Rabu, 18 September 2019


Petugas Bea Cukai di Entikong Gagalkan Upaya Penyelundupan Sabu 5,15 Kg

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1996
Petugas Bea Cukai di Entikong Gagalkan Upaya Penyelundupan Sabu 5,15 Kg

Kakanwil Ditjen Bea Cukai Pontianak, Saifullah Nasution bersama Kapolda Kalbar Brigjen Pol Areif Sulistyanto saat jumpa pers di Mapolda. (SUARA PEMRED/ YODI)

PONTIANAK, SP – Petugas Bea Cukai (BC) di Entikong, Kalimantan Barat menggagalkan upaya penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 5,15 kilogram asal negeri Jiran di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Minggu (1/5) sekitar pukul 11.30 WIB.

Barang haram tersebut disembunyikan di dalam toilet sebuah bus lintas negara.
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Bea Cukai Pontianak, Saifullah Nasution mengungkapkan, sekitar pukul pukul 11.30 WIB, sebuah Bus “Eva” jurusan Kuching (Malaysia)-Pontianak (Kalbar) dengan nomor polisi 755 QAV yang dikemudikan Japar, melintas dari arah Tebedu Malaysia menuju Indonesia.

Sesuai dengan aturan, petugas Bea Cukai PPLB Entikong pun memeriksa semua kendaraan yang melintas, termasuk bus tersebut. Pada saat dilakukan pemeriksaan, petugas mendapati pintu toilet bus dalam keadaan terkunci.

“Ketika ditanyakan petugas, sopir mengaku pintu toilet dikunci karena toilet bus dalam keadaan rusak dan agar tidak ada penumpang yang buang air,” kata Saifullah di Mapolda kalbar, Selasa (3/5). 

Tak percaya dengan alasan tersebut, petugas kemudian meminta sopir untuk membuka pintu toilet bus agar dapat dilakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan, petugas mencurigai ada dinding palsu di toilet bus, dan ketika dibuka ditemukan sebuah koper atau false compartment berisi paket kosmetik, suku cadang sepeda motor.


“Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada pimpinan dan diarahkan untuk diperiksa mendalam di Kantor Bea Cukai,” kata Saifullah.

Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam, ditemukan juga tas berwarna merah yang ditutup dengan paket kosmetik berisi kantong plastik kemasan teh yang di dalamnya ternyata merupakan bubuk putih yang diduga sabu.

"Pada saat dilakukan pemeriksaan petugas kami mencurigai ada dinding palsu di toilet bus, ketika dibuka ditemukan ratusan packs kosmetik, suku cadang sepeda motor, serta ada lima paket plastik bungkusan teh setelah dibuka ternyata berisi sabu-sabu seberat 5,15 kilogram," ungkapnya.

Atas temuan tersebut, lalu dilakukan pengujian dengan narkotest kit yang hasilnya positif sebagai methamphetamine atau sabu-sabu. Setelah dinyatakan positif narkoba, lanjutnya, pihaknya kemudian berkoordinasi dengan pihak kepolisian Polda Kalbar untuk melakukan pengembangan.

Terkait kasus ini, pihak Bea Cukai sudah menetapkan tiga tersangka, di antaranya M Rizal bin Abdullah yang merupakan warga negara Malaysia sekaligus pemilik kosmetik dan sabu. Kemudian Japar yang merupakan sopir bus, dan Frans Darsono yang merupakan sopir cadangan.

Kapolda Kalimantan Barat, Brigjen Pol Areif Sulistyanto menjelaskan, setelah mendapat laporan dari pihak Bea Cukai, pihaknya kemudian menindaklanjuti dan melakukan pengembangan dengan melakukan control delivery dan kemudian menangkap dua orang tersangka lainnya.

“Tim gabungan mengintai penerima paket barang haram tersebut di Terminal Internasional Ambawang. Kemudian pada Senin (2/5) sekitar pukul 06.30 WIB, ternyata paket tersebut diambil oleh tersangka kedua, yakni Muhammad Safei. Ketika paket sudah berada ditangannya, dia ditangkap,” kata Arief.

Tak sampai di situ, setelah menangkap Muhammad Safei, control delivery kedua kemudian dilakukan untuk memengetahui akan dibawa kemana paket sabu tersebut selanjutnya. Berdasarkan hasil interogasi mengenai kepemilikan barang yang diambil Safei, diketahui barang tersebut akan diserahkan kepada Khun Seng alias Aseng.


“Akhirnya menuju ke rumah Khun Seng alias Aseng di Jalan Tanjung Pura Gang Kedah, Kelurahan Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan. Aseng ditangkap di rumahnya beserta barang bukti,” ujar Arief.

