Senin, 21 Oktober 2019


BPBD Sekadau: Tidak Ada Dana Khusus untuk Petani Tradisional

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1095
BPBD Sekadau: Tidak Ada Dana Khusus untuk Petani Tradisional

LAHAN (p2kp.org)

PONTIANAK, SP-  Upaya mencegah karhutla juga sedang dilakukan Pemkab Sekadