Pemuda Desa Kalinilam Dilaporkan ke Polres Ketapang dengan Tuduhan Persetubuhan

Regional

Editor sutan Dibaca : 1739

Pemuda Desa Kalinilam Dilaporkan ke Polres Ketapang dengan Tuduhan Persetubuhan
INTEROGASI- RS (19) saat diinterogasi anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Ketapang, Senin (7/3). Pelaku dilaporkan orangtua korban, karena telah menyetubuhi VN (15) sebanyak empat kali. SUARA PEMRED/ THEO BERNADHI
KETAPANG, SP - RS (19) terlihat menyesal, niatnya untuk mempersunting pujaan hatinya kandas, setelah dirinya dilaporkan oleh orangtua sang pacar ke Polres Ketapang, lantaran telah menyetubuhi VN (15) kekasihnya sendiri.

Kanit PPA Polres Ketapang, IPTU Nasran menjelaskan, penangkapan pelaku berawal dari laporan orangtua korban, Rabu (2/3).

"Perbuatan ini diketahui, ketika pelaku mengirim SMS ke orangtua (bapak-red) korban, dan mengaku telah berhubungan badan dengan korban. Dari SMS itulah, orangtua korban marah dan melaporkan hal tersebut," katanya, Senin (7/3).

Setelah mendapat laporan itu, pihaknya langsung memeriksa dan melakukan visum terhadap korban yang tidak lain merupakan kekasih dari pelaku.

 
"Hasil visumnya positif ada bekas atau tanda persetubuhan di bagian kelamin korban. Diketahui korban sendiri saat ini masih duduk di bangku kelas 3 tingkat SMP," jelasnya.

Dari hasil visum tersebut, pihaknya kemudian mengamankan pelaku, Kamis (3/3) di kediamannya di Desa Kalinilam.
Dari pengakuan pelaku, Nasran menjelaskan, bahwa pelaku sengaja mengirim SMS ke orangtua korban, agar orangtua korban dapat menyetujui hubungan keduanya.

"Pertama kali pelaku menyetubuhi korban pada awal Februari di rumah pelaku. Selanjutnya perbuatan itu, dilakukan di rumah korban, itu pengakuan dari pelaku," terangnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi pelaku RS (19) mengaku, bahwa dirinya melakukan hubungan badan dengan korban atas dasar suka sama suka.
“Dia yang pertama mengajak melakukan perbuatan itu, karena tidak ingin pisah dengan saya,” katanya.

Ia juga mengaku, hubungan percintaannya dengan korban ini, tidak disetujui oleh orangtua korban. Bahkan dirinya mendengar informasi, korban akan disekolahkan di luar Ketapang.

"Pacar saya tidak mau, jadi dia minta saya melakukan sesuatu agar tidak pisah. Saat itu, dia ngajak temuan dan berhubungan. Saya sudah bilang risikonya besar. Kemudian saya mengajaknya menikah, dia pun mau," jelasnya.

RS mengaku merasa putus asa, setelah upayanya untuk meyakinkan orangtua korban gagal. Sehingga, dirinya pun nekat memberitahukan apa yang telah ia dan korban lakukan.

"Saya tidak menyangka kalau akhirnya seperti ini. Saya mengirim SMS ke bapaknya agar mengetahui hubungan kami, dengan harapan, agar kami disetujui dan dapat menikah,” ungkapnya.


Akibat perbuatannya, pelaku terancam Pasal 81 Jontu Pasal 82 Undang-Undang No 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ancamannya maksimal 15 tahun. (teo/bob)