Cornelis: MADN Perang terhadap Narkoba

Regional

Editor sutan Dibaca : 1524

Cornelis: MADN Perang terhadap Narkoba
Presiden MADN, Cornelis (kanan) pada acara pengukuhan pengurus lengkap MADN periode 2015–2020 di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (7/4). (SUARA PEMRED/ YODI)
PONTIANAK, SP - Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) secara organisasional menyatakan perang terhadap narkoba. Alasannya, narkoba merupakan tindak kejahatan kemanusiaan yang memiliki daya rusak luar biasa, terhadap generasi penerus bangsa Indonesia.  

Presiden MADN, Cornelis mengatakan hal itu, pada acara pengukuhan pengurus lengkap MADN periode 2015–2020 di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (7/4). Hadir dalam pengukuhan tersebut, Agustinus Teras Narang, Presiden MADN 2005 – 2015, dan mantan Gubernur Kalimantan Tengah, periode 2005 – 2015.  

Seluruh pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Barat, Tengah, Timur, Selatan dan Utara, serta perwakilan Suku Dayak dari Negara Bagian Sarawak dan Negara Bagian Sabah, Federasi Malaysia, hadir dalam pengukuhan.  

“Dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia, Provinsi Kalimantan Barat menderita peredaran narkoba paling parah, karena selalu dipasok dari Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia,” kata Cornelis.  

Cornelis menyatakan, posisi Provinsi Kalbar yang berbatasan darat secara terbuka dengan Malaysia, membuat jaringan narkoba bisa dengan mudah memasok kebutuhan para pencandu dan pengedar.  

“Seluruh elemen masyarakat Suku Dayak di Pulau Kalimantan, harus bersatu mendukung pemerintah menghentikan peredaran narkoba di Kalimantan, karena bisa merusak generasi penerus bangsa Indonesia,” ungkap Cornelis.  

Kepada Suara Pemred, Cornelis mengatakan, Indonesia sekarang masuk kategori darurat dan harus perang terhadap narkotika. Dimana sekitar 5,9 juta jiwa masyarakatnya positif pengguna.
 

Menurutnya, secara umum Indonesia harus menyatakan perang terhadap narkoba. Sebab, dalam waktu satu tahun terakhir, sedikitnya 2,6 ton narkoba jenis sabu-sabu disita Badan Narkotika Nasional (BNN).  

Karena itu, dari perhitungan yang dilakukan, korban meninggal dunia akibat ketergantungan narkotika, saat ini sekitar 30-40 orang dalam sehari. Sebab, dalam kurun waktu lima bulan, terhitung sejak Juni–November 2015, angka pengguna ketergantungan narkotika naik drastis, dari 4,2 juta jiwa menjadi 5,9 juta.  

“Narkoba ini pembunuh massal. Sebab, dampak dari penggunaannya sangat fatal karena kerusakan yang ditimbulkannya permanen. Ini hasil penelitian pihak medis,” ujar Cornelis.  

Kategori paling banyak menggunakan narkotika saat ini, mulai dari tingkat Sekolah Menengah pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sebab, para bandar narkoba telah mendoktrin dan memberikan hegemoni kepada kaula muda, untuk selalu menggunakannya.   

“Hasil observasi BNN, anak-anak yang duduk di bangku SMP dan SMA, harus menggunakan narkoba, kalau tidak itu namanya tidak gaul,” ujarnya.  

Karenanya, mereka berlomba-lomba menggunakan narkoba. Bahkan, bandar narkoba sudah menyusup hingga hingga ke tingkat Taman Kanak-kanak (TK).  

Mantan Gubernur Kalimantan Tengah,  Teras Narang mengatakan, heran dalam dua tahun terakhir narkoba bisa dengan mudah merambah hingga ke pedalaman di Kalimantan, termasuk di Provinsi Kalimantan Tengah.  

Teras Narang menuturkan, peredaran narkoba harus dilawan dengan kekuatan penuh, karena bisa merusak hingga ke sendi-sendi kehidupan masyarakat di Kalimantan.  

