Senin, 23 September 2019


Siswi SMKN di Pontianak, Korban Dugaan Pencabulan oleh Oknum Dosen Minta Perlindungan ke Presiden Jokowi

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 3010
Siswi SMKN di Pontianak,  Korban Dugaan Pencabulan oleh Oknum Dosen Minta Perlindungan  ke Presiden Jokowi

Prosesi pengebirian kuno di Cina. (kindo.hk)

PONTIANAK, SP - Siswa SMKN Pontianak, VS, korban dugaan pencabulan yang dilakukan oknum dosen Untan, berinisial DP terpaksa harus mengirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo.   Surat terbuka bertanggal 13 Juni 2016 tersebut, meminta Presiden memberikan perlindungan dan keadilan hukum.

Surat ini pun dishare ke media sosial, facebook melalui akun pribadi Devi Tiomana, merupakan Direktur Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN). 
  “Surat itu dibuat langsung oleh korban selama seminggu lebih pasca diperiksa oleh Polresta Pontianak,” tutur Devi.  


Korban sendiri mengaku hidupnya telah dihancurkan oleh sang dosen. Tapi hingga sekarang, sang dosen masih beraktivitas dan belum ditetapkan tersangka.   Muji (46) abang VS, siswi SMK Pontianak yang diduga dilecehkan DP, dosen Untan, meminta pihak kepolisian tidak tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Ia menilai, polisi terlalu lamban dalam mengusut kasus pelecehan yang menimpa adiknya.

Sejak dilaporkan Senin (30/5) lalu, Polresta Pontianak belum menetapkan status tersangka.   “Jelas-jelas itu ada laporan-laporan dan hasil visum sudah mengarah seperti itu. Mengapa dalam hal ini kemudian ada pemanggilan (DP), tapi tidak diproses bagaimana secepatnya. Janganlah bekerja tumpul ke atas, tajam ke bawah,” ucapnya kepada wartawan, Selasa (14/6).  

Muji mencontohkan, jika kasus tersebut dilakukan oleh masyarakat kecil, polisi begitu cepat menetapkan status tersangka. Namun untuk DP yang merupakan dosen Untan, polisi terlihat kesulitan.   “Entah ada apa. Mungkin dari Polda juga harus turun tangan dalam hal ini, juga pihak terkait untuk melihat dan mengawasi jangan sampai kasus ini berjalan lambat,” pintanya.  

Pihak keluarga berharap proses kasus ini bisa berjalan secepatnya. Hal ini akan memberi ketenangan, dan membuat keluarga mendapat titik terang. Sebab selama ini, ia menilai penasihat hukum DP, Zalmi Yulis terkesan mem-bully korban dengan memutarbalikan fakta lewat pernyataannya di media.   “Pengacara DP ini seakan-akan memojokkan adik kami, katanya seakan-akan adik kami ini melakukan hal itu dengan orang lain,” ujarnya.  

Ia menilai, pengacara DP berbicara seperti itu, karena tidak mengetahui bagaimana orangnya. Adiknya, adalah orang yang taat beribadah. “Sehingga tidak akan mungkin adik kami melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama. Seakan-akan ini diputarbalikan, kami sakit hati melihatnya,” kesalnya.  

Akan Dipidanakan


Penasihat hukum DP, Zalmi Yulis terancam dipidanakan oleh SMKN tempat korban pencabulan belajar, lantaran melakukan intimidasi dan intervensi terhadap pihak sekolah. Direktur Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN), Devi Tiomana mengatakan pihaknya akan mendukung penuh upaya tersebut.   “Kami akan mendampingi sekolah melaporkan pengacara beserta orang-orangnya yang datang ke sekolah melakukan intervensi dan intimidasi, dengan meminta identitas korban dan saksi,” tegas Devi.  

Tak hanya sekolah, rumah kepala sekolah SMK korban juga didatangi. Hal itu tidak bisa diterima dan mesti dilaporkan. Rekaman CCTV sekolah dan rumah kepala sekolah, akan turut dibawa sebagai barang bukti ke pihak kepolisian.   “Rekaman CCTV menunjukkan, pengacara datang dengan siapa, sampai caranya menunjuk-menunjuk pihak sekolah,” tambahnya.  

