Kamis, 21 November 2019


Bandit-bandit Narkoba 'Kuasai' Kota Pontianak

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1534
Bandit-bandit Narkoba 'Kuasai' Kota Pontianak

GRAFIS (SUARA PEMRED/ KOKO)

   PONTIANAK, SP - Kota Pontianak layak dikategorikan sebagai sarang bandit-bandit narkoba. Di Ibu Kota Bumi Khatulistiwa ini, rata-rata dipasok 20 kilogram narkoba setiap pekan.  

Berdasarkan prediksi pihak Polresta Pontianak,  sebagian besar barang haram ini beredar di Kampug Beting,
Jalan Tanjung Raya I, Kecamatan Pontianak Timur.

  "Yang jadi masalah, (polisi) jangan cuma tahu jumlah masuknya saja, tapi pengungkapan dan pemberantasannya," kecam Yandi, Ketua Komisi I DPRD Pontianak  kepada Suara Pemred di ruang kerjanya, Selasa (9/8).
 

Kepolisian, lanjut Yandi,  diberikan fasilitas dan anggaran yang cukup besar dari negara untuk memberantas narkoba. Karena itu pihak kepolisian diminta supaya jangan beralasan sulit menangkap para gembong narkoba.  

"Mereka (kepolisian) kan diberi kewenangan,  anggaran,  dan fasilitas untuk membasmi itu," jelasnya.

Selain itu, tambah Yandi, penanganan narkoba harus dilakukan antarlembaga dengan Tupoksi masing-masing yang sesuai dengan perundang-undangan.

Pihaknya sebagai lembaga legislatif, senantiasa mengontrol kinerja lembaga eksekutif yang terkait penanganan narkoba. "Terlalu dini menilai tepat atau tidak,  karena hasilnya belum kelihatan. Namun upaya pemerintah untuk mencarikan solusi,  tentu harus dihargai. Sebenarnya,  ini adalah tanggungjawab kita bersama juga," tuturnya.

Puluhan kilogram narkoba yang masuk tiap pekan ini juga menunjukkan bahwa aparat kepolisian tak berdaya menghadapi gembong-gembong ini. Kampung Beting misalnya, selama ini dikenal sebagai kawasan law untouchable (tak tersentuh hukum).
 

Menurut Yandi, pernyataan pihak
 Poilresta Pontianak terkait beredarnya puluhan kilogram narkoba itu, tentunya benar karena didukung data-data akurat. "Mungkin saja, karena data ada di polresta, kecuali polisi berbohong," tegasnya.
  Hanya saja, menurutYandi, permasalahannya adalah pada penanganan narkoba itu sendiri.

Ditegaskan, kepolisian jangan cuma tahu berapa masuknya narkoba. Melainkan juga harus tahu dari mana masuknya,siapa dalangnya, dan bagaimana cara memberantasnya.  

Peredaran dan penggunaan narkotika di Pontianak teurtama di  kawasan Kampung Beting, seperti tiada habisnya. Tak sedikit warga yang tergiur terlibat dan menjadi pengguna narkoba. Akibatnya, pencidukan di kawasan itu oleh aparat, baik pengguna, bandar kelas teri hingga kakap, nyaris tak pernah berhenti.
 

Kapolresta Pontianak, Kombes Iwan Imam Susilo menyatakan, beredarnya 20 kilogram narkoba tiap pekan itu berdasarkan informasi terakhir hasil investigasi pihanya.    

"Informasi yang masuk ke saya, dalam seminggu saja ada 20 kilogram, bahkan bisa lebih, karena ini bisnis yang sangat menjanjikan," tegas Imam secara terpisah di Pontianak, Selasa (9/8).

Menurut Iwan, tak tertutup  kemungkinan jumlah tersebut bakal meningkat di kemudian harinya. Bahkan juga bisa saja bermunculan kawasan-kawasan Beting lainnya. Dari berbagai pengembangan terhadap sejumlah perkara narkoba di wilayah hukum Polresta Pontianak, wilayah Jeruju, Kecamatan  Pontianak Barat,  dan Kampung Semut, Kecamatan  Pontianak Timur, juga potensial menjadi pusat peredaran narkoba.

