Polres Sanggau Amankan Tukang Bakso Campur Daging Allana

Regional

Editor sutan Dibaca : 1913

Polres Sanggau Amankan Tukang Bakso Campur Daging Allana
Aparat Polres Sanggau ketika menggerebek kediaman Mukramin, penjual bakso, Rabu (11/5) malam. (ist)
SANGGAU, SP - Satuan Reserse Kriminal Polres Sanggau bersama Polsek Sekayam menciduk Mukramin, seorang pedagang bakso tersangka pengguna daging Allana untuk bahan pokok dagangannya, Rabu (11/5) sekitar pukul 19.00 WIB.  

Kapolres Sanggau, Akbp Donny Charles Go melalui KBO Reskrim Polres Sanggau, Ipda Rahmad Kartono, menyebutkan tersangka diamankan di kediamannya Jalan Temenggung Gergaji no.35, RT 004, Dusun Balai Karangan 3, Kecamatan Sekayam ketika sedang mengisaran daging Allana untuk dijadikan bakso.  

“Kurang lebih 7 kg daging sudah tergisar menjadi bahan bakso dan masih ada sisa 21 kg dalam keadaan beku, berbentuk potongan-potongang besar," ujarnya, Kamis (12/5).   Dijelaskannya, berdasarkan pengakuan tersangka dirinya mendapatkan daging tersebut dari ME warga Balai Karangan.

"Perbedaan harga cukup signifikan, kalau 1 kg daging allana Rp 71.500, sedangkan daging normal Rp 120.000," tuturnya.
 

Dari penggerebekan ini pula, barang bukti (BB) yang berhasil diamankan di antaranya empat kotak daging Allana, dengan isi per kotaknya 28 kg berkisar Rp 2.000.000. "Kasus ini kita akan proses dan akan kita kembangkan sampai pelaku yang memasukkan daging Allana ke wilayah Indonesia," tuturnya.

Dia menjelaskan, berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak karantina hewan, diketahui daging ini bukan daging sapi namun daging kerbau atau banteng yang berasal dari negara luar.
 
"Berasal dari India yang terdeksi mengandung virus anthrax, sehingga sangat berbahaya apabila dikonsumsi. Pemerintah juga melarang keras peredaran daging tersebut di Indonesia," akunya.

Dengan kejadian ini pula, diimbau kepada warga Sekayam agar tidak memasukkan daging berbahaya tersebut ke wilayah Indonesia.
"Jangan sampai itu terjadi, karena membantu penyebaran virus anthrax ke Indonesia,” ungkapnya.
 

Perbuatan tersebut merupakan tindak pidana Perlindungan Konsumen Undang-undang nomor 8 tahun 1999, Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan dan Undang-undang nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan. (pul/and/sut)