Minggu, 17 November 2019


BKSDA Kalbar Gagalkan Penyelundupan Biawak Tak Bertelinga

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 2664
BKSDA Kalbar Gagalkan Penyelundupan Biawak Tak Bertelinga

Biawak Tak Bertelinga (Lanthanotus Borneensin) yang berhasil diamankan BKSDA Kalbar. (ist)

PONTIANAK, SP - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar kembali menggagalkan upaya pengiriman 17 ekor satwa langka jenis reptil yang dikenal dengan nama Biawak Tak Bertelinga (Lanthanotus Borneensin) di Bandara Internasional Supadio.

Meski telah dilindungi oleh Undang-undang, satwa endemik asli Kalimantan ini kerap diburu dan diselundupkan.

Kepala BKSDA Kalbar, Sustyo Iriyono mengungkapkan, pengiriman satwa langka ini diketahui setelah pihak bandara mencurigai adanya barang yang mencurigakan di dalam sebuah kotak kardus mie instan di terminal kargo, Senin (14/3), sekitar pukul 16.30 WIB.

Pihak otoritas bandara bekerjasama dengan BKSDA kemudian melakukan pemeriksaan terhadap kardus tersebut. Dari hasil pemeriksaan, petugas menemukan satwa langka dari famili Lanthanotidae yang hanya ditemui (endemik) di Kalimantan ini dikemas dalam kotak-kotak plastik kecil.

"Telah diamankan 17 satwa reptil yang rencananya akan dikirim dengan tujuan pengiriman kepada seseorang di Batam. Untuk mengelabui petugas, pengirim yang berinisial I asal Pontianak, memalsukan identitas di dalam resi. Dokumen yang seharusnya tertulis satwa liar, namun ditulis sebagai Mie Ramin," jelas Sustyo, Selasa (15/3).

Saat ini, lanjut Sustyo, petugas BKSDA tengah mendalami pengirim paket tersebut. Pihaknya sedang melacak keberadaan pengirim sesuai dengan alamat yang tercantum untuk dapat memberikan keterangan.

“Sesuai Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, penegakan hukum terhadap para pelanggar menjadi keniscayaan,” katanya.

Biawak Tak Bertelinga atau dalam bahasa lokal Biawak Kalimantan (Borneo) dan dalam Bahasa Inggris dinamakan earless monitor lizard ini, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, termasuk dalam daftar satwa liar yang dilindungi dengan nama Varanus borneensis.

Secara klasifikasi ilmiah, satwa ini masuk dalam kingdom animalia, Filum chordata, kelas reptilia, ordo squamata, famili varanoidea, dan masuk dalam Genus Lanthanotus/Varanus. "Harga jual satwa ini di Benua Eropa mahal, mencapai 150 Euro," ungkapnya.

17 satwa langka ini kini diamankan di lokasi small riset milik BKSDA di Toho, Kabupaten Mempawah, dan rencananya akan ditangkarkan untuk dikembangbiakkan. Seperti Arwarna, kata Sustyo, satwa ini adalah hewan yang dilindungi.

Jika memang bisa dikembangbiakkan, tidak akan terjadi lagi kondisi penyelundupan ilegal. "Kita coba kembangbiakkan, nanti indukkan (F1) akan kita tangkarkan, sehingga keturunannya (F2) bisa diperjualbelikan secara legal, tetapi harus tetap sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku" tambahnya.

Kekayaan alam Indonesia lanjut dia harus dijaga dengan upaya pemanfaatan dan dibarengi dengan upaya pelestarian yang sesuai melaIui perlindungan, penangkaran serta perbaikan habitat. “Oleh karena itu tindakan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar (TSL) dan kepemilikan satwa liar dilindungi Undangan-undang untuk kesenangan, harus bisa dihentikan,” katanya.

Sustyo menambahkan, penggagalan penyelundupan satwa langka ini merupakan upaya yang kesekian kalinya dilakukan BKSDA Kalbar, terutama dalam penanganan peredaran tumbuhan dan satwa liar ilegal melalui perusahaan jasa pengiriman (ekspedisi) di bandara. "Kita sudah bekerjasama dengan otoritas di ruang kargo bandara, apabila ada kiriman hewan mencurigakan, akan diperiksa isinya" ungkap Sustyo.

Warga Jerman

Sebelumnya, warga Jerman bernama Holger Pelz, diamankan petugas Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, karena membawa delapan ekor Biawak Tak Bertelinga. Pelz berhasil lolos dari pemeriksaan di Bandara Supadio Pontianak saat membawa satwa ini.