Narkoba, menurutnya, ibarat  virus yang tidak hanya menyerang masyarakat umum. Melainkan juga anggota-anggota kepolisian. Karena itu,  setiap anggota kepolisian yang terlibat baik sebagai pengguna atau pengedar narkoba, akan ditindak sangat tegas.
 

Tindakan itu tak hanya dengan kode etik tapi juga dengan jeratan hukum pidana. "Masalahnya, virus ini dapat menyerang siapa saja, baik itu masyarakat sipil, aparat,  maupun penjabat," katanya.

  
Sebagai institusi negara dan aparat penegak hukum, lanjutnya, kepolisian  memiliki tujuan dan komitmen yang kuat dalam memberantas peredaran narkba, bukan malah sebaliknya. "Institusi punya tujuan, punya goal, punya misi yang jelas. Itu tadi, jika tidak mau, harus siap copot baju," ujarnya.

Menurut Iwan, masalah tersebut belum lama ini dibahas pihaknya bersama Wali Kota dan DPRD Pontianak. Terutama keberadaan Kampung Beting terkait bahaya peredaran narkoba.

"Di depan wali kota dan ketua DPRD,  pernah saya sampaikan. Saya kasih  PR satu, ngurusi Beting. Bisa atau gak. Itu aja, itu dulu karena di Beting luar biasa," katanya.
Iwan menambahkan,

Kapolri telah menaruh perhatian terhadap kawasan perbatasan. Menurutnya, kebijakan ini harus dipahami. Sebab, Malaysia juga sudah memberlakukan hukum yang begitu ketat di wilayah beranda depannya. Bahkan, warga negara Indonesia yang  berkaitan dengan narkoba pun dihukum gantung.

Selain itu, ungkap Iwan, pratik dan kehidupan di lapangan sulit diprediksi. Dicontohkan tentang daerah perbatasan Kuching Malaysia, yang memiliki volume peredaran narkoba yang luar biasa sehingga menyebar ke wilayah Kalbar.

"Itu yang tadi sampaikan, bahwa ini kerja bersama. Bandar-bandar yang posisinya sudah di dalam tahanan, kalau kita dengar berita-berita di luar, mereka masih mampu mengendalikan operasional. Dan,  ini luar biasa godaannya," tandasnya.
 

Rawan Narkoba


Sederet pengungkapan kasus narkoba di Kota Pontianak, tak lepas dari Kampung Beting. Menetralisir kawasan yang dianggap sebagai kantong peredaran narkoba ini memang tak mudah. Penataan kawasan ini diharap dapat merubah stigma negatif yang ada.
 

“Merubah fungsi kawasan rawan narkoba menjadi kawasan tertentu,  itu tidak mudah. Harus dilihat apakah kawasan padat penduduk itu mesti dikosongkan atau direlokasi,” kata Wakil Wali Kota Pontianak,  Edi Rusdi Kamtono, belum lama ini.

Menurut Edi, Kampung Beting dibangun di atas Sungai Kapuas yang dapat diakses melalui jalur darat dan air. Mayoritas penduduknya berpenghasilan rendah dan sebagian besar bekerja di sektor informal. Kawasan itu dinilainya sangat menunjang kegiatan yang sifatnya tertutup.

Pemkot Pontianak sendiri telah melakukan pembinaan dan  sosialisasi terkait bahaya dampak narkoba. Namun, sederet kasus peredaran narkoba di lokasi tersebut, selalu saja terjadi. Akibatnya, stigma Kampung Beting sebagai  'sarang' narkoba masih menjadi momok. 
“Tidak mudah,  dan perlu kerjasama berbagai pihak,” kata Edi.

Edi menambahkan, jika pembangunanan infrastruktur di kawasan yang juga merupakan mapping area rawan narkoba oleh aparat kepolisian ini terealisasi, pastinya perekonomian akan terdorong sehingga mempengaruhi pola pikir masyarakat setempat.
  “Jika terlaksana,  berubahlah pola pikir (mindset) orang-orang tentang Beting,  dan menjadi lebih baik,” katanya.

Edi juga berharap aparat kepolisian mempunyai strategi lain guna melakukan pengawasan terhadap berbagai aktivitas di kawasan itu sehingga dapat mengurangi peredaran narkoba.
  “Aparat kepolisian saja sulit memantau kawasan itu. Jadi, kita harus punya strategi lain terkait pemantauan kawasan itu,” harapnya.(ang/cah/aju/ant/bob/pat/hd)