Memalukan, Peringkat Universitas Tanjungpura, Kampus Kebanggaan Kalbar Merosot

Regional

Editor sutan Dibaca : 5360

Memalukan, Peringkat Universitas Tanjungpura, Kampus Kebanggaan Kalbar  Merosot
GEDUNG- Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalbar. (FOTO SUARA PEMRED/ YODI RISMANA)
PONTIANAK, SP - Kampus Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, menduduki peringkat 106 pada data klasifikasi dan pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia 2015.
Angka ini diperoleh sejak Rektor Untan, Thamrin Usman menjabat dua periode.
Saat Rektor Untan dijabat Chairil Effendi, kala itu Untan masih menduduki peringkat 80. Peringkat kampus biasanya penilaiannya dilakukan secara menyeluruh.

Seperti kegiatan mahasiswa, kinerja dosen yang lambat mengeluarkan nilai mahasiswa, perpustakaan yang baik memberikan pelayanan, hingga akses internet yang bagus dan kualitas cepat.

Mantan Pembantu Dekan (Pudek) III Fisip Untan, Usmulyadi menyebutkan, melorotnya peringkat Untan dibandingkan kampus baru yang lebih di atasnya, merupakan kabar yang memalukan.

Pasalnya, Untan adalah kampus tertua di Kalbar yang berdiri sejak 1959, ibarat seorang kakek tua dan sudah memegang tongkat. Artinya, umur yang tua mestinya kampus kebanggaan Kalbar ini, sudah menikmati hasil kualitas pendidikan yang sudah ditorehkan.

Tapi ini justru peringkatnya semakin melorot. “Saya menilai ada sistem manajemen dari Untan sendiri yang tidak berjalan. Peran untuk menggerakkannya, ya rektor,” tutur Usmulyadi.

Perlu diketahui, Untan memiliki banyak unit kerja. Tiap unit membidangi pekerjaan masing-masing. Baik di tingkat rektorat maupun fakultas. Nah, mereka yang duduk di tiap unit ini, mestinya bekerja dengan baik. Misalnya, melakukan sosialisasi dan disiplin membuat laporan kegiatan yang berkaitan dengan civitas akademika.

Mulai dari laporan penelitian, kegiatan mahasiswa, kinerja dosen dan lainnya. “Selama ini yang dilakukan oleh rektor tidak dijalankan,” tuturnya.

Yang terjadi, misalnya, begitu ada Tim Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) mendatangi Untan dan melakukan penilaian, data kegiatan di kampus justru minim diberikan, tentu penilaian yang dikeluarkan oleh Tim Asesor juga rendah.

“Jadi, para pemimpin unit kerja di Untan jangan hanya terima gaji dan malas bikin laporan dan kinerja. Mereka harus disiplin menyampaikannya,” tutur Usmulyadi.


Banyak Faktor

Pada 2015, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi merilis data klasifikasi dan pemeringkatan Perguruan Tinggi  Nomor 492.a/M/Kp/VIII/2015. Dari 3.320 kampus yang didata, Untan menduduki peringkat ke 106.  

Dari angka ini, sebenarnya tidak terbilang jelek-jelek amat. Tapi bila dilihat perbandingan dari sejumlah kampus yang menduduki peringkat di atas Untan, justru menjadi catatan tersendiri. Satu di antaranya bila diukur dari segi usia.

Perlu dicatat Untan sendiri lahir di usia 1959.   Dari ukuran kampus negeri saja, seperti Universitas Mulawarman di Samarinda, Kaltim, memiliki peringkat ke 48.  Padahal, kampus ini berdiri pada 27 September 1962Lebih muda tiga tahun dari Untan. 

 Untan juga kalah dengan kampus swasta yang usianya jauh lebih muda. Seperti  Universitas Al Azhar Indonesia. Kampus yang berpusat di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat ini menduduki peringkat 54. Padahal kampus ini baru berdiri pada Agustus 2000.

Untan juga kalah dengan Universitas Riau, di peringkat 20. Padahal,  perguruan tinggi di Pekanbaru ini, berdiri25 September 1962. Adapun peringkat satu sampai lima masih diduduki oleh kampus ternama di Indonesia.