Harus Dukung

Ketua DAD Provinsi Kalimantan Tengah, Haji Ahmad Sabran mengatakan, sudah merupakan kewajiban masyarakat Suku Dayak di Kalimantan mendukung pemerintah, dalam memberantas narkoba hingga ke akar-akarnya. 
 “Pemerintah supaya bertindak lebih keras dalam menghukum pengedar narkoba, karena daya rusaknya sangat luar biasa,” kata Sabran.  

Bupati Sanggau, Paolus Hadi mengatakan, wilayahnya memang berbatasan langsung dengan negara tetangga, dan diwaspadai sebagai pintu masuk narkoba. Namun, saat ini sudah ada Petugas Lintas Batas Negara yang terdiri dari imigrasi, bea cukai dan kepolisian yang mengawasi daerah itu.
 

“Kita tentu berharap sekarang ini sudah diperkuat petugas gabungan, khususnya di Entikong. Semakin disetarakan lebih maksimal termasuk peralatannya,” ujar Paolus.  

Dari sisi pemerintah, Paolus baru saja melakukan tes urine terhadap semua pejabat di pemerintahan Kabupaten Sanggau. Hal itu dilakukan, selain untuk pemeriksaan, juga memberi contoh dan memulai perang dengan narkoba dari diri sendiri.  

“Kita memang mau lihat sejauh mana kita sebagai penyelenggara negara ini, supaya bisa berbicara kepada orang lain. Itu yang sejauh ini sudah kita lakukan,” kata Paolus. 

 Ia meyakini, sebelum mengajak orang lain, memulai dari diri sendiri adalah sesuatu yang lebih baik. Dengan begitu, ada dasar bagi siapa saja untuk mengajak orang memerangi narkoba.

Sebelumnya, kampanye anti narkoba gencar mereka lakukan.   “Tentu sekarang kita sudah punya alat, negara ada di dalamnya. Kalau masih saja terjadi marak peredaran narkoba, mungkin dari sisi peralatan kita lemah atau lainnya,” katanya menegaskan.  

Bupati  Landak, Adrianus Asia menegaskan, untuk pemberantasan narkoba, terlebih dahulu Aparatur Sipil Negara (ASN) memberikan contoh bagi masyarakat.   Paling tidak, seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) menghindari diri dari narkoba.

Kalau terbukti narkoba, mesti ditindak sesuai ketentuan yang berlaku. Apabila seseorang sudah masuk dalam jaringan itu, akan tahu sendiri konsekuensinya.
  “Narkoba harus dijadikan musuh bersama. Tidak boleh lengah. Lapor aparat keamanan terdekat, jika ada orang di sekitar kita diduga mengkonsumsi atau pengedar narkoba,” kata Adrianus.  

Gereja Dukung
Gereja Katolik mendukung MADN menyatakan perang terhadap narkoba di Kalimantan, karena merupakan kejahatan kemanusiaan luar biasa, lantaran merusak generasi penerus Gereja dan Bangsa Indonesia. Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr menyatakan, dua tahun lalu Keuskupan Agung Pontianak, sudah mengeluarkan Surat Gembala.

“Perlunya langkah terpadu di dalam memberantas narkoba di Kalimantan,” kata Uskup
Agustinus.

Menurutnya, semua kekuatan di internal Gereja Katolik harus dikerahkan secara maksimal, mendukung Pemerintah menyatakan perang terhadap narkoba. Uskup mengatakan, dibutuhkan sebuah gerakan massal masyarakat di Kalimantan, dalam memberantas peredaran narkoba.
“Gereja Katolik harus terlibat secara aktif,” ujarnya.

Misalnya, menggelar penyuluhan dan kotbah setiap kali misa hari minggu. Gereja mesti mengingatkan umat beriman tidak terjebak dalam mengkonsumsi atau pengedar narkoba, karena merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan sangat serius.

“Pemakai narkoba jelas tak berguna bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Tak hanya menghabiskan harta keluarga, para pencandu narkoba juga melakukan berbagai kejahatan yang meresahkan masyarakat,” ungkap Agustinus. 

Diungkapkan Agustinus Agus, pengguna narkoba yang masih sekolah atau kuliah pasti tak berprestasi. Mereka sering bolos dan tak mampu menyerap secara maksimal materi yang diberikan guru atau dosen, serta sedikit umat Katolik terjerumus di dalam mengkonsumsi narkoba.(bls/del/umr/ang/aju/lis)