Senin, 23 September 2019


Kapolda Kalbar: Pekan Depan Pemeriksaan Kejiwaan Pelaku Mutilasi

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1619
Kapolda Kalbar: Pekan Depan Pemeriksaan Kejiwaan Pelaku Mutilasi

Pihak keluarga sedang menunggu dan aparat polisi terliaht berjaga-jaga di Ruang Jenazah RSUD Melawi. (SUARA PEMRED/ EKO SUSILO)EKO SUSILO

PONTIANAK, SP - Kepolisian Daerah Kalbar, terus mengkaji kondisi kejiwaan Brigadir Polisi Petrus Bakus (27) yang membunuh kedua anaknya, Fabian (5) dan Amora (3) di Asrama Polres Melawi, Gang Darul Fallah, Desa Pal, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, pukul 00.40 WIB, Jumat (26/2).  

 “Bakus membunuh dan memutilasi kedua anak kandungnya dalam keadaan sadar. Masih terus diperiksa di Polres Melawi,” kata Brigjen Arief Sulistyanto, Kapolda Kalbar, Jumat (26/2).  
Menurutnya, harus ada hasil kajian sebagai dasar langkah lebih lanjut terhadap Bakus. Dugaan sementara, Bakus mengidap penyakit schizophrenia, berupa gangguan kejiwaan.
 

Sebelum kejadian, Bakus memang sering marah-marah tanpa ujung pangkal. Sesekali banyak melamun. "Sejak seminggu ini, suaminya sering marah-marah sendiri di rumah seperti ada makhluk halus yang mendatangi dan bercerita sering mendapat bisikan," kata Arief.  

Lalu, bagaimana peristiwa pembunuhan itu terjadi?   Sekitar pukul 24.00 WIB, Kamis (25/2), Bakus membawa kedua anaknya ke rumah Kepala Satuan Intelijen Pengamanan (Kasat Intelkam) Polres Melawi, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Amad Kamaluddin untuk konsultasi masalah keluarga.  

Tiba di rumah dinas Kamiluddin, Bakus hanya bertemu Kapolsek Menukung AKP Sofyan. Sedangkan Kamiluddin sudah tidur pulas. Karena tidak bertemu Kamiluddin, Bakus mengajak kedua anaknya pulang dengan berjalan kaki. Jarak antara rumah dinas Bakus dan Kamiluddin hanya beberapa rumah saja.  

Setiba di rumah dinasnya, Bakus membunuh dan memutilasi anggota tubuh kedua anaknya. Usai membunuh anaknya, Bakus membangunkan istrinya yang tertidur lelap di kamar lain.   Windri, istri Bakus, kaget melihat suaminya memegang parang berlumuran darah.

Kemudian, Windri masuk ke kamar kedua anaknya. Ia kaget melihat kedua anaknya sudah dalam keadaan tidak bernyawa dan berlumuran darah.   Belum hilang rasa kaget hilang, Bakus berkata kepada istrinya. "Mereka baik. Mereka mengerti. Mereka pasrah. Maafkan Papa ya, Dik. Sekarang giliranmu,” ujar Bakus, sambil akan mengayunkan parang ke arah istrinya.  

Dalam keadaan takut, Windri meminta izin agar disiapkan air minum, sebelum dirinya dibunuh. Permintaan Windri dituruti Bakus. Dia beranjak ke dapur untuk mengambil minuman buat istrinya.  

Saat Bakus beranjak ke dapur, kesempatan itu digunakan Windri untuk melarikan diri. Ia menuju rumah Brigadir Sukadi, anggota Intelkam Polres Melawi. Pintu rumah digedor. Sukadi terbangun dan melihat Windri, tetangganya ini berada di depan pintu. Windri menceritakan peristiwa yang dialaminya.  

Dia memasukkan Windri ke salah satu kamar rumahnya dan menguncinya dari luar. Hanya dalam hitungan menit, Bakus sudah duduk santai di halaman teras rumah dinas yang ditempati Sukadi. 

 Begitu melihat Sukadi, Bakus berkata, "Sudah saya bersihkan, Bang. Saya menyerahkan diri.”   Sekitar pukul 00.20 WIB, AKP Sofyan, Kapolsek Menukung , AKP Sofyan yang kebetuan menginap di Rumdin Kasat Intelkam (samping rumah pelaku) mendengar suara ribut - ribut dari rumah pelaku lalu kemudian membangunkan Kasat Intelkam Polres Melawi.  

Selanjutnya, Kasat Intelkam Polres Melawi serta Kapolsek Menukung mengecek ke rumah Pelaku dan melihat Pelaku sedang duduk bersama Brigadir Sukadi. Di depan keduanya Bakus mengaku sudah membunuh kedua anaknya.

Kemudian Sofyan bersama Kasat Intelkam Polres Melawi membawa pelaku ke Polres Melawi, sedang istrinya dibawa ke kediaman Kapolres Melawi. “Secara fisik sehat tetapi kondisi bicaranya seperti orang meracau, tidak mengenal Kapolres dan Kasatnya,” ujar Arief.

Usai menanggani Bakus ke Polres Melawi, polisi mengurus jenazah Fabian dan Amora ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Melawi di Nanga Pinoh untuk diotopsi. Rumah Bakus dipasang garis polisi.  

Sejumlah anggota polisi yang berjaga di kamar jenazah RSUD mengatakan, kejadian ini cukup mengejutkan karena tak menyangka bahwa, Bakus akan melakukan hal sekeji itu. “Mungkin ada masalah keluarga, cuma kita juga tak tahu persis,” kata salah seorang anggota yang berjaga.  

Anak Dipersembahkan
Petrus Bakus ketika di sel Mapolres Melawi mengatakan, dia membunuh dan memutilasi kedua anaknya dengan sadar, atas bisikan-bisikan yang memintanya membunuh kedua anaknya, untuk dipersembahkan kepada Tuhan.
“Dia tidak menyesal karena baginya, anaknya sudah kembali ke surga dan telah menyatu dengan dirinya,” kata Kapolda.  

Bahkan, Bakus mengaku sadar dan mengatakan, apa yang terjadi pada dirinya merupakan kehendak Tuhan. “Ini sudah kehendak Tuhan sejak dia lahir dari rahim ibunya,” ujar Kapolda menirukan ucapan Bakus.

Berdasarkan keterangan istri, Bakus sering mengalami kejadian seperti didatangi makhluk halus, dan merasa kedinginan saat berusia 4 tahun. Namun, ada yang menceritakan bahwa, keluarga ini sedang mengalami masalah keluarga, dan tiga hari sebelumnya pernah bertengkar.

Polisi sudah menyita sejumlah barang bukti terkait kasus ini. Ada tempat mencuci piring juga ditemukan dalam keadaan basah. Ada parang yang dalam keadaan bersih, batu asah dan sebuah kertas di atas meja dengan tulisan, “Terjadilah Padaku Seperti Perkataanmu.”
Saat ini, Tim Penyidik Polda Kalbar dan Polres Melawi melakukan olah TKP dan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, sedangkan untuk kedua korban telah diperiksa oleh dokter forensik.

Peristiwa itu membuat pucuk pimpinan tertinggi Polri, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memberikan pernyataan. Bakus yang membunuh anaknya, memiliki kelainan sejak kecil. Dia pun mengaku bahwa, pelaku lolos dari deteksi sehingga bisa menjadi anggota Polri.

"Memang pelaku memiliki ganguan sejak kecil, lolos dari deteksi polisi ketika masuk," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di Mabes Polri, Jumat (26/2).

Selanjutnya, polisi akan memeriksa dan melakukan tes kejiwaan terhadap Petrus Bakus. "Pekan depan baru dilakukan pemeriksaan kejiwaan pada pelaku," kata Arief.

Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Arianto mengatakan, Polda Kalbar sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengamankan pelaku, dan memeriksa beberapa orang saksi.   Kepolisian masih mendalami kasus ini untuk mengetahui motif tersangka.

Bahkan, Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulistyanto sedang menuju Polres Melawi, untuk berkoordinasi mengenai kasus ini.   “Saat ini bapak Kapolda dalam perjalanan menuju ke Polres Melawi dengan jalan darat selama 7 jam," ucap Arianto.  

Sementara itu, Tim advokasi dan konsultasi hukum Lembaga Adat Dayak Provinsi Kalbar, Yohanes Nenes mengaku kenal dengan Bakus sekilas. Bakus memiliki kepribadian tertutup dan pendiam.   “Sebelum menjadi polisi, tidak ada catatan kriminal yang dilakukan Bakus, sehingga diterima menjadi anggota polisi,” ujarnya.  

Sedangkan penyakit schizophrenia yang diduga diidap Bakus, masih diteliti lebih lanjut penyebabnya. “Bisa saja terjadi lantaran dampak serangan penyakit malaria akut,” ujarnya.  

Pemakaman Anak

Bakus berasal dari Suku Dayak Kanayatn di Karangan, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak. Windri berasal dari Suku Jawa, dilahirkan dan dibesarkan di Nanga Pinoh. Kedua orangtuanya dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.  

Sampai pukul 18.50 WIB, Jumat (26/2), dalam rapat internal keluarga yang dihadiri Bupati Melawi Panji, Wakil Bupati Melawi Dadi Sunarya, Ketua DPRD Kabupaten Melawi Abang Tajudin, Kapolres Melawi AKBP Cornelis Simanjuntak, perwakilan keluarga Bakus dan Windri, belum diputuskan jenazah Fabian dan Amora akan dimakamkan di mana.   Masih terjadi silang pendapat.

Pihak keluarga Bakus menginginkan dua anak itu dimakamkan di Karangan. Tapi keluarga Windri menginginkan, dimakamkan di Banyuwangi, Jawa Timur. (eko/yoo/aju/lis)