1.068 kasus, Kalbar Masih Berstatus KLB Rabies

Regional

Editor sutan Dibaca : 1420

1.068 kasus, Kalbar Masih Berstatus KLB Rabies
Petugas vaksinasi sedang menyuntikkan vaksin kepada anak anjing dalam sosialisasi edukasi penanggulangan rabies, di Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi. (Suara Pemred/Eko Susilo)
NANGA PINOH, SP – Kasus rabies, telah menyebar di separuh kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) provinsi mencatat, 1.068 kasus gigitan anjing di tujuh kabupaten.

Di antaranya Ketapang, Melawi, Sintang, Kapuas Hulu, Kayong Utara, serta Landak dan Bengkayang.  Kasus yang pertama muncul di Kecamatan Manis Mata, Ketapang.

Pada medio September 2014 silam, menyebabkan 19 warga meninggal dunia.
Berkaca dari kasus tersebut, pemerintah pusat melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Kementan serta pemprov dan pemkab, terus mensosialisasikan penanganan rabies, melalui vaksinasi terhadap hewan pembawa rabies (HPR) di seluruh kabupaten yang terdampak.

Kepala Disnakeswan Provinsi Kalbar, Abdul Manaf yang hadir dalam kegiatan sosialisasi edukasi zoonosis rabies di desa Batu Buil, Kecamatan Belimbing, Melawi, Rabu (27/4). Mengungkapkan tingginya kasus tersebut, akibat masih rendahnya kesadaran warga menjaga lalu lintas hewan. “Ada kasus seperti di Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang sampai 23 orang. Di sana kasus gigitan meningkat karena ada laporan warga yang membawa anjing dari daerah lain yang sudah tertular rabies,” katanya.

Di sisi lain menurutnya, terbukanya akses di daerah perbatasan Kalbar dan Kalteng juga menjadi salah satu pemicu kasus ini. Sebab provinsi tetangga itu, memiliki kasus yang terbilang tinggi. Selain itu, lalu lintas hewan dan orang yang melintasi perbatasan ini juga tidak terlalu diperhatikan.

“Rabies di Kalbar ini masuk dari Manis Mata di Ketapang dan Sokan di Melawi pada September 2014. Kemudian pada 2016, masuk ke Kecamatan Teriak, Bengkayang. Infonya juga, karena ada orang bawa anjing dari daerah terpapar rabies ke sana,” jelasnya.

Pihak pemprov, lanjut Manaf, juga sudah mengoptimalkan vaksinasi terhadap ribuan HPR di seluruh kabupaten. Tahun ini, bahkan Disnakeswan menyiapkan 34.400 dosis vaksin untuk anjing dan HPR lain. Petugas yang sudah dilatih juga siap untuk turun ke lapangan.

Nantinya, mereka akan menangani rabies sesuai dengan SOP. “Hanya persoalannya, kita tidak mendapatkan database jumlah anjing di setiap daerah. Sehingga membawa masalah dalam pertanggung jawaban vaksinnya,” papar Manaf.

Dia menyampaikan, anjing peliharaan atau anjing liar harus mendapatkan vaksinasi anti rabies setiap tahun sekali. Penanganan melalui vaksinasi HPR, memerlukan partisipasi aktif. Warga mesti menyadari bahayanya. Dan tidak lagi membawa hewan peliharaannya keluar dari daerah asal.

“Kita juga sudah meminta agar petugas lapangan mensosialisasikannya, sebelum memvaksin. Jangan sampai nanti ada komplain, atau sampai berujung hukum adat,” ujarnya.

Staf Direktorat Kesmavet, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Boethdy Angkasa mengungkapkan, saat ini ada 27 provinsi di Indonesia yang belum bebas dari penyakit ini. Kasus tertinggi di NTT. Khusus Kalbar, penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies juga masih diperpanjang hingga Juni 2016.

“Kami hanya berharap warga dan pemda bisa berkomitmen menanggulanginya. Partisipasi sangat diperlukan, agar bagaimana cara memelihara anjing yang baik dan rutin vaksinasi sehingga penyebaran rabies tidak meluas ke daerah lain,” harapnya.

Menurut Boethdy, Kalbar pernah mendapat sertifikat bebas penyakit ini. Maka itu dia meyakini ke depan daerah ini mampu mewujudkan hal tersebut kembali. Wilayah yang terjangkit harus terus ditangani. Jadwal vaksinasi juga harus mendapat respon dan dukungan.

Sosialisasi ini memberikan penyadaran bahaya rabies bila tidak ditangani dan mesti ada komitmen bersama. Dalam penanganan di lapangan, pihak provinsi sudah menerjunkan petugas vaksinasi bersama aparat. Warga diminta kerjasama untuk memberitahukan warga lainnya.

Kabid Peternakan Distankannak Melawi, Nining Yuliati mengungkapkan, vaksinasi di daerahnya ini terus berjalan. Bahkan sejak sebelum kasus ini muncul. Vaksinasi dilakukan di desa yang berbatasan dengan Kalteng. Namun, sejak kasus muncul, vaksinasi terhadap anjing pun dilakukan di seluruh desa. “Tahun ini kita sudah menerima 400 lebih dosis vaksin bantuan dari provinsi. Sedangkan tahun lalu kita sudah memvaksinasi 4.637 ekor anjing,” terangnya. (eko/and)

Korban Anak-Anak

Tak cuma orang dewasa, sosialisasi penanggulangan rabies ini juga melibatkan anak Sekolah Dasar (SD). Alasannya, selain karena anak-anak mudah berkomunikasi dan menyampaikannya pada rekannya, resiko serangan gigitan anjing gila juga banyak menyasar anak-anak.
 “Mereka paling beresiko terkena gigitan anjing. 70 persen korban gigitan adalah anak-anak,” kata Kadisnakeswan Kalbar, Abdul Manaf.

 Keterlibatan anak-anak dalam sosialisasi edukasi zoonosis, diharapkan bisa semakin memperluas informasi bahaya rabies. Serta cara penanggulangannya.

Anak-anak dalam pergaulannya, akan lebih mudah menyampaikan informasi ini terhadap rekan-rekannya maupun orang tuanya.“Ini cukup efektif bagi saya, kalau orang tua kan banyak kesibukannya,” jelasnya.

Salah satu anak yang menjadi korban gigitan adalah Rizki, warga Dusun Tempurau, Desa Batu Buil. Rizki digigit anjing pada mulutnya, sehingga menyebabkan luka yang lumayan parah pada tahun lalu.

“Saat itu anak kami sedang bermain di bawah, saya dan bapaknya kerja batu di atas. Tiba-tiba dengar teriakan dan saya turun ke bawah, melihat mulutnya sudah berdarah. Saya kira kena bambu, tapi ternyata dia bilang digigit anjing,” kata Ayang, ibu Rizki. (eko/and)