Selain itu, dalam rekaman juga tampak jelas penasehat hukum DP membawa serta oknum wartawan, sebagaimana pengakuan dari guru-guru sekolah tersebut. Semua terekam baik dan siap dilaporkan ke polisi.   Devi berharap, kasus ini bisa cepat terbuka ke publik, sebab keadilan merupakan harga mati.

Hukum seharusnya tidak memandang status sosial.
Apalagi pelecehan seksual terhadap anak kecil, sudah menjadi kejahatan luar biasa sebagaimana yang dikatakan Presiden Jokowi.    “Kasus-kasus lain itu dulu langsung tangkap begitu  ada saksi, korban dan hasil visum, tapi kasus ini tidak. Polisi harusnya profesional,” kesalnya.  

Sekolah Diintimidasi


Usai pelaporan ke Polresta Pontianak dilakukan, Senin (30/5), wali kelas korban, W ditemui di tempat yang sama bercerita, orang yang mengaku pengacara DP mendatangi sekolah pada Selasa (31/5). Mereka berkata ingin mencari S, salah seorang guru di sana. “Pengacara datang hari Selasa (31/5) siang bawa media, bawa kamera juga, sama ID Card, mereka ke studio, beruntung anak-anak sudah tidak di tempat,” ucapnya.

Mereka hanya bertemu dengan teknisi studio, H, yang kemudian menanyakan izin kepada media tersebut karena mereka hendak mengambil gambar lingkungan sekolah. W mengaku tidak melihat langsung kedatangan itu, ia tengah mengajar di Bengkel Elektronika. “Mas, jangan keluar dulu, ada pengacara sama wartawan ke sini,” ujarnya menirukan suara teknisi studio saat memberitahunya via telepon.

W pun memilih untuk tidak keluar. Ia hanya berpesan pada orang di seberang telepon, untuk mengamankan murid, jangan sampai tersorot media. Saat itu, guru dan rombongan pengacara itu cari di YNDN mendampingi korban. Keesokan harinya, ada pula orang yang datang mengaku sebagai kawan kepala sekolah. Orang ini berkata dirinya dari Dinas Pendidikan Pontianak.

Kala itu pun, kepala sekolah sedang tidak berada di tempat, sehingga yang bertemu dengannya adalah Waka Sarana. Curiga dengan orang tersebut, Waka Sarana menanyainya seputar kegiatan di Diknas. Mengapa ia tak pernah terlihat, juga ditanya siapa saja kepala bidang dan seksi di sana.

“Jawabannya salah semua. Itu kan sudah mencurigakan,” tutur W.

Dia tidak tahu motif orang itu untuk mencari kepala sekolah. Tapi yang dicari terus Pak S dan kepala sekolah. “Karena kepala sekolah tidak ada, Waka yang ditanya-tanya, karena sudah tahu dia bohong, jadi tidak diladeni,” kisahnya.


Selasa (7/6) kemarin, menurut informasi dari rekan guru lain, rumah kepala sekolah juga sempat didatangi seseorang. Ketika itu tengah ashar. Merasa ada gelagat tak menyenangkan, orang itu diusir halus dengan alasan mau salat. “Itu dengar dari teman katanya rumah kepala sekolah juga didatangi,” pungkasnya.

DP Dipanggil
Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yul Lapawesean mengatakan, oknum dosen yang diduga melakukan perbuatan asusila terhadap siswi salah satu sekolah kejuruan di Pontianak, Senin (13/6) kemarin, sudah dipanggil oleh pihaknya. “DP sudah dipanggil sebagai saksi kemarin dan telah dilakukan pemeriksaan,” ujarnya kepada Suara Pemred, Selasa (14/6).

Kompol Andi Yul menyebutkan, saat ini yang bersangkutan DP belum dinyatakan sebagai tersangka. “Belum tersangka. Sampai sekarang masih kita lakukan proses penyidikan,” terangnya. (
bls/umr/lis/sut))