Jaslian, Warga Kabupaten Kayong Utara, Kalbar Berniat Jual Ginjal

Regional

Editor sutan Dibaca : 1599

Jaslian, Warga Kabupaten Kayong Utara, Kalbar  Berniat Jual Ginjal
Jaslian sedang menggendong anaknya, Irvan Daus penderita tumor otak .(ist)
SUKADANA, SP – Jaslian (36), Warga Dusun Tanjung Gunung, RT 6/RW 3, Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara menawarkan ginjalnya kepada pembeli, guna membiayai pengobatan anaknya, Irvan Daus (14) yang menderita tumor otak, sejak Agustus 2015.

 
Ia berpikir sudah tak ada cara lain. Semua yang dimilikinya sudah dijual untuk biaya pengobatan. Tak ada yang tersisa, sementara kondisi anaknya masih sakit dan tak bisa melakukan apa pun.

 “Semua harta benda sudah saya jual. Rumah yang saya tepati juga sudah saya gadaikan demi mengobati anak saya,” ujar Jaslian menceritakan kesulitannya dengan mata berkaca-kaca, Senin (25/4).

Hingga saat ini, Irvan Daus belum dapat bergerak seperti biasa. Ia hanya terbaring di tempat tidur. Makan dan duduk harus dibantu. Seperti diberitakan sebelumnya, Jaslian sempat membawa sang anak berobat ke Pontianak. Ia membawa sang anak ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso di Pontianak.

Namun, setibanya Jaslian di RSUD Soedarso, Jaslian tidak ditangani dengan baik. Ia pindah ke Rumah Sakit Santo (RSS) Antonius Pontianak. “Saya memang memiliki BPJS. Namun, saat itu saya tidak mengetahui tata cara berobat menggunakan BPJS. Saya ke Rumah Sakit Soedarso namun tidak ditanggapi,” ujarnya.

Ketika diperiksa di RSS Antonius, dokter memberitahu bahwa Irvan Daus mengidap penyakit tumor di kepala. Pihak RSS Antonius menyarankan kepada Jaslian, membawa sang anak ke RS Promedika, karena pihak RSS Antonius tidak memiliki alat untuk operasi tumor otak. Di RS Promedika, operasi dilakukan dr Jhon Hards. Dia dokter PNS. Sebelumnya juga pernah praktik di RSS Antonius. John Hards satu-satunya dokter syaraf di Kalbar.

Berdasarkan keterangan dr Jhon Hards kepada Jaslian, dokter menjanjikan Irvan Daus akan sembuh total, atau normal kembali pada waktu 1 atau 2 minggu.

 
“Tapi kenyataannya sampai sekarang memasuki delapan bulan, Irvan Daus belum normal seperti biasa,” jelas Jaslian.

 Untuk biaya pengobatan rumah sakit dan hidup selama mengobati anaknya di Pontianak, Jaslian menghabiskan uang sekitar Rp 70 juta. Uang itu untuk biaya pengobatan, makan dan tinggal di Pontianak. Dia masih hutang Rp 30 juta untuk biaya pengobatan itu.

 Untuk pengobatan selanjutnya, Jaslian akan membawa Irvan Daus ke Klinik Pengobatan Alternatif di Pontianak. Klinik tersebut menjanjikan Irvan Daus bisa sembuh total, dan butuh biaya sekitar Rp 20 juta. Karena tak ada uang lagi, Jaslian berniat menjual ginjalnya untuk biaya pengobatan, dan membayar hutangnnya selama mengobati Irvan Daus.

Ia berkata, tidak tahu bagaimana cara menjual ginjal dan harus ke siapa. Tapi, dari tayangan yang pernah dilihatnya di televisi, menjual ginjal harganya bisa mahal.
“Saya tidak tahu resiko menjual ginjal. Jangankan ginjal, nyawa pun saya rela kalau memang bisa dijual untuk kesembuhan anak saya. Umurnya masih muda, dan mungkin kehidupannya lebih baik dari saya,” ujarnya dengan tegar.

Jalan Lain


Ketua DPRD Kayong Utara, M Sukardi menyayangkan adanya warga yang berniat menjual ginjalnya, untuk membiayai kesembuhan sang anak. Sukardi menilai aksi yang dilakukan orangtua ini tentu tidak baik, karena akan membahayakan jiwa sang ayah juga. Terkait keluhan warga ini, dirinya berharap pemerintah daerah, melalui dinas terkait dapat mencarikan jalan keluar yang lebih baik, dari pada harus mengorbankan ginjal.

“Saya berharap sih warga itu, (Jaslian) jangan menjual ginjal. Kita mengimbau juga kepada pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati agar dapat memperhatikan ini. Apalagi ini masyarakat kita, warga Kayong Utara,” kata Sukardi.   

Menurutnya, saat ini pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) memang masih banyak dikeluhkan masyarakat. Terlebih ada beberapa rumah sakit yang tidak melayani BPJS. Kalaupun yang melayani BPJS, banyak menjadi keluhan masyarakat.
Dirinya berharap, pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat segera merespon hal ini, sehingga tidak ada kasus warga Kayong Utara yang menjual ginjalnya untuk kesembuhan anaknya.

“Banyak warga kita yang mengeluhkan pelayanan BPJS, masih enak dulu Kayong Utara masih kesehatan gratis dengan menggunakan Jamkesda,” ujarnya.
Menurutnya, sekarang pelayanan kesehatan dikembalikan ke pemerintah daerah. Tentunya dinas terkait harus jemput bola. “Jangan sampai ada warga kita yang ingin jual ginjal, terlalu ekstrim kedengarannya,” kata Sukardi.

Mohon Pemerintah
Berdasarkan pengakuan dari Jalius, ia pernah mengajukan proposal bantuan dana kepada Bupati, Kabupaten Kayong Utara. Namun, hasilnya tidak seperti yang diimpikan. “Saya hanya ingin bertanya, apakah saya selaku masyarakat yang miskin, tidak layak  untuk mendapatkan bantuan dana pengobatan anak saya dari pemerintahan Kayong Utara,” ujarnya.

Sebelum ada yang membeli ginjalnya, ia juga memohon kepada Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis untuk memberikan bantuan dana kepada pengobatan Irvan Daus, agar dia bisa berobat sampai sembuh dan normal kembali.

 Jalius pernah berkeliling membawa surat pengantar Kepala Desa Sejahtera dan Dinas Sosial Kabupaten Kayong Utara, membawa map yang berisi berkas dan bukti jika dirnya memerlukan bantuan untuk biaya berobat.   “Saya juga mengucapkan terima kasih, atas bantuan dari para dermawan, yang telah peduli. Mungkin ada kisaran satu juta uang yang terkumpul dari para dermawan,” ujarnya.  

 Uang itu digunakan untuk membeli makanan sehari-hari, dan keperluan anak selama pengobatan pertama di Pontianak. Karena merawat dan membawa anaknya berobat, ia tidak dapat bekerja lagi.   Bagi masyarakat yang ingin membantu meringankan biaya pengobatan Irvan Daus, bisa membantu lewat Bank Rakyat Indonesia (BRI) Sukadana, nomor rekening 4811 01 006704 53 4, atas nama Wina. Atau bisa menghubungi langsung Jaslian di nomor, 0812 5386 5299. (ble/lis)