Panglima TNI: Bangun Perbatasan Jaga Kearifan Lokal

Regional

Editor sutan Dibaca : 1444

Panglima TNI: Bangun Perbatasan Jaga Kearifan Lokal
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo meninjau sarana prasarana fasilitas pangkalan Mako Lantamal XII, Kamis (19/5).(delvi purba/suara pemred)
Pontianak, SP - Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyatakan, pembangunan infrastruktur jalan di kawasan perbatasan, termasuk di Kalimantan Barat hendaknya tetap memperhatikan kearifan lokal.

"Pembangunan jalan perbatasan tersebut oleh pemerintah, jangan sampai melupakan penduduk setempat yang selama ini mau makan apa saja sudah tersedia di alam sekitar mereka tinggal," kata Gatot Nurmantyo saat melakukan kunjungan kerjanya di Pontianak, Kamis (17/5).

Ketika, tiba-tiba kawasan mereka, misalnya dijadikan perkebunan, maka akan ada perubahan, sehingga penduduk setempat harus disertakan dalam pembangunan di segala bidang tersebut, ujarnya.

Pihaknya telah membantu pemerintah dalam percepatan dan penyelesaian pembangunan jalan paralel perbatasan, termasuk di Kalbar dan Kalimantan umumnya.

Sebelumnya, Gubernur Kalbar Cornelis mengapresiasi keterlibatan TNI AD dalam pembangunan jalan paralel perbatasan negara yang terbukti mempercepat proses pembangunan wilayah perbatasan.

Dengan cepatnya pembangunan jalan paralel perbatasan tersebut, kata Conelis, lebih memudahkan TNI dalam melakukan pengamanan dan pengawasan di wilayah perbatasan.

"Ini jalan patroli perbatasan. Jarak 100 meter dengan patok dan batas Malaysia. Untuk keperluan keamanan dan lainnya kalau dah ada jalan kan enak melakukan pengawasan," tuturnya.

Pembangunan jalan paralel perbatasan Kalbar-Serawak dikerjakan oleh personel Zeni Konstruksi (Zikon) dan Seno Temput (Zipur) Kodam XII/Tanjungpura.

Kalbar mendapatkan alokasi jalan perbatasan sepanjang 135,63 Km. Mabes TNI AD untuk mengerjakan program tersebut menerjunkan Batalyon Zikon (Yonzikon) 11 Jakarta, Yonzikon 13, Yonzipur 2 dan Yonzipur 3 Kodam III/Siliwangi dengan 334 personel dan didukung oleh sejumlah peralatan alat berat lainnya, paparnya.


Nurmantyo juga mengingatkan, perang tanpa bentuk atau "proxy war" yang saat ini mengancam Indonesia, sehingga semua pihak harus bersatu dalam mencegah dan melawannya.

"Perang tanpa bentuk mengancam Indonesia, karena negara-negara luar berlomba-lomba ingin menguasai Indonesia karena kaya akan SDA (sumber daya alam)," kata Nurmantyo, saat menyampaikan orasi ilmiahnya pada Dies Natalis ke-57 Untan Pontianak.

Dia mengatakan, dalam "proxy war" tidak bisa dilihat siapa lawan dan kawan, tetapi perang tersebut dikendalikan oleh negara lain.

Ia menjelaskan, perang tanpa bentuk tersebut sudah terbukti, dengan kasus lepasnya Timor-Timur dari NKRI. Timor-Timur diperebutkan oleh negara lain, karena di sana ada kekayaan SDA berupa "greater sunrise" yang letaknya antara Indonesia dan Timor-Timur.

Menurut dia, ada beberapa cara dalam mengatasinya, yakni modal NKRI yang mempunyai geografi daratan dan lautan yang kaya akan SDA agar dikelola dengan baik dan bermanfaat.

"Kemudian kita punya demografi, yakni kearifan lokal, yang juga harus dibarengi dengan revolusi mental, Pancasila sebagai pedoman hidup, serta dibutuhkan peran civitas dan akademika, serta mahasiswa dalam mencegahnya perang tanpa bentuk tersebut," kata Gatot.

Kemudian, solusi dalam mencegah perang tanpa bentuk, yakni Indonesia harus menjadi negara agraris, negara maritim, dan negara industri, sehingga kekayaan SDA tidak dijual dalam bentuk mentah ke luar, tetapi sudah dalam bentuk jadinya, serta didukung oleh para pemuda yang harus menjadi agen perubahan dan pemersatu bangsa, katanya.

Menurut Gatot, saat ini sekitar 70 persen konflik yang ada di dunia adalah latar belakang energi minyak, yang diprediksi juga akan habis.

Selain itu, dengan strategisnya wilayah NKRI juga pemicu rawan konflik, karena akan diperebutkan oleh negara-negara lain, seperti konflik atau perang dalam perebutan pangan, air, dan energi yang itu semuanya ada di Indonesia.

Gatot mengutif pernyataan dari Presiden Soekarno, yakni kekayaan alam Indonesia suatu hari nanti akan membuat iri negara-negara di dunia, kemudian pernyataan Presiden Joko Widodo, yakni kaya akan sumber daya alam justru dapat menjadi petaka kita.

"Kalau mulai sekarang kita tidak berhati-hati dan bersatu maka tunggu ancamannya, sehingga mari kita bersatu dalam mencegah perang agar tidak lagi mengancam Indonesia," katanya.
Sebelumnya, Kapendam XII/Tpr Kolonel Arm I Ketut Sumerta menyatakan, Panglima TNI selain melakukan orasi ilmiah di Untan, juga direncanakan melakukan kunjungan kerja, yakni memberikan arahan kepada para perwira TNI se-Kalbar di Makodam XII Tanjungpura.

Kemudian dilanjutkan dengan meninjau Rumah Sakit Tentara (RST) Tk II Kartika Husada, terkait rencana akan dilakukannya pengembangan areal rumah sakit teersebut. "Dan selanjutnya Panglima TNI dan rombongan akan meninjau lokasi rencana pembangunan Mako Lantamal XII Pontianak yang berada di Wajok Hilir, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah, kemudian meninjau Mako Lanud Supadio untuk meninjau Skuadron Tempur Lanud Supadio Pontianak," kata Kapendam.(ant/del/lis/sut)