Dari kasus tersebut, polisi telah menahan lima orang, tiga di antaranya ditangkap petugas Bea Cukai di Entikong, sedangkan dua lainnya merupakan hasil pengembangan pihak kepolisian. Dua di antaranya telah ditetapkan oleh polisi sebagai tersangka.

 Dari penangkapan tersebut, polisi menyita sejumlah barang bukti, seperti lima kilogram sabu, sejumlah buku rekening, pasport, sejumlah alat hisap sabu, dan sejumlah telepon genggam. "Atas penegakan atau digagalkannya masuknya sabu-sabu tersebut, DJBC Kalbar dan Polda Kalbar telah menyelamatkan anak bangsa sekitar 51.500 orang," ujarnya.

Dilarutkan Racun Rumput


Pada hari yang sama, Polda Kalbar juga musnahkan barang bukti narkoba berupa sabu-sabu seberat 17 kilogram di halaman Mapolda Kalbar. "Barang-bukti sabu-sabu yang kami musnahkan tersebut hasil tangkapan Polres Sambas bersama Polres Bengkayang di perbatasan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Minggu (17/4) lalu," kata Kapolda Kalbar Brigjen (Pol) Arief Sulistyanto.

Sabu-sabu tersebut dimusnahkan dengan cara dilarutkan kedalam cairan racun rumput yang di masukkan dalam sebuah tong serta dicampur air. "Pemusnahan tersebut juga menghadirkan tersangka Murni yang ditahan karena kedapatan membawa barang tersebut dari Serikin, Malaysia," ungkapnya.

Arief mengungkapkan, penangkapan tersebut berawal dari penyelidikan yang panjang hasil kerja sama Polres Bengkayang dengan Polres Sambas, terkait adanya informasi kurir yang akan membawa sabu dari Malaysia menuju wilayah Kalbar. Pelaku ditangkap di Jalan Raya Jagoi Babang, tepatnya di Ledo, menggunakan mobil pikap jenis Grand Maz dengan nomor polisi KB 8025 PA.

Sabu tersebut dikemas dalam 17 kantong alumunium foil, yang dimasukkan ke kotak kardus dan ditutup menggunakan makanan ringan untuk mengelabui petugas. Dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku barang tersebut dibawa dari daerah Serikin, Sarawak.

Saat ini, tim kepolisian sedang menelusuri dan berkoordinasi dengan otoritas di Malaysia untuk memburu seorang tersangka yang berada di Serikin Malaysia. Tangkapan ini, menurut Arief, merupakan yang terbesar selama ini. Hal ini juga menjadi indikasi, dan perlunya pengawasan dari berbagai pihak terkait untuk mewaspadai peredaran narkoba, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia.

Dalam proses pengembangan lebih lanjut, Polda Kalbar sempat melepaskan Hendro (36) warga Desa Pemangkat, Kabupaten Sambas, yang sebelumnya ditangkap karena diduga sebagai pemesan sabu-sabu seberat 17 kilogram dari tersangka Murni (30) yang juga ditangkap Minggu (17/4). "Karena dari hasil pemeriksaan saksi-saksi, gelar perkara oleh Polda Kalbar belum cukup bukti, maka saudara Hendro kami bebaskan, sementara Mur ditingkatkan statusnya menjadi tersangka, untuk Jum masih dalam pengejaran," kata Pejabat sementara Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Badarudin.

Badarudin menjelaskan, ditangkapnya Hendro bersama Murni, karena berdasarkan keterangan tersangka Murni yang memesan sabu-sabu tersebut dari Jum adalah saudara Hendro. "Ketika dilakukan pemeriksaan tes urine juga hasilnya positif mengandung narkoba, sehingga diamankanlah untuk diminta keterangan lebih lanjut," ungkapnya.

Tetapi setelah dilakukan gelar perkara di Mapolda Kalbar, dari keterangan saksi-saksi, belum ada keterkaitan antara saudara Hendro dan Murni serta Jum. "Dari pengecekan komunikasi telepon genggamnya juga tidak ada komunikasi dengan kedua tersangka, sehingga dari hasil gelar perkara, belum memenuhi unsur, sesuai pasal 112, 114 dan 115 UU No. 35/2009 tentang Narkotika," katanya.

Badarudin menambahkan, pada saat tersangka Murni menyerahkan paket berisi sabu-sabu kepada Hendro juga tidak mau mengambilnya, karena dia merasa tidak memesan barang dari Malaysia. Apalagi Hendro juga tidak pernah ke Malaysia dan tidak punya paspor.

"Saat ini saudara Hendro sudah kami titipkan ke BBN Provinsi Kalbar untuk menjalani rehabilitasi atau lainnya. Untuk sementara statusnya masih saksi, tetapi tidak menutup kemungkinan statusnya bisa ditingkatkan menjadi tersangka kalau sudah cukup bukti," katanya. (yoo/ant/ind)