Kuasa Hukum: Terdakwa Petrus Bakus Alami Gangguan Jiwa

Regional

Editor sutan Dibaca : 1539

Kuasa Hukum:  Terdakwa Petrus Bakus Alami Gangguan Jiwa
Terdakwa Petrus Bakus berdoa sebelum menjalani sidang lanjutan kasus mutilasi yang dilakukannya terhadap anaknya sendiri, Senin (25/7). SUARA PEMRED/ABDUL HALIKURRAHMAN
SINTANG, SP – Sidang lanjutan kasus mutilasi anak kandung terdakwa Petrus Bakus kembali digelar di Pengadilan Negeri Sintang,  Senin (25/7) sekitar pukul 10.45 WIB.

Persidangan beragendakan penyampaian eksepsi atau nota keberatan dari kuasa hukum terdakwa, atas dakwaan yang telah disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU), dipimpin hakim ketua Dedi Alex.


Eksepsi secara garis besar menyangkut kondisi kejiawaan Bakus sebelum atau sesudah melakukan kejahatannya yang tidak diungkapkan oleh JPU dalam dakwaan.

Menurut satu di antara kuasa hukum, Samuel Sitohang, berdasarkan hasil pemeriksaan psikologi ahli jiwa dan syaraf, telah disimpulkan, terdakwa positif mengalami gangguan kejiwaan atau depresi akut.

"Inilah eksepsi yang kami sampaikan ke majelis hakim,  karena dalam dakwaan JPU, masalah kejiwaan terdakwa tidak disebutkan," katanya.

Atas acuan itu, Samuel meminta kepada majelis hakim menerapkan Pasal 44 KUHP. Pasal itu menyebutkan, apabila seseorang melakukan perbuatannya yang kemudian tidak dapat dipertanggung jawabkan, lantaran terdakwa mengalami gangguan jiwa, atau sakit akal, maka terdakwa tidak dapat dihukum.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan, dan keterangan dari para ahli kejiwaan, sebelum terdakwa melakukan perbuatan tindak pidana, maupun sesudahnya, tim kuasa hukum melihat terdakwa sudah mengalami gangguan jiwa yang akut.

  
“Sehingga perbuatannya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Seharusnya begitu," kata Samuel.

Melihat fakta itu, Samuel optimis majelis hakim akan mengabulkan nota keberatannya. "Kami akan melakukan pembelaan semaksimal mungkin, untuk memberikan perlindungan hukum," terangnya.


Kendati demikan, Samuel tidak menampik, perbuatan terdakwa yang telah menghilangkan nyawa, tentu tindak pidana itu merupakan fakta yang nyata.

"Perbuatan terdakwa yang sudah menghilangkan nyawa orang lain Itu sudah jelas. Hanya saja, dalam dakwaan JPU, kondisi kejiwaan sebelum atau sesudah melakukan perbuatannya, itu tidak disebutkan," katanya.

Sementara itu, eksepsi ini akan ditanggapi JPU pada Kamis (28/7) nanti. "Kamis nanti akan kita tanggapi," kata JPU, Budi Susilo usai persidangan.

Terlepas dari itu, Budi menilai, cacat jiwa yang disampaikan oleh kuasa hukum terdakwa, di luar dari pada pokok perkara.

"Mengenai cacat jiwa, tentu itu merupakan materi perkara. Cacat jiwa atau tidak, itu akan dibuktikan pada fakta persidangan nanti. Jadi kita liat fakta persidangannya nanti," terangnya.


Secara tegas, Budi mengatakan, rangkaian perbuatan berencana yang dilakukan terdakwa itu ada. Sehingga, menurutnya, Pasal 340 subsider 338 KUHP sudah benar diterapkan dalam perkara tersebut.

"Rangkaian pembunuhan itu ada. Nanti akan dibuktikan oleh JPU," pungkasnya.

Kondisi Petrus Bakus semasa persidangan terlihat tenang. Namun, secara psikis, menurut tim kuasa hukum, kejiwaan kliennya masih sangat labil. Sesekali terdakwa masih dihantui oleh  bisikan-bisikan jahat yang mempengaruhinya.

Oleh sebab itu, terdakwa masih terus didampingi secara spiritual oleh keluarga dan rohaniawan. (abd/and/sut)

 

Komentar