Kalimantan Barat Zona Merah Peredaran Narkoba Internasional

Regional

Editor sutan Dibaca : 2337

Kalimantan Barat Zona Merah Peredaran Narkoba Internasional
BARANG BUKTI- Sejumlah petugas kepolisian membakar ganja kering sambil disaksikan tersangka kurir ganja berinisial ZF (tiga kanan) saat pemusnahan barang bukti di Mako Dit Resnarkoba Polda Kalbar, Pontianak, Selasa (2/2). Dit Resnarkoba Polda Kalbar memus
PONTIANAK, SP – Provinsi Kalbar saat ini telah menjadi jalur untuk peredaran narkoba termasuk jaringan internasional, sehingga butuh penanganan serius dari semua pihak. Zona rawan tak hanya di kawasan perbatasan atau tempat hiburan malam, namun juga di dalam lembaga permasyarakatan (Lapas).  Hampir setiap hari, baik media cetak maupun elektronika memberitakan tentang penangkapan para pelaku penyalahgunaan narkoba.

Di Kota Pontianak, sejumlah operasi antisipasi penyalahgunaan narkoba pun gencar dilakukan oleh aparat keamanan. Menjelang Hari Raya Imlek 2016 kemarin, polisi menyasar sejumlah Tempat Hiburan Malam (THM) dan hotel berbintang, yang disinyalir sebagai tempat peredaran barang haram tersebut.

Sebut saja razia preventif penyakit masyarakat (Pekat) yang dilakukan oleh tim gabungan dari kepolisian dan TNI pada Sabtu (6/2) atau malam Tahun Baru Imlek kemarin. Dari operasi tersebut, terjaring tujuh orang, yakni lima orang di Imperium, satu orang di Kapuas Dharma dan satu orang di Planet Hollywood, yang terindikasi mengkonsumsi narkoba. Polisi juga berhasil mengamankan barang bukti yang diduga pil extacy dan pecahan bong sabu. Langkah polisi tak terhenti.

Pada Senin (8/2) sore, Polresta Pontianak kembali melakukan razia di dua THM yang terindikasi menjadi tempat peredaran atau penggunaan narkoba, yakni IBiza dan Karaoke Kapuas Dharma sebagai tindaklanjut dari operasi yang digelar malam sebelumnya. Kemudian berlanjut dengan operasi penggeledahan di Kampung Beting, Pontianak Timur, Selasa (9/2) pagi.

Dalam operasi itu, dua buah rumah menjadi target penggeledahan karena diduga penghuninya merupakan pengedar narkoba sekaligus pelaku curanmor. Dari penggrebekan di dua rumah tersebut, petugas berhasil mengamankan empat orang yang diduga selain pemakai juga sebagai pengedar sabu.

Keempatnya lantas digelandang ke Mapolresta Pontianak, bersama barang bukti narkoba jenis sabu satu paket, ganja kering, alat hisap sabu, dan tiga unit sepeda motor diduga hasil kejahatan.  
Kabags Ops Polresta Pontianak, Kompol, Dhani Chatra Nugraha mengatakan, operasi ini sebagai upaya kepolisian untuk menekan dan mengantisipasi peredaran narkoba, serta tindak kejahatan lainnya.

Kapolda Kalbar Brigjend Pol Arief Sulistiyanto mengatakan, razia dilakukan di tempat-tempat yang berpotensi menjadi peredaran narkoba. Dia berharap masyarakat dan pelaku usaha dapat bekerjasama dalam rangka pemberantasan narkoba.

Para pelaku usaha hiburan malam juga diminta tidak membiarkan tempat mereka sebagai lokasi peredaran narkoba. Jika masih melanggar, pemerintah diharap dapat memberikan tindakan tegas dengan cara mencabut izinnya. "Apabila ada pengunjung yang ditemukan menggunakan narkoba di lokasi hiburan malam berarti di sana sudah terjadi peredaran narkoba. Dan kalau sudah jadi tempat peredaran narkoba berarti perlu ditindak tegas bila perlu cabut izinnya" kata Arif.

Menurutnya, peredaran narkoba di wilayah Kalbar sudah sangat memprihatinkan. Apalagi mengingat daerah ini berbatasan langsung dengan negara lain. "Bila perlu Kalbar menerapkan hukuman mati bagi para pelaku kejahatan narkoba. Kita harus berani dan tampil beda dengan daerah lain untuk kebaikan bersama," tegasnya.