Peringkat pertama, Institut Teknologi Bandung. Kedua, Universitas Gadjah Mada. Ketiga,  Institut Pertanian Bogor. Keempat, Universitas Indonesia. Kelima, Institut Teknologi Sepuluh November.


Sebelumnya, Dirjen Kelembagaan Ristekdikti, Patdono Suwignjo menjelaskan, saat ini ada 134 perguruan tinggi negeri dan sekira 4.000 perguruan tinggi swasta (PTS). "Karena itulah perlu dibuatkan sebuah peringkat, agar ke depannya bisa semakin mendorong perguruan tinggi dalam mengembangkan kapasitas mereka," ujar Patdono. 


Menurutnya, klasifikasi tersebut akan dijadikan landasan oleh Kemenrsitek Dikti, untuk membina perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Nantinya, pertimbangan terkait program-program yang disusun terkait perguruan tinggi, juga dirancang berdasarkan klasifikasi itu.

Enam ukuran kampus berkualitas, bisa dinilai dari tingkat penerimaan kerja para lulusan tinggi, akreditasi tinggi, fasilitas pembelajaran yang memadai, kurikulum yang sesuai penilaian IPK secara objektif, memiliki sumber daya pengajar yang baik.


Harus Unggul


Satu di antara dosen Untan yang enggan disebut namanya menyebutkan, peringkat Untan berada di titik 106 adalah suatu kemerosotan.  Jauh sekali dibandingkan dengan kepemimpinan era Rektor Chairil Effendi, kala itu Untan masih menduduki peringkat 80.


Mantan Rektor Untan, Chairil Effendi enggan mengomentari peringkat Untan yang melorot ini. Ia mengatakan, untuk memajukan Untan di bidang kualitas mutu pendidikan, tidak bisa dijalankan dari seorang rektor saja.
“Semua jajaran di bawahnya memiliki peran penting mendukung ke arah itu. Seperti di tingkat fakultas, jurusan dan mahasiswa,” katanya.

Chairil berharap, “Kedepannya, Untan harus mampu menjadi kampus yang unggul. Saat ini, fasilitas yang dimiliki Untan sangat lengkap. Mulai dari tenaga dosen yang bergelar doktor sudah banyak, dan memiliki lahan kampus yang luas.
” Bahkan, Untan merupakan satu-satunya kampus yang memiliki lahan gambut basah. Ini potensi untuk dikembangkan. Baik pusat penelitian dosen dan mahasiswa dari luar," tutur Chairil.

Wakil Rektor I Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Dr Aswandi mengatakan bahwa, Untan masuk di cluster tiga perguruan tinggi di Indonesia. “Jadi, (kampus) kita di cluster tiga,” ujarnya.


Untuk di cluster tiga, ada 644 perguruan tinggi. Dia mengatakan, suatu perguruan tinggi bisa menempati peringkat atau peringkat terbaik di Indonesia, dengan beberapa poin penilaian.

Di antaranya tingkat sumber daya manusia, manajemen, kegiatan mahasiswa, dan publikasi dari media.
“Dari poin yang ada, kita ternyata banyak juga di atas rata-rata,” ujarnya.

Dalam penilaian tersebut, sewaktu-waktu perguruan tinggi peringkatnya bisa naik maupun turun. Tergantung kemajuan poin penilaian yang dicapai. “Jadi, kita sekarang terus berjuang. Soal penilaian bergerak terus. Bisa jadi, besok (kampus) kita masuk cluster dua,” kata Aswandi.

Tapi, untuk cluster satu, masih jauh. Itu peringkat perguruan tinggi yang sangat kuat. Seperti UI, UGM, ITB dan lainnya. Ia menegaskan, saat ini mulai dari rektor, wakil rektor, dekan, dan lainnya, antusias dan optimis meningkatkan peringkat Untan lebih baik.
“Kami ingin menciptakan Untan MULIA (Maju, Unggul, Luhur, Inspiratif, Akuntabel),” ujarnya.


Rektor Untan, Prof Thamrin Usman ketika diminta konfirmasi mengenai masalah itu ke nomor telepon genggamnya, tidak mengangkat nomor teleponnya. Begitu juga SMS yang dikirim Suara Pemred, tidak dijawab. (loh/umr/god/lis)