Bencana Banjir di Kalbar Pengaruhi Persiapan UN

Regional

Editor sutan Dibaca : 1228

Bencana  Banjir di Kalbar Pengaruhi Persiapan UN
ILUSTRASI- Ujian Nasional (smkknbi.sch.id)
PONTIANAK, SP - Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melaksanakan Ujian Nasional (UN) serentak, tingkat SMA/MA mulai 4-6 April 2016, mestinya dikaji ulang.
Alasannya, tidak semua daerah selama setahun penuh, melakukan pembelajaran kepada peserta didik.
 

Di Kalbar, hampir sebagian daerah justru dikepung banjir. Banyak siswa sekolah justru libur tak bisa mengikuti pelajaran persiapan UN. Harus ada kompensasi dari pemerintah, mengatasi hal tersebut.  

Seperti kita ketahui bersama, selama pertengahan Februari 2016, banjir terjadi merata di berbagai wilayah di Kalbar.

Banjir terjadi di Kabupaten Sambas, Bengkayang, Landak, Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, Ketapang, dan lainnya. 
 

Di Desa Semangak dan Sepantai, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, banjir mengenangi 678 rumah dari 781 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 2.828 jiwa.

Banjir setinggi satu hingga dua meter, dan terjadi hampir tiga pekan tersebut, membuat pihak sekolah meliburkan muridnya.
  Pihak pemerintah pun memerintahkan sekolah untuk libur.

“Jika memang banjir semakin parah, kami instruksikan kepada pihak sekolah saat itu untuk diliburkan,”  kata Uray Santosa, Tim Tanggap Darurat Banjir Kabupaten Sambas, saat itu.
 

Tambahan Belajar

Sebanyak 27 pelajar SMK Negeri 1 Sejangkung, Kabupaten Sambas, mendapat pelajaran tambahan dalam rangka persiapan mereka menghadapi UN. Pelajaran tambahan dilakukan, karena pada saat banjir melanda Kecamatan Sejangkung pada Februari lalu, membuat siswa-siswi terpaksa diliburkan.  

“Peserta Ujian Nasional yang menjadi korban banjir, tetap kita ikutkan Ujian Nasional. Mengenai ketertinggalan mata pelajaran, kita lakukan pelajaran tambahan di luar jam sekolah,” kata Uray Iskandar,

Ketua Panitia Ujian Nasional Kabupaten Sambas, saat ditemui Suara Pemred, Rabu (30/3).   Saat ada siswa-siswi peserta UN menjadi korban banjir, pihaknya langsung berkordinasi dengan kepala dan komite sekolah, membantu murid korban banjir.

“Murid perlu mendapat perhatian, karena saat banjir mereka terpaksa diliburkan, untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan,” kata Uray Iskandar.  

Sampai saat ini, tenaga guru dan kepala sekolah masih memberikan jam pelajaran tambahan agar para siswa peserta ujian yang menjadi korban banjir bisa mengejar ketertinggalan mereka, sebab hampir tiga pekan para siswa tersebut harus diliburkan akibat musibah banjir melanda sekolah mereka dan pemberian les atau jam pelajaran tambahan untuk siswa  korban banjir tidak dibebankan biaya,  

“Diberikannya tambahan jam pelajaran untuk teknisnya diatur oleh sekolah yang bersangkutan dengan cara dilanjutkan setelah usai jam pelajaran selesai, atau dilakukan pada sore hari,” kata Uray Iskandar. 


Sementara Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sambas, Misni Safari mengingatkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Sambas, memberikan perhatian pendidikan secara serius bagi para siswa, sehingga berbagai persiapan menghadapi UN harus dilakukan jauh hari sebelumnya.  

Apalagi kondisi saat ini, akibat banjir beberapa sekolah terganggu aktivitasnya dan  dikhawatirkan banyak siswa ketinggalan pelajaran. 
“Saya berharap seluruh siswa yang mengikuti Ujian Nasional di Kabupaten Sambas, bisa mengerjakan soal dengan baik, tidak ada lagi kesusahan di raut wajah mereka pada saat mengisi soal,” tuturnya.

Kesempatan Sama

Satu di antara pemerhati pendidikan Kalbar, Subro mengatakan, guna mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam rangka persiapan menghadapi UN dalam waktu dekat ini.

