Enam Bulan Terdapat Tujuh Kasus Kejahatan Seksual Anak di Melawi

Regional

Editor sutan Dibaca : 1934

Enam Bulan Terdapat Tujuh Kasus Kejahatan Seksual Anak  di Melawi
ILUSTRASI (news.metrotvnews.com)
NANGA PINOH, SP – Kasus kekerasan seksual terhadap anak bawah umur di Kabupaten Melawi, enam bulan belakangan sudah mencapai angka tujuh kasus. Mirisnya  pelaku pencabulan sebagian besar adalah orang dekat korban, seperti ayah tiri, paman hingga tetangga sendiri.

“Umurnya ada yang dikisaran belasan tahun, ada juga yang bahkan baru berumur lima tahun,” jelas Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Melawi, AKP Siswadi.

Dia merincikan sejumlah kasus yang terjadi, di Kecamatan Menukung pada April lalu, seorang anak berumur lima tahun menjadi korban pamannya sendiri. Pelaku kini yang juga disebut pernah mencabuli kakak korban, sudah ditahan dan dilimpahkan ke kejaksanan. Kemudian kasus seorang siswi yang masih duduk di bangku kelas II SMP, dicabuli hingga hamil oleh bapak tirinya.

Persetubuhan ini dilakukan di bawah ancaman dan dilakukan berkali kali hingga hamil. Kasus ini dilaporkan pada Maret lalu oleh ibu korban dan pelaku sudah ditahan. Kasus serupa juga terjadi di wilayah Kecamatan Belimbing. Sang bapak memaksa sang anak tirinya berhubungan badan dengan ancaman.

Bahkan saking bejatnya, bapak tiri ini sudah melakukan hubungan badan dengan sang anak sejak usia sekolah dasar hingga hamil saat korban duduk di bangku SMP. “Pelaku sampai sekarang masih menjadi DPO dan ditengarai melarikan diri ke kampung halamannya,” terang Siswadi.

Kasus di Belimbing, terangnya terjadi karena sang anak tidak mendapatkan pengawasan yang cukup dari ibu korban. Korban kerap diajak bekerja di kebun sawit. Di sanalah terjadi praktek pencabulan. “Kasusnya sama dengan yang terjadi di wilayah Nanga Pinoh, dimana ibu korban harus bekerja meninggalkan anaknya bersama bapak tirinya. Pencabulan baru terbongkar setelah melihat anaknya hamil dan langsung dilaporkan ke polisi,” katanya.


Kasus ini sendiri baru dilaporkan ke polisi beberapa minggu setelah kejadian diketahui ibu korban karena takut. Pelaku sempat mengancam, dan ada pula anggapan bahwa menyampaikan laporan ke polisi dikenakan bayaran. “Begitu ada laporan langsung kita proses dan pelaku ini sempat akan bunuh diri dengan minum racun, tapi berhasil diselamatkan,” jelasnya.

Sebagian kasus pencabulan tak jarang justru melibatkan orang dekat yang seharusnya melindungi korban. Dia mengimbau orang tua agar mengawasi anaknya. “Jangan dianggap orang dekat bisa melindungi, tapi juga bisa jadi ancaman bagi anak di bawah umur. Meski keluarga sendiri. Kasus ini sebagian besar sudah dilimpahkan ke kejaksaan,” jelasnya.

Kasus lainnya yang baru ditangani, laporan dari orang tua, sebut saja Mawar yang menjadi korban persetubuhan. Kasus ini bermula dari perkenalan Mawar dengan pelaku berinisial IS yang baru berumur 18 tahun.

Mawar yang berasal dari Sintang mulai menjalin komunikasi dengan IS melalui BBM dan akhirnya bertemu di sebuah penginapan di Nanga Pinoh. “Ternyata keduanya juga saling berhubungan badan, bahkan berkali kali hingga terjadi pendarahan pada Mawar,” katanya.

Kasus tersebut diketahui orang tua Mawar yang curiga dengan kondisi sang anak. Korban mengakui telah berhubungan dengan IS. Pihak keluarga melaporkan kejadian. Ditindaklanjuti dengan penangkapan IS dengan tuduhan pencabulan anak di bawah umur mengingat Mawar baru berusia 13 tahun.

“Kasus seperti ini kerap terjadi di Melawi. Walau mungkin hubungannya suka sama suka, namun akan tetap kita proses karena ini dilakukan dengan anak di bawah umur,” jelasnya.

Dukung Kebiri

Ketua Tim Penggerak PKK setempat, Nurbetty Eka Mulyastri Panji mengaku prihatin atas maraknya kasus tersebut di daerahnya. “Itu juga anak-anak kami, dia akan jadi generasi penerus. Kejadian ini sebenarnya tak pernah terbayangkan akan terjadi,” katanya.

Dia mengatakan, PKK sudah beberapa kali mensosialisasikan bahaya kejadian ini ke TK-TK soal adanya empat daerah terlarang yang tak boleh disentuh orang lain kecuali ibu atau ayah. “IT juga tidak bisa kita pungkiri juga berpengaruh. Dari HP itulah dampak yang paling besar pada anak kita. Dia terangsang karena kerap menonton film porno. Nah, yang jadi korban, anak-anak awam dampak karena telah dilecehkan,” katanya.

Dia menilai, para pelaku pantas diberikan sanksi kebiri, bila melihat perbuatannya yang sangat tidak pantas dan bisa dibilang kejahatan luar biasa. “Secara  hati nurani sebenarnya saya tidak setuju bila ini dikaitkan dengan HAM, tapi kalau lihat perbuatannya, saya sangat setuju, karena yang menjadi korban anak-anak. Ada yang bilang harus hukum mati, mungkin lebih baik kebiri saja dulu,” Astrid juga ingin mendorong sebuah gerakan, di mana satu pria melindungi para wanita. Jadi pria seharusnya menjadi pelindung, bukan penghancur wanita. (eko/and/sut)