* Tersangka Sudah Dijatuhi Hukum Adat

SANGGAU, SP –
Sejumlah tokoh adat dan masyarakat Dusun Simpang Tanjung, meminta Kepolisian Resort Sanggau membebaskan AJ, yang ditahan akibat dituduh menjarah alat pertanian dan pupuk milik warga eks Gafatar.

Persoalan AJ, disebut sudah selesai di tingkat desa.
“Waktu ditangkap, sudah sepakat dengan polisi dan berkoordinasi dengan kami sebagai tokoh adat. Menyatakan menyerahkan sepenuhnya penyelesaian kasus kepada ketua adat. Saat itu Waka Polsek dan Danramil menyerahkan sepenuhnya. Saya siap menyelesaikannya,” ujar Ketua Adat Dusun Tanjung, Salimin, ditemui saat audiensi dengan Ketua DPRD Sanggau, Senin (2/2).

Mengenai hal ini. AJ kemudian dijatuhi hukuman adat pelanggar penyanggah sebesar 8 tail, adat tuntutan Dusun Simpang Tanjung 10 tail,  dan adat tuntutan Dusun Tanjung sebesar 4 tail dengan total 22 tail atau setara dengan Rp 7.972.000.

Menurutnya, ini telah disepakati pada 21 Januari 2016. Tokoh adat berunding dengan masyarakat di dua dusun. "Namun diminta melengkapi dari Dinas Pertanian, isinya tidak akan menuntut aksi pencurian. Tapi ia bilang tidak mau lisan tapi dalam bentuk surat,” paparnya.

Setelah itu, Salimin dan masyarakat lainnya mengadukan persoalan ini ke DPRD. Solusinya, mengambil surat ke dinas. Surat keluar 27 Januari. Dinas menyatakan tidak akan menuntut asalkan semua barang yang dijarah dikembalikan.

Selain itu, para tokoh mengirimi surat kepada aparat penegak hukum. Ditandatangani oleh 9 orang. Di antaranya, tokoh adat, masyarakat, kepala dusun dan para ketua RT di dua dusun pada 23 Januari 2016. Intinya meminta pembebasan AJ. Ia menuding polisi pendukung eks Gafatar dan tidak menghargai hukum adat di tanah Borneo, jika tidak membebaskan AJ.

Ketua DPRD Sanggau, Jumadi, usai audiensi meminta polisi segera membebaskan AJ. "Sikap oknum polisi disayangkan karena langsung menahan AJ tanpa prosedur yang benar. Karena, AJ belum P21 sudah dikirim ke Sanggau dan dititip ke LP,” paparnya.

Ia meminta oknum itu dikenakan hukuman adat karena melecehkan tata krama adat budaya setempat. "Saya minta dibebaskan, Dinas Pertanian tidak menuntut, adat sudah dibayar harusnya bebas, tidak ada lagi persoalan,” tegasnya.

Sementata itu, Istri AJ, Susana (30) tak mampu menahan isak tangisnya saat ditemui. “Anak-anak saya selalu bertanya, bapak kemana?. Saya terpaksa berbohong, bilang kerja, namun kenyataannya beda," ujarnya.

Sejak ditahan 21 Januari lalu, ia bersama anak-anaknya tak pernah bertemu sang suami. “Saya mohon, suami saya dilepaskan. Kalau tidak, kami tak bisa makan. Anak saya masih kecil-kecil. Distankanak tak mempermasalahkan penjarahan itu juga. Sehari-hari suami saya bertani, dialah yang menafkahi kami selama ini," pungkasnya. (pul/and)

Proses Hukum Berjalan

Kapolres Sanggau, AKBP Donny Charles Go mengatakan tindakan pencurian barang yang dilakukan AJ, warga Simpang Tanjung di lahan holti park yang dikelola sebagian warga eks Gafatar di Simpang Tanjung, Desa Binjai, Kecamatan Tayan Hulu tetap diproses sesuai hukum yang berlaku.


“Pelakunya hanya satu orang saja dan sudah diproses sama Polsek Sosok, sekarang tersangka sudah ditahan di Rutan, jadi sesuai dengan proses hukum yang ada," ujarnya.

Sedangkan permintaan pihak keluarga yang menginginkan tersangka tidak ditahan, dengan alasan sudah diproses melalui hukum adat setempat, Kapolres enggan berkomentar.
“Dengan ini berarti pemberkasan tidak lama lagi akan diterima oleh jaksa," katanya. (pul/and)