CGM di Kalbar Simbol Harmonisasi

Regional

Editor sutan Dibaca : 1409

CGM di Kalbar Simbol Harmonisasi
Wakil Ketua MPR RI, Gubernur Kalbar, Walikota Pontianak, Danlanud, Kasdam, Konsul Malaysia, Dirbimas Polda Kalbar, Ketua YBS, dan lainnya, membuka secara bersama pelaksanaan Cap Go Meh 2016 di Kota Pontianak, Kalbar, Senin (22/2).
PONTIANAK, SP - Wakil Ketua MPR Oesman Sapta membuka secara resmi perayaan CGM (CGM) 2567 di Kota Pontianak, Senin (22/2). Pembukaan itu dilakukan bersama dengan Gubernur Kalbar, Wali Kota Pontianak, beserta jajaran kepolisian daerah setempat, dan ditandai dengan pengibaran bendera warna merah.

Perayaan CGM di Kalbar berlangsung meriah di dua tempat, yakni Singkawang dan Pontianak. Di Singkawang, puncak CGM diikuti atraksi 612 tatung.
Khusus di Pontianak, ada 14 replika naga dan liong. Naga terpanjang yakni 'Naga Langit' dengan panjang 100 meter, 36 sambungan dan dibawa oleh 130 personel.

Disusul pertunjukan 20 barongsai, serta peserta karnaval lainnya di sepanjang Jalan Gajahmada, Tanjungpura, di Kota Pontianak, Kalbar.

Wakil Ketua MPR RI, Oesman Sapta ketika membuka festifal CGM di Pontianak, menyampaikan ucapan salam dari Presiden Joko Widodo kepada warga Kalbar, dalam rangka perayaan CGM.


“Presiden Jokowi mengatakan, kunjungan paling ramai di Kalbar waktu ada karnaval di Pontianak. Nah, hari ini pun saya bilang paling ramai kedua," kata Oesman.

Menurutnya, antusiasme warga di wilayah multi etnis seperti Kalbar, patut diapresiasi dan dihargai. Gubenur Kalbar, Cornelis mengatakan, tumbuh suburnya beragam etnis di Kalbar, memberikan banyak keuntungan bagi warga Kalbar.

"Multi etnis ini patut kita syukuri, karena ini justru yang membuat kita terus bersatu," kata Cornelis.

CGM Pontianak

Wali Kota Pontianak Sutarmidji, menyatakan perayaan CGM di Kota Pontianak tahun ini, berlangsung meriah. Dari segi peserta, lebih banyak dibanding tahun 2015.
“Jumlah (replika) naga yang ikut memeriahkan, ada 14. Tahun lalu, hanya sembilan naga saja,” ujarnya, Senin (22/2).

Meski begitu, Sutarmidji melihat hal terpenting dari perayaan CGM, masyarakat Kota Pontianak yang multi etnis, dapat bersama-sama menjaga kebersamaan dan toleransi.
“Di Pontianak, walaupun multi etnis, tapi masyarakatnya bisa menyatu dan toleran,” ucapnya.

Terkait dihilangkannya atraksi tatung dalam perayaan CGM di Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, jika atraksi tersebut diadakan di Pontianak, maka perayaan CGM di Kota Singkawang, bisa jadi tidak semeriah saat ini.

“Biarlah Kota Singkawang, dikenal dengan atraksi tatungnya. Sementara Kota Pontianak dikenal dengan atraksi naga dan barongsainya,” terang dia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak, Hilfira Hamid mengatakan, Festival CGM sudah menjadi agenda tahunan. “Sudah menjadi agenda tahun. Kita memfasilitasi. Yang jelas targetnya,” ujar Hilfira.

Ia menjelaskan, banyak wisatawan datang ke Kota Khatulistiwa. Dari dalam dan luar negeri. “Kelihatannya tahun ini lebih besar. Nyatanya dari Malaysia pada datang. Dari Jakarta juga datang,” jelas Hilfira.

Namun demikian, Hilfira Hamid enggan menyebut berapa jumlah wisatawan yang datang ke wilayah ini. Dirinya menyebut,” Yang jelas hunian hotel meningkat. Hotel juga bertambah. Banyak hotel baru. Penerbangan pesawat penuh. Harga tiket naik,”.

Berdasarkan pantauan di sejumlah ruas jalan utama di Kota Pontianak, ribuan orang turun turun ke jalan melihat atraksi naga dan barongsai.

Terlihat jelas, para penonton yang paling banyak adalah warga Tionghoa dan warga lainnya yang berasal dari luar Kalbar. Sementara di hotel-hotel banyak juga para turis yang berasal dari Tiongkok (RRT). Mereka datang ke Pontianak untuk melihat pertunjukan atau atraksi naga, barongsai, dan pawai budaya Tionghoa.

CGM Singkawang
Walikota Singkawang, Awang Ishak mengatakan, dalam perayaan CGM mencerminkan kebudayaan gotong royong yang ada di Kota Singkawang. "Tapi bagi mereka yang percaya, perayaan ini bisa juga menjadi perayaan rejeki," katanya.

Perayaan Imlek dan CGM merupakan perayaan yang telah menjadi kalender tetap Pemkot Singkawang. Karena itu, dia berharap pemerintah pusat maupun provinsi dapat ikut serta, berperan membantu kesuksesan iven pariwisata Singkawang.

"Saya berharap pemerintah bisa merealisasikan pembangunan bandara di Singkawang, agar semakin lancar turis yang datang ke Singkawang ini," katanya.

Tak hanya diminati masyarakat Kalbar, sejumlah wisatawan dalam negeri dan manca negara, rela merogoh kocek jutaan rupiah untuk menikmati suasana perayaan CGM 2567 di Kota Singkawang.

Salah satunya Lucky (72), dan temannya Sovie (52), asal Pemangkat. Ia dan sembilan orang temanya sudah jauh-jauh hari memesan tiket pesawat dan penginapan di Kota Singkawang, agar bisa menyaksikan puncak acara CGM.

"Untuk satu orang, kami mengeluarkan Rp 3 juta untuk tiket pulang pergi, belum lagi penginapan," ungkap Meli, sambil melihat keramaian kota di depan Masjid Agung Singkawang.

Walau sudah berkeliling ke berbagai kota untuk menyaksikan pagelaran CGM, ia mengakui bahwa pagelaran CGM di Kota Singkawang lebih ekstrim dibanding kota lain. "Saya sudah ketiga kalinya menyaksikan CGM di Kota Singkawang, dikarenakan lebih seru, serta aksi tatungnya lebih mengerikan dibanding kota lain," ujarnya sambil beristirahat.

Ia memberikan contoh CGM di Jatinegara, Jakarta. Saat pelaksanaan CGM, tatung yang beratraksi tidak sampai menusuk-tusuk tubuh. "Walau melihatnya ngeri juga, tapi mereka mau diajak selfie bareng," ujarnya, sambil memperlihatkan fotonya bersama tatung.

Meli (58), satu diantara temannya menceritakan, tak hanya puncak festifal CGM yang didapat. Mereka dapat melihat berbagai acara. Seperti, pawai lampion, cuci jalan, serta puncak acara CGM. Pokoknya puas. “Namun, tahun ini tak semeriah tahun kemarin,” ujarnya. (umr/jee/yrs/ant/det/lis)