 Tersangka diamankan di pintu 3, Terminal II keberangkatan ke luar negeri, 11 Oktober 2015. “Bisa lolos dari metal detector, karena hewan tersebut direkatkan ke tubuh tersangka. Sialnya, biawak yang disembunyikan dalam kantong kain itu berbunyi saat melewati x-ray,” jelas Sustyo.

Manager Program WFF Kalimantan Barat, Albertus Tjiu, menanggapi serius penangkapan warga Jerman tersebut. Dia mengatakan, spesies ini hanya ditemukan di Borneo. Bahkan di klaim di Sarawak, sehingga namanya menjadi Earless Monitor Lizard.

“Di Kalbar baru-baru ini kami temukan di Kapuas Hulu.” Terkait penyelundupan reptil, Albertus menyatakan, sejak lama reptil menjadi binatang peliharaan seperti ular, iguana, dan tokek dengan negara tujuan terbesar Tiongkok.

Sebut saja ular yang dijadikan konsumsi terkait mitos atau kesehatan. “Jika mengacu pada terminologi satwa endemik, agak sulit untuk dipelihara atau dibudidayakan di luar habitat aslinya. Namun, yang menjadi incaran para pedagang satwa ilegal adalah jenis dilindungi yang bernilai tinggi di pasaran,” katanya.  

Fosil Hidup
Secara alami, satwa ini tidak muncul di siang hari, dan membangun sarang di bawah tanah. Sejak beberapa tahun terakhir, reptil ini mulai populer di seluruh dunia berkat foto-fotonya yang diunduh di media sosial.

Berdasarkan sejumlah literatur, kadal endemik Kalimantan ini memiliki perilaku terbilang unik. Ia hanya aktif malam hari (nokturnal) dan termasuk hewan semiaquatik, yang kadang-kadang hidup di air dan sesekali di darat. Lanthanotus borneensis pertama kali ditemukan pada 1878 oleh Franz Steindachner, ahli zoologi asal Austria.

Semua catatan keberadaan biawak misterius ini merujuk ke Sarawak (Borneo, Malaysia). WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat menyebut, literatur reptil ini ditemukan di Sarawak Museum Journal yang ditulis oleh Robert G. Sprackland, Jr pada 1970.


Biawak Tak Bertelinga tergabung dalam Genus Lanthanotus. Dia masuk dalam famili Lanthanotidae dan superfamili Varanoidea.

Para peneliti menjulukinya fosil hidup lantaran ia masih hidup saat satwa lain seumurannya sudah punah. Sejak tahun 1878 hingga 1961, hanya 12 spesimen yang telah ditemukan dan hanya sekitar 100 dari kadal ini yang pernah dikumpulkan.

Sebagian besar informasi yang dipublikasikan tentang Lanthanotus borneensis hanya berdasarkan laporan observasi perilaku spesimen tunggal yang disimpan di penangkaran dan sedikit saja yang diketahui tentang perilakunya di habitat aslinya.


Ciri umum satwa ini adalah tidak ada lipatan gular, hidung tumpul dan tidak adanya telinga eksternal atau indra pendengaran lain yang terlihat. Panjang tubuhnya bisa mencapai 45 cm hingga 55 cm.

Selain itu, kelopak matanya transparan dan letaknya yang lebih rendah daripada biawak atau kadal jenis lain. Ciri yang paling mudah dilihat adalah kulit luarnya yang dipenuhi dengan gerigi-gerigi seperti pada buaya, yang tersusun secara teratur berbentuk garis mulai dari bagian kepala sampai pada ekornya yang cukup panjang.

Warna kulit hewan ini adalah coklat tua pada bagian atas dan berwarna coklat agak muda pada bagian perutnya. Satwa ini memiliki empat kaki di depan dan belakang, dan di setiap kakinya terdapat lima jari dengan kuku yang tajam. Biawak tak bertelinga merupakan reptil yang berkembangbiak dengan cara bertelur.

Para ahli memperkirakan bahwa rentang populasi biawak tak bertelinga ini mungkin hanya ada di Serawak (Malaysia) dan Kalbar. Meski begitu, kurangnya penelitian dan pengetahuan mengenai satwa misterius ini, termasuk pola penyebaran, dan jumlah populasinya, menyebabkannnya kesulitan memastikan penyebarannya.

Di Kalbar sendiri, selain di Kapuas Hulu, penemuan fosil hidup ini belakangan juga ditemukan di sebuah kebun sawit yang sedang dibangun di hutan Tembawang, Kabupaten Landak. Bukan tidak mungkin, spesies ini akan ditemukan di tempat lain di Kalbar. (yoo/ind)