“Pemerintah daerah (pemda) atau instansi terkait, harus memastikan siswa bisa mengikuti ujian dengan tenang,” katanya kepada Suara Pemred, Rabu (30/3).
Jika terdapat daerah yang dinyatakan rawan bencana seperti banjir, pemda mesti menyiapkan fasilitas pendukung sedini mungkin.
"Harus dipersiapkan. Tidak hanya dalam kondisi banjir, siswa yang didapati sakit, panitia UN mesti mendatangi siswa tersebut," ujar satu di antara pengelola program Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Kalbar.

Adapun daerah yang mengalami banjir, pihak terkait hendaknya menyiapkan tenda atau bangunan darurat, untuk mengantisipasi kejadian tersebut. “Yang terpenting, upaya pihak terkait untuk memastikan, siswa mendapatkan haknya untuk mengikuti UN meski daerahnya mengalami bencana," tuturnya.

Sementara, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan berharap para orangtua siswa tidak membuat suasana yang menegangkan jelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2016.

"Jangan buat suasana menegangkan untuk anak-anak, biasa saja sampaikan kepada anak-anak bahwa ini ujian normal," kata Anies.

Menurutnya, setiap orang pasti menjalani ujian hidupnya masing-masing, misalnya ada ujian hidup yang diselenggarakan bersamaan, namun ada pula ujian hidup yang dijalani sendiri-sendiri karena itu semua adalah perjalanan yang normal.

"Jadi, buat orang tua jangan buat suasana yang menegangkan, buat anak-anak juga jalani ini dengan tenang dan buat penyelenggara jaga integritas," ucap Anies.

Ia juga mengatakan bahwa ujian harus dijalani dengan kejujuran dan ujian dipakai untuk mengetahui sampai sejauh mana pencapaian yang didapat.

"Jadi, itu lah tujuan kita berkaca karena tujuan ujian salah satunya untuk berkaca di mana letak kekurangan dan kelebihan kita," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa ujian harus dijalani dengan jujur dan  dipakai untuk mengetahui sampai sejauh mana pencapaian siswa. "Jadi, itulah tujuan kita berkaca karena tujuan ujian salah satunya untuk berkaca di mana letak kekurangan dan kelebihan kita," ujarnya.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Sutan Adil Hendra terus mendorong langkah Kemendikbud selaku penyelenggara UN, untuk terus menambah jumlah sekolah peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), mengingat komitmen kementerian tersebut menuntaskan seluruh sekolah menggunakan sistem UNBK pada tahun 2018.

"Walaupun saya melihat bahwa kita memang sudah terlambat untuk mengunnakan ujian berbasis komputer, namun langkah yang diambil Kemendikbud, kita perlu berikan apresiasi dan dorongan, agar setiap tahunnya, jumlah sekolah yang menggunakan UNBK meningkat," kata Sutan.

UN tahun ini, setidaknya diikuti oleh 7,2 juta murid di jenjang SMP/Mts hingga SMA/SMK/MA. Sejumlah 927 ribu murid yang tersebar di 4.402 sekolah memakai sistem UNBK.

Pemadaman listrik yang kerap terjadi di berbagai daerah, diharapkan tidak mengganggu pelaksanaan UNBK. Untuk itu, ia minta pihak penyelenggara UN berkoordinasi dengan pihak penyedia infrastruktur listrik, agar tidak terjadi pemadaman.
 

Kepala Pusat Pendidikan Kemendikbud, Nizam mengatakan, karena jumlah komputer masih terbatas, tahun ini rasio komputer dan peserta sebesar 1:5. Ia berjanji, ke depannya, lebih banyak yang menggunakan UNBK.

Mata pelajaran yang diujikan pada UN MA adalah: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Mata pelajaran sesuai jurusan. Untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), mata pelajaran yang diujikan meliputi: Biologi, Fisika, dan Kimia. Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS): Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi.

Sedangkan untuk jurusan Bahasa dan Budaya, mata pelajaran yang di-UN kan adalah Sastra Indonesia/Bahasa dan Sastra Indonesia, Antropologi, dan Bahasa Asing (Bahasa Arab, Jepang, Jerman, Prancis, dan Mandarin). (umr/nov/ant/det/cnn/lis)