Bupati Mempawah Prihatin Angka Kematian Ibu dan Bayi

Regional

Editor sutan Dibaca : 1496

Bupati Mempawah Prihatin Angka Kematian Ibu dan Bayi
Sejumlah Biang Kampung (dukun beranak) membacakan deklarasi kerja sama dengan Bidan dan Kepala Puskesmas di kabupaten Gorontalo, Selasa (8/3). Deklarasi tersebut sebagai bentuk kerja sama untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu melahirkan di kabupa
MEMPAWAH, SP – Data Dinas Kesehatan Kabupaten Mempawah yang mencatat sebanyak 12 orang ibu Hamil, bersalin dan masa nifas meninggal serta 29 orang bayi berusia 0-28 hari meninggal akibat asfiksia dan berat badan lahir rendah membuat Bupati Mempawah, Ria Norsan prihatin.

Dirinya pun mengajak semua pemangku kepentingan terkait untuk komit dengan tugas, pokok dan fungsi masing-masing.
"Semua pemangku kepentingan harus memberikan pelayanan terbaik sebagai bagian upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Mempawah," ungkap Norsan saat menghadiri Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Wisma Chandramidi, Mempawah, Rabu (23/3).

Norsan mengatakan, dengan penanganan yang baik dan tepat dari bidan, generasi yang dihasilkan akan sanggup membawa Kabupaten Mempawah menjadi daerah yang berdaya saing tinggi dan tidak tertinggal dengan kabupaten lain.


Jumlah ibu hamil ,bersalin dan masa nifas yang meninggal diharapkan dapat ditekan dan ditiadakan. Begitu pula dengan jumlah bayi yang meninggal akibat asfiksia dan berat badan lahir rendah.

Seperti diketahui, Asfiksia merupakan kegagalan bayi baru lahir yang bernapas secara spontan dan teratur yang berdampak gangguan pada metabolisme tubuhnya.
"Meski dalam hal pelayanan bidan telah secara aktif memberikan sentuhan dan kontribusi maksimal, namun masih diperlukan sinergitas kebijakan yang komprehensif guna memberikan ruang partisipasi yang lebih luas bagi tenaga bidan untuk terus berkarya,” kata Norsan.

Sementara Ketua Pengurus Daerah IBI Kalimantan Barat, Yusniati mengatakan, bidan memiliki tugas penting untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan anak dalam mempersiapkan generasi yang berkualitas.

“Hal ini dimulai dari dini sejak sebelum hamil, pengawasan selama hamil, pertolongan persalinan, asuhan bayi baru lahir dan balita berkualitas, dan intervensi dini tumbuh-kembang balita yang akan menentukan kualitas anak sebagai penerus generasi masa depan,” ungkap Yusniati.

Menurut Yusniati, bidan merupakan satu di antara profesi kesehatan strategis. Karena bidan mengawal seribu hari pertama kehidupan manusia. Makna seribu hari yakni sembilan bulan dalam kandungan dan dua tahun di luar kandungan.

Pada seribu hari yang disebut golden period atau masa emas itu bidan bertugas mengawal pertumbuhan dan perkembangan seorang anak manusia,” kata Yusniati.

Yusniati mengatakan, anggota IBI di Kalimantan Barat mencapai 3.593 bidan yang tersebar di rumah sakit, puskesmas, institusi pendidikan, dinas kesehatan, puskesmas pembantu,  pondok bersalin desa, dan pos kesehatan desa.

Selain itu juga ada yang berpraktik mandiri sebanyak 184 bidan. Di luar itu juga ada bidan yang sudah tidak bekerja
.
"Jadi, untuk penambahan anggota IBI di Kalbar, pertambahannya sangat cepat," kata Yusniati.

Yusniati meminta bidan juga harus mampu melaksanakan pelayanan keluarga berencana dan deteksi dini penyakit maternal, perinatal, dan neonatal yang memerlukan pembinaan klinis serta manajemen kesehatan ibu dan anak yang baik.

"Agar cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan serta dipertahankan bila sudah sesuai standar yang diharapkan," kata Yusniati. (ben/bah)