Jalan Lintas Boyan Tanjung, Kapuas Hulu Nyaris Putus

Regional

Editor sutan Dibaca : 1954

Jalan Lintas  Boyan Tanjung, Kapuas Hulu Nyaris  Putus
Kondisi Jalan Lintas Boyan KM 1, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu, membahayakan pengendara. Jalan tersebut merupakan akses vital bagi aktivitas warga setempat. SUARA PEMRED/SYAPARI
PUTUSSIBAU, SP – Persoalan infrastruktur jalan, masih menjadi pekerjaan rumah yang mesti dibenahi Pemkab Kapuas Hulu. Pasalnya, tak sedikit jalan lintas yang merupakan akses vital daerah mengalami kerusakan cukup parah.   Misalnya, di Kecamatan Boyan Tanjung.

Jalan Lintas Boyan KM 1, yang merupakan akses utama bagi aktivitas warga kini terancam putus. Semenjak enam bulan belakangan, kerusakan konstruksi jalur tersebut saban hari kian memperihatinkan.   Warga mau tidak mau harus menghadapi resiko buruk yang mungkin terjadi, saat melintasi jalan tersebut. 

 "Jalan itu lebih dari setengah badan jalannya berlubang dengan kedalaman 3 sampai 4 meter," kata warga Desa Mengelai, Kecamatan Boyan Tanjung, Rudiansyah, Selasa (12/7).  

Menurutnya, jalan itu sudah tidak layak untuk dilalui kendaraan roda dua dan empat. Maka itu, dia meminta pemerintah daerah untuk segera memperbaiki kerusakan. Sebelum menelan korban.   Sebab kontur tanah di lokasi tersebut, pada bagian bawahnya sebagai tempat air mengalir. Sehingga tanah terus terkikis dan menjadi rentap.  

"Jalan itu menghubungkan tujuh desa, yakni Botong, Tubang Jaya, Riam Mengelai, Nanga Sangan, Sri Wangi dan Nanga Jemah," ujarnya.  

Jalur itu memiliki peranan yang sangat penting. Selain untuk alur aktivitas perekonomian, sekaligus pula digunakan anak-anak menuju sekolah. Bahkan, sebagai jalur administratif bagi pemerintah kecamatan serta Puskesmas.  

"Jadi untuk ke SMA Boyan Permai, SMP 2 Boyan Tanjung, SMP Sriwangi. Serta jalur menuju enam SD. Puskesmas pembantu, Puskesdes juga harus melewati jalan itu," jelasnya.  

Rudi menerangkan, kerusakan bukan hanya terjadi pada material bagian atas jalan. Namun ikut diperparah oleh hancurnya gorong-gorong yang tertanam di bawah jalan. Kini benda itu sudah tidak lagi berfungsi untuk menghambat air yang mengalir.

"Selama ini kami memperbaiki secara swadaya, jadi bagian yang berlobang itu kami tutupi dengan kayu, agar bisa dilalui sementara waktu," ujarnya.  

Sementara itu, menurut warga lainnya, Ardian Arista, meskipun belum ada korban jiwa, namun kerusakan tersebut bahkan telah menelan korban jatuh ke dalam lobang saat melintasi jalan tersebut.   "Jalan itu posisinya menurun dari ketinggian, sehingga jika tidak siap dan rem tidak berfungsi maka kita akan masuk ke dalam lobang yang dalam itu," katanya.  

Dia mendesak pemda segera mengakomodir keluhan warga, yang menantikan perbaikan kerusakan tersebut.   "Kasihan orang luar yang tidak tahu dengan kondisi jalan itu. Karena sering jatuh ke dalam lobang, apalagi kalau malam di situ gelap," tandasnya.


Prioritas Daerah Terisolir  

Terkait penanganan kondisi infrastruktur jalan, pihak pemda akan memprioritaskan pembangunan dengan perhitungan konektifitas daerah yang saling terhubung.  

"Ada beberapa jalan yang konektifitasnya kami hitung masih nol dan setiap tahunnya kami masukkan dalam penyusunan prioritas seperti Dangkan- Landau Kumpang, Embaloh- Mandai dan Simpang Boyan -Bunut," kata Dedi, Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Bina Marga dan Pengairan setempat.  

Ihwal ini, menurutnya ditargetkan akan rampung seratus persen pada tahun 2019.  Sehingga semua daerah yang ada, bisa saling terhubung.   Tahun ini, pemda tengah melanjutkan proyek infrastruktur berskala besar di Jalan Simpang Boyan - Nanga Bunut. Pagu dananya senilai Rp 17 miliar.  

Proyek itu berfokus pada perbaikan daerah gambut dan banjir. Setidaknya ada lima titik daerah banjir yang akan dibenahi. Kalkulasi perhitungan jaraknya sejauh 1 kilometer lebih.

Sementara untuk lahan gambut sepanjang 5 kilometer.   Secara terperinci, alokasi dana bagi penanganan satu kilometer tanah gambut menelan anggaran sekitar Rp 3,5 sampai Rp 4 miliar. Dengan kedalaman gambut yang bervariasi bahkan mencapai dua meter ke bawah.   Jalur Simpang Boyan – Bunut ini, akan membuka akses Kecamatan Bunut Hilir dan daerah sekitarnya yang masih terisolir. (sap/and/sut)