Provinsi Kalbar saat ini memang telah menjadi jalur untuk peredaran narkoba termasuk jaringan internasional. Gubernur Kalbar, Cornelis menyebut, Pemprov serius menanggapi hal ini. "Narkoba yang masuk di Kalbar ini kemudian disalurkan oleh pengedar ke seluruh wilayah Indonesia. Masuknya melalui daerah perbatasan, tapi bukan lagi lewat Entikong, melainkan melalui perbatasan lainnya seperti yang ada di Kabupaten Sambas dan Bengkayang," kata Cornelis, belum lama ini.

Menurutnya, narkoba yang masuk di Kalbar melalui jalur perbatasan negara dibawa melewati jalur tikus dan daerah perairan sehingga sulit untuk dipantau karena banyak daerah di Kalbar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Kepala BNNP Kalbar, Komisaris Besar M Darmawan mengatakan, Kalbar memang sudah masuk dalam zona merah dari peredaran narkoba. Di Indonesia dari jumlah penduduk yang ada, sekitar 2,2 persen mengkosumsi narkoba, dan setiap harinya 50 orang meninggal, dimana sebagian besar berada di usia produktif. "Untuk Kalbar, saat ini tercatat 61.185 orang dalam usia produktif menjadi pecandu narkoba. Ini jelas menjadi tugas utama bagi kami dan dalam hal ini jelas kami membutuhkan kerjasama dari semua pihak," katanya.

Dikendalikan dari Lapas
Zona rawan peredaran narkoba tak hanya di kawasan perbatasan atau tempat hiburan malam. Namun ironisnya juga terjadi di dalam lembaga permasyarakatan (Lapas). Dari data yang ada, sebanyak 50 persen peredaran narkoba di seluruh Indonesia berasal dari dalam Lapas.
Di Kota Pontianak, kasus terakhir yang mencuat yakni terungkapnya penyelundupan 16 kilogram ganja kering asal Aceh melalui jasa ekspedisi. Ganja diketahui dipesan oleh Heryansyah, seorang narapidana yang sedang mendekam di Lapas Kelas II A Pontianak.

Kepala Kepolisian Resor Kota Pontianak Komisaris Besar Tubagus Ade berharap pihak Lapas dapat meningkatkan pengawasan terhadap warga binaannya. Dia juga mengimbau kepada pelaku usaha ekspedisi untuk berhati-hati dan mempunyai teknis khusus untuk mendeteksi barang kiriman konsumennya.

Jika tidak, jasa ekspedisi bisa menjadi sarana transaksi ilegal. “Kita berharap tersangka dituntut dengan hukuman maksimal, karena terbukti melakukan tindak pidana yang sama. Sebelumnya dia sudah divonis 10 tahun penjara, dan baru menjalani dua tahun. Kami harapkan, petugas Lapas dapat meningkatkan pengawasan terhadap warga binaannya,” tegasnya.

Sementara, Kepala Lapas Klas II A Pontianak, Sukaji menuturkan, pihaknya sudah semaksimal mungkin untuk melakukan pengawasan dan mengantisipasi terjadinya tindak kejahatan narkoba di dalam Lapas. “Penjagaan sudah cukup ketat, bahkan sudah dilengkapi metal detector. Tapi masih ada saja ponsel yang masuk ke Lapas, karena dengan ponsel memungkinkan napi untuk mengendalikan narkoba. Namun jika memang terbukti ada petugas Lapas yang terlibat, maka akan langsung kami tindak tegas,” katanya saat menghadiri acara pemusnahan barang bukti ganja, belum lama ini.

Ratusan handphone milik warga binaan Lapas yang disita, sebelumnya juga telah beberapa kali dimusnahkan. Meski demikian, Sukaji menyebut masih ada kendala karena pihaknya tidak memiliki pengacak sinyal komunikasi (Jammer). Jika memiliki alat tersebut, pihaknya dapat melumpuhkan komunikasi di Lapas, sehingga dapat mengantisipasi pengendalian narkoba dari dalam Lapas.

Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi III DPR RI, Kamis (4/2) lalu, di Senayan Jakarta mengatakan, 50 persen peredaran narkoba yang berasal dari dalam Lapas, terjadi hampir terjadi di seluruh Lapas yang ada. Bahkan, jenderal bintang tiga yang akrab disapa Buwas ini menuding, Lapas yang dijadikan pusat peredaran narkoba oleh bandar narapidana, melibatkan oknum sipir untuk melancarkan operasinya.  “Jaringan dan peredaran narkoba di Lapas ini terjadi di hampir seluruh Lapas di Indonesia, kita sudah punya data terkait jaringan itu. Dan jika berhasil diungkap semua, artinya kita sudah memutus 50 persen peredaran narkoba di Indonesia,” ucap Buwas kepada Suara Pemred.  (jto/ang/ind)