Selasa, 24 September 2019


Uskup se-Kalimantan Prihatin terhadap Perubahan Iklim Global

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1441
Uskup se-Kalimantan Prihatin terhadap Perubahan Iklim Global

PERTOBATAN- Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Barses CP (kanan) memberikan abu di dahi para umat sebagai lambang pertobatan pada misa pertama puasa umat Katolik di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalbar Rabu (10/2

PONTIANAK, SP- Gereja Katolik prihatin terhadap perubahan iklim global yang berdampak terhadap kerusakan lingkungan di Kalimantan.   Keprihatinan ini tertuang dalam Surat Gembala Puasa para Uskup se Kalimantan yang dibacakan serentak pada Pembukaan Puasa, Rabu, (10/2), di Gereja Katedral Santo Josep, Jalan Pattimura, Pontianak Selatan, Kalimantan Barat.

Surat Gembala Puasa Uskup se Kalimantan, ditandatangani tanggal 2 Februari 2016 oleh Uskup Agung Pontianak, Agustinus Agus Pr, Uskup Agung Samarinda, Yustinus Harjosusanto MSF, Uskup Sanggau Yulius Menccucini CP.   Turut pula menandatangani, Uskup Ketapang Pius Riana Prabdi Pr, Administrator Apostolik Sintang Agustinus Agus, Administrator Apostolik Tanjungselor Yustinus Harjosusanto MSF, Uskup Banjarmasin Piet Timang MSF, dan Uskup Palangkaraya Sutrisnaatmaka MSF.  

Menurut Surat Gembala para Uskup se Kalimantan, penyebab utama perusakan lingkungan hidup adalah sikap dan kegiatan manusia, penerapan hukum positif, politik dan ekonomi.   Pandangan hidup yang rakus dan tidak bertanggungjawab, mendorong manusia untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, tanpa memikirkan keselamatan lingkungan hidup.  

Para Uskup se Kalimantan menilai, semua manusia harus menanggung akibat perubahan iklim. Pola hidup sehat kian mahal.   “Penggunaan kipas angin dan pengatur suhu tidak terhindarkan. Bahkan tidak sedikit nyawa harus melayang menghadapi perubahan iklim yang semakin terasa dewasa ini,” ungkap Uskup se Kalimantan.  

Uskup se Kalimantan, menilai, iklim sekarang selalu berubah. Perubahan ini meningkatkan suhu dan gelombang 0,3 dejarat celsius.   Siklus hujan dan musim kering tidak menentu. Keadaan cuaca acap kali meleset dari ramalan sebelumnya.  

Angin badai dan puting beliung, menimpa sejumlah daerah. Secara tidak langsung, perubahan iklim ini mengubah seluruh lingkungan hidup.  

Para Uskup se Kalimantan, mengatakan, Gereja Katolik tidak berdiam diri, karena Gereja Katolik bertanggungjawab atas ciptaan, melindungi bumi, air, udara, sebagai anugerah Sang Pencipta, dan menyelamatkan setiap umat manusia dari bahaya lingkungan hidup. 

 Gereja Katolik di Indonesia, kata para Uskup se Kalimantan, telah menunjukkan tanggung jawabnya dalam bidang lingkungan dan perubahan iklim.   Antara lain, melalui Surat Gembala, gerakan Justice, Peace and Integration of Creation (JPIC) atau keadilan, damai, dan keutuhan ciptaan).  

Kegiatan penyelamatan lingkungan hidup dari tingkat keuskupan hingga paroki-paroki, stasi-stasi, lembaga religius, sekolah, asrama dan keluarga-keluarga.   Para Uskup se Kalimantan, mengatakan, kepedulian dan tanggungjawab dalam bidang penyelamatan manusia dan lingkungan hidup, masih perlu ditingkatkan terus di hari-hari mendatang.  

Dikatakan para Uskup se Kalimantan, Surat Gembala Prapaska 2016, menindaklanjuti ensiklik atau surat edaran Paus Fransiskus sebagai Kepala Gereja Katolik Roma di Vatikan.   Ensiklik berjudul: Laudato Si (Terpujilah Engkau), ditanggapi positif Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki Moon.  

Ensiklik Laudato Si, kembali menyoroti desakan moral untuk mengubah keadaan hidup manusia secara menyeluruh.   Dalam ensiklik-nya, Paus Fransiskus, kembali mengundang umat manusia untuk melindungi rumah bersama.  

Manusia diundang untuk memasuki dialog baru yang membangun sebuah masa depan. Sikap dan tindakan tobat, diperlukan dalam menghadapi asa depan planet kita.   “Sejumlah tuntutan bagi perkembangan manusiawi dikemukakan dalam Ensiklik Laudato Si,” demikian surat gembaga para Uskup se Kalimantan. (aju)