Senin, 23 September 2019


Siapa Cawako Pontianak Pilihan Madura?

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 2516
Siapa Cawako Pontianak Pilihan Madura?

Halaman Utama. (SUARA PEMRED)

PONTIANAK, SP - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak khususnya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, baru akan dilaksanakan 2018 mendatang, memunculkan beberapa figur bakal Calon Wali Kota Pontianak dari Suku Madura.   Namun saat ini, pesta demokrasi setiap lima tahun sekali itu sudah mulai diperbincangkan, termasuk nama-nama yang diprediksi akan maju dari etnis tertentu.  

Sampai Minggu (29/5), Suara Pemred menghubungi sejumlah figur yang namanya santer disebut, khususnya di kalangan masyarakat Madura, yang berpotensi untuk maju di Pilkada Kota Pontianak.

Adapun nama-nama itu antara lain Nagian Imawan, Ahmad Bustomi, Bahasan, Alfian Aminardi, Heri Mustamin, dan Fauzi.
  Mendengar nama-nama ini, bagi sebagian masyarakat Kota Pontianak, tentulah bukan suatu yang asing lagi. Pasalnya, keenam nama tersebut adalah orang-orang yang masih terjun di dunia politik, sebagai anggota dewan kota maupun provinsi, serta pengurus partai.  

Sebut saja Alfian Aminardi. Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Pontianak ini, beberapa kali menjadi anggota DPRD Kota Pontianak, bahkan sampai sekarang.  

Alfian mengungkapkan dengan penuh rasa percaya diri. Saat namanya disebut sebagai salah satu orang yang layak menjadi calon wali kota,  ia berujar, tentu hal itu sangat wajar.  

“Kalau orang mengatakan itu (salah satu orang yang layak sebagai Cawako), ya wajarlah. Saya itukan (anggota) DPR, punya massa, kursi (dewan kota) lima,” ujar Alfian.  

Kendati begitu, sebagai kader partai, Alfian mengaku, jika dirinya maju ke Pilkada Kota Pontianak, tentunya harus mengikuti mekanisme partai.   “Itukan ada mekanismenya. Kita lihat (dulu perkembangannya). Intinya di PKB, siapa pun boleh maju, termasuk kader partai,” terang Alfian.  

Saat disinggung namanya yang digadang-gadang sebagai calon dari kalangan Madura, Alfian merasa kepopulisan namanya itu tergantung dari persepsi masyarakat Madura sendiri.   “Kalau nama saya disebut, ya saya mengucapkan terima kasih. Tapi sekali lagi, sebagai kader partai, saya harus mengikuti mekanisme partai,” jelas Alfian.  

Nama lain yakni Nagian Imawan. Pria ini sebetulnya orang lama di kancah perpolitikan. Bahkan, ia pernah ikut pada bursa calon wali dan wakil wali kota Pontianak melalui jalur independen.  

Saat diwawancara, terkait namanya yang juga ikut disebut di kalangan Madura, Nagian menyampaikan terima kasih pada masyarakat yang menganggap dirinya cocok masuk bursa calon wali atau wakil wali kota Pilkada Pontianak 2018.   “Saya berterima kasih atas dorongan untuk ikut kontestasi Pilkada Pontianak,” ujar Nagian.  

Untuk memasuki kontestasi, Nagian berujar, dirinya mesti mengukur dan melihat berbagai hal. Menurutnya, perlu persiapan matang untuk menuju ke sana.   “Secara pribadi, saya saat ini sedang menghitung kekuatan politik. Saya tidak ingin maju atas dasar kesukuan semata,” ujar Nagian.  

Nagian mengungkapkan, beberapa waktu lalu, dirinya memang sempat disarankan oleh teman-temannya untuk ikut kontestasi Pilkada. Atas dasar itu, saat ini ia telah melakukan komunikasi politik, bahkan ke beberapa partai politik.   “Saya juga sudah menyediakan pokok-pokok pikiran, bagaimana Pontianak 2018-2023 mendatang. Saya ingin berkontribusi. Dan kepada siapapun yang nantinya menjadi wali kota, pokok pikiran ini juga akan saya serahkan,” kata pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPC Partai Perindo Kota Pontianak ini.  

Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kota Pontianak, Ahmad Bustomi mengatakan, selama ini memang ada dorongan dari sebagian masyarakat, agar dirinya ikut mencalonkan.   “Ada banyak dorongan dari kawan-kawan, khususnya dari kalangan madrasah dan pesantren,” ujar Ahmad.  

Menurut mantan anggota DPRD Kota Pontianak periode 2009-2014 dari Partai PKNU ini, dirinya menyambut baik jika memang dukungan semakin besar pada dirinya. Terkait nantinya maju melalui partai atau jalur independen, ia sangat siap.   “Bahkan, beberapa waktu lalu saya ditawari masuk ke salah satu partai. Sudah saya terima. Tapi, kalau memang dari partai tidak memungkinkan, saya akan maju melalui jalur independen,” terang Bendahara PC NU Kota Pontianak ini.  

Saat ditanya ‘kekuatan’ yang dimiliki, Bustomi menyebutkan, modal utama tentulah masyarakat. Menurutnya, selama ini dirinya sangat intens berkomunikasi dengan masyarakat terutama kalangan pesantren dan madrasah.   “Modal saya saat ini adalah modal sosial. Komunikasi dengan warga, sudah lama saya bangun,” ungkap Bustomi.  

Dikatakan Bustomi, jika dirinya kelak memang dipercaya memimpin Kota Pontianak, maka salah satu agenda kerja yang akan dilakukannya adalah memajukan sektor pendidikan, terutama pendidikan Diniyah.   “Ini salah satu yang menjadi fokus saya, memajukan lembaga pendidikan agama di Kota Pontianak,” tutur Bustomi.  

Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Bahasan, saat dihubungi, dirinya enggan berkomentar terkait namanya yang turut masuk bursa calon wali kota Pontianak. “Ndak mau komentar saye. Jangan tanya itulah ye!” kata Bahasan singkat.
 

Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM) Provinsi Kalimantan Barat, Sukiryanto, saat dihubungi terkait sejumlah nama politisi Madura yang disebut berpotensi maju di Pilkada Pontianak, ia mengatakan IKBM secara kelembagaan mendukung setiap nama yang disebut.   “Apabila ada salah satu dari orang Madura yang ingin mencalonkan wali kota atau bupati, kita dari IKBM tetap mendukung. Yah, dukungan moril dan dukungan suara, tapi bukan atas nama IKBM, lebih jelasnya kepada individu,” ujar Sukiryanto.  

Sukiryanto menjelaskan, pada dasarnya IKBM adalah organisasi kemasyarakatan yang tidak ikut berpolitik. Namun, kalau ada salah satu dari pengurus atau anggota yang berpolitik, itu urusan pribadi dari yang bersangkutan.   “IKBM hanyalah wadah organisasi Madura yang tujuannya memperjuangkan hak-hak warga Negara,” kata Sukiryanto.  

Ketua Umum DPP Laskar Sakera Kalbar, Guntur Fandana menuturkan, sejak beberapa kali pelaksanaan Pilkada di Kota Pontianak, memang tokoh dari kalangan Madura sudah muncul, baik sebagai calon wali kota maupun calon wakil wali kota.   Tokoh tersebut beragam. Ada dari politisi murni atau pengusaha. Tokoh tua, bahkan sebelumnya tokoh muda pernah terpilih sebagai wakil wali kota Pontianak.

Melihat Pilkada Kota Pontianak mendatang, figur-figur Madura dari kalangan muda memang sudah mulai bermunculan. Meski belum tahu pasti, apakah mereka semua serius untuk maju.   “Jika menilai masing-masing dari keenam nama itu, tentu masing-masing punya kelebihan. Melihat dari latar belakang dan pengalaman, masing-masing juga punya track record dalam dunia politik,” kata Guntur.  

Guntur mengungkapkan, untuk menentukan siapa yang paling berpotensi, saat ini sulit memastikan itu.   “Kalau soal siapa yang paling berpeluang, untuk saat ini sulit dipastikan. Kita lihat kedepannya saja. Siapa pun yang maju, dari etnis mana saja, yang penting bisa membawa pada perubahan yang lebih baik,” tutur Guntur. (umr/aju/lis/sut)