Dua Korban Mutilasi di Kabupaten Melawi Dikubur Satu Liang

Regional

Editor sutan Dibaca : 1519

Dua Korban Mutilasi di Kabupaten Melawi Dikubur Satu Liang
Kedua jenazah korban mutilasi Fabian (5) dan Amora (3), ketika berada Masjid Mudzakir dan akan dimakamkan di TPU muslim setempat. (SUARA PEMRED/ EKO SUSILO)


TUBUH Windri Hairin Yanti sontak goyah ketika peti kayu berisi kedua buah hatinya pelan-pelan diturunkan ke dalam liang lahat di kompleks pemakaman umum muslim, Jalan Tapang, Desa Paal, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, sekitar pukul 23.30 WIB.

Prosesi pemakaman di satu liang  lahat ini diiringi lantunan doa warga yang terdengar lirih di balik hembusan angin jelang tengah  malam itu. Windry terlihat tabah,  walaupun masih terdengar isak tangisnya, ketika liang lahat Fabian (5) dan Amora (3) mulai ditutupi tanah.
 

Wanita muda ayu ini sempat  sangat terpukul.  Tubuhnya sontak lunglai ketika diberi kesempatan menatap wajah Fabian dan Amora di dalam peti, usai disalatkan di   Masjid Mudzakir, sekitar 500 meter dari kompleks pemakaman.
  Pemakaman ini menandai berakhirnya kenangan manis bersama dua anak balitanya. Windry telah kehilangan segalanya.

Dua anaknya tak mungkin kembali, sedangkan sang suami terasa sangat mustahil untuk dimaafkan. Masih jelas di benaknya beberapa jam sebelumnya, ketika Brigadir Petrus Bakus, sang suami berubah bagai monster dengan parang berdarah di tangannya.  

Fabia dan Amora tak berdaya. Apalah artinya tenaga dua balita yang masih mengedot  itu untuk melawan tebasan parang di tangan ayahnya yang anggota Polres Melawi itu. Mereka tega dibunuh bahkan dimutilasi oleh ayah kandung sendiri.  

Pemakaman kedua bocah malang ini dihadiri Wakil Bupati Melawi, Dadi Sunarya dan juga Istri Bupati Melawi, Astrid Panji. Dadi dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Kapolres Melawi,  Ajun Komisaris Besar Polisi Cornelis Simanjuntak yang bergerak cepat mengamankan pelaku.     

“Terima kasih juga kepada masyarakat yang sudah membantu. Kami berharap, yang sudah terjadi ini menjadi pelajaran bagi kita di masa mendatang,” kata Dadi.
   

Usai pemakaman, Budi, ipar Windri  menjelaskan, pemakaman di Nanga Pinoh ini dilakukan atas kompromi keluarga besar.  Windri awalnya bersikeras kedua anaknya dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.  

Sebaliknya, pihak keluarga Bakus berharap  jenazah Fabian dan Amora dimakamkan di Karangan, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak.

Menurut Budi, atas pertimbangan kedua belah pihak keluarga, akhirnya diputuskan pemakaman dilakukan Nanga Pinoh. Sebab, pihak keluarga Bakus bisa sewaktu-waktu berziarah.
  Atas nama keluarga besar, Budi meminta agar pihak terkait membantu pemulihan kondisi kejiwaan adik iparnya.  

Sebab sampai saat ini,  belum dilakukan pendampingan secara khusus atau menghadirkan psikiater untuk  menangani kejiwaan istri pelaku.
  “Adik saya sampai sekarang masih syok berat. Tidak mau makan dan belum mau bicara. Sekarang dia tinggal bersama kami,” terang Budi.  

Budi menambahkan, pemulihan kejiwaan Windri mestinya menjadi perhatian aparat kepolisian, selain juga harus diusut tuntas penyebab Bakus tega menghabisi kedua anak kandungnya.   Budi mengakui, belum ada langkah dari pihak Polres Melawi untuk menyediakan psikiater bagi Windri. “Kami memang meminta ada bantuan psikiater agar bisa memulihkan kondisi adik kami. Penyembuhan kejiwaan ini tidak mungkin bisa satu dua hari. Sampai sekarang belum ada penanganan serius untuk adik kami,” katanya.    

Tawaran psikiater, lanjut Budi,  justru datang dari pihak Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Melawi dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).     “Kami hanya meminta kapolres lebih memperhatikan kondisi Windri. Belum ada penanganan serius untuk pemulihan. Mestinya ada dukungan moril, karena yang jadi korban kan anak polisi juga,” keluh Budi. (eko/aju/pat)