Kamis, 19 September 2019


Bupati Rupinus: Prioritaskan Pembangunan Infrastruktur di Sekadau

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1590
Bupati Rupinus: Prioritaskan Pembangunan  Infrastruktur di Sekadau

Rupinus, Bupati Sekadau 2015-2020 ketika dilantik Gubernur Kalbar Cornelis, Rabu (17/2) 2016 siang.

Pilkada  Sekadau 2015 dimenangkan pasangan Rupinus dan Aloysius. Keduanya dipercaya oleh masyarakat setempat untuk menahkodai Sekadau periode 2015-2020.
Suksesi ini pun berlangsung mulus.  Tiga pasangan lain yang belum beruntung pun bersikap fair dan mendukung program-program pembangunan Rupinus-Alosyius untuk lima tahun ke depan.

Ketua KPU Sekadau, Gusti Mahmud Buang menyatakan,  tak satu pun pasangan calon di Pilkada Serentak Sekadau 2015 yang menggugat di Mahkamah Konstitusi.
  Bagi Rupinus yang bersama pasangannya diusung oleh partai gabungan ini, kemenangan itu sendiri  merupakan kemenangan masyarakat Sekadau.

Rupinus  pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun kabupaten itu tanpa harus memilah-milih berdasarkan partai politik, suku, ras,  dan agama.
 

Berikut ini wawancara Akhmal Setiadi Musran dari Suara Pemred dengan Rupinus di ruang kerjanya, kompleks Kantor Bupati Sekadau di Sekadau, Jumat (18/3).    

SP:  Pada Februari lalu, Anda dilantik menjadi Bupati Sekadau yang kedua, menggantikan  Simon Petrus. Bagaimana Anda memaknai jabatan sebagai pemimpin rakyat ini?  

Rup: Jabatan ini, barangkali, sudah garis tangan. Saya sebenarnya bercita-cita menjadi tentara. Tapi, saya sadar diri. Tinggi badan saya ini tidak tinggi. Makanya  cita-cita itu tidak saya lanjuti.


SP:   Mayoritas warga  Sekadau memilih Anda karena mereka yakin, Anda bisa membawa perubahan yang signifikan untuk menjadikan Sekadau lebih baik lagi ke depan. Umpamanya, memperbaiki banyak jalan yang masih rusak,membenahi listrik yang byar-pet, dan perlunya perbaikan tingkat kesehatan dan air bersih bagi warga.  Lantas, apa saja prioritas program pembangunan Anda untuk lima tahun ke depan?  

Rup: Program-program ini sudah saya  sampaikan lewat beberapa pertemuan baik di forum, sosialisasi maupun di musrenbang. Masa kepemimpinan saya ini akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur, jembatan, air minum , listrik, dan pertanian, semisal irigasi, sawah, dan cetak sawah. Tentu semua ini kita bangun secara bertahap.
  Kita juga sadar, Sekadau ini luas. Jadi,  masih banyak jalan dan bidang lain yang kondisinya belum baik. Selain itu  juga kita akan memperhatikan aspek kesehatan dan pendidikan, SDM, ketahanan pangan, dan sebagainya.

SP:  Apa saja kira-kira penghambat pembangunan selama ini di Sekadau?  

Rup: Yang utama,  tentu saja anggaran. Ada juga kawasan  tertentu di Sekadau yang susah untuk mencari material untuk pembangunan infrastuktur jalan. Umpamannya di daerah seberang Kapuas dan Belitang. Kondisi jalan-jalan di dua kawasan itu sering becek. Tak sedikit juga masalah di lapangan. Umpamannya masalah sosial. Kita bikin jalan, tapi tak sedikit warga yang menuntut karena lahannya terkena pembangunan jalan itu. Selain itu juga kita sering terkendala masalah  regulasi atau peraturan dan undang-undang.   Masalah lain adalah mengubah sikap mental, budaya, pola pikir,  dan mindset masyarakat kita. Umpamannya,  petani masih suka berladang secara berpindah-pindah, ladang dibakar,  dan sebagainya. Dan,  ini tentu pelan-pelan kita ubah cara-caranya  supaya lebih baik lagi. 

SP:  Pemerintah Daerah Kabupaten Sekadau selama ini belum mampu mendulang pendapatan asli daerah atau PAD dalam jumlah yang besar untuk pembangunan daerah. Bagaimana menurut Anda?  

Rup: Sumber PAD di Sekadau sebenarnya banyak. Umpamanya,  retribusi perusahaan, PBB, pajak, rumah makan, jual beli, dan sebagainya. Hanya saja, memang terbilang susah untuk meningkatkan PAD sebanyak-banyaknya.  Daerah kita ini kan agraris. Beda dengan daerah industri yang bisa menjamin peningkatan PAD-nya. Yang pasti, kita tentu saja tetap berupaya meningkatkan PAD  dengan menggali potensi-potensi yang ada.

SP:  Lantas, apa kiat Anda dalam mengantisipasi risiko bocornya setoran PAD begitu disetor ke kas daerah?  

Rup: Jika ada yang bocor,  tentu harus ada pengawasan. Kita sudah melakukan pengawasan, seperti dari inspektorat, apalagi BPK juga ikut terlibat. Permasalahannya  saat ini adalah kejujuran dari kalangan wajib pajak sendiri, seperti pemilik  rumah makan, hotel, dan lainnya. Menurut saya,  kebocoran pajak itu terkait dengan perilaku pihak wajib pajak.


SP: Apa saja kiat Anda sehingga mampu meraih karier puncak di Sekadau ini?    

Rup: Menurut saya,  karir politik bisa dipelajari dari berbagai pihak,  seperti dari teman-teman politikus atau dari media. Siapa saja termasuk saya bisa juga langsung belajar dari kalangan senior, seperti Pak Simon Petrus, Gubernur Kalbar, termasuk dari wakil saya, Pak Aloysius. Jadi, dari mereka itulah saya bisa memahami politik. Memang, saya ini bukan orang partai. Tapi selama menjadi birokrat, mau tak mau  saya harus tahu tentang politik.


SP: 
Pasca pemekaran Sekadaudari Sanggau, apakah Anda optimis daerah ini bisa lebih baik atau tidak dari daerah lain?  
Rup: Soal ini tentu saja bisa dinilai oleh semua warga Sekadau, asalkan penilaian ini secara objektif tanpa ada kepentingan. Kepala pemerintahan lalu sudah berusaha melakukan yang terbaik. Terbukti misalnya, meningkatnya kualitas pelayanan di rumah sakit,  warga bisa merujuk ke Sekadau. Juga membaiknya pelayanan publik, seperti pembuatan KTP, akta, perizinan, dan lainnya.
  Masih banyak lagi pembangunan yang sudah jalan lewat kinerja bupati sebelumnya. Seperti jalan di depan Hotel Multi yang sudah ditinggikan sehingga kawasan itu tidak pernah lagi banjir. Juga jalan yang dilebarkan di kawasan Sekadau kota.

SP: Mengenai kancah politik nasional.  Komisi II DPR RI sedang ngebut menyelesaikan revisi UU Pilkada Nomor 8 Tahun 2015. Salah satu agendanya,  memperberat syarat pengajuan calon independen di pilkada serentak.  Mengacu pada UU ini, syaratnya  dianggap terlalu ringan oleh parpol-parpol di dewan itu. Calon independen atau calon perorangan minimal mengumpulkan 6,5 sampai 10 persen jumlah pemilih tetap.  Bagaimana menurut Anda?  

Rup: Soal wacana menaikkan persentasi pemilih tetap sebagai syarat bagi calon independen atau perorangan itu, saya kira ini sebagai dinamika demokrasi di Indonesia. Yang pasti, antara calon kepala daerah yang diusung dan parpol pengusung, setahu saya tidak ada mahar politik. Ini sudah saya buktikan sejak saya menjadi Wakil Bupati Sekadau.  Setelah duduk di pemerintahan, hubungan kita dengan parpol tidak diwarnai ikatan yang masif.


SP:
Lantas, selama masih menjabat wakil dari Bupati Simon Petrus, apa saja program pembangunan yang sudah dirasakan oleh masyarakat?  

Rup: Beberapa program besar di masa pemerintahan lalu sudah dirasakan dan bermanfaat bagi masyarakat. Umpamanya,  air bersih Meragun, jalan poros desa ke kecamatan, di bidang kesehatan, yakni pelayanan rumah sakit. Juga di sektor pendidikan, seperti puskesmas kejiwaaan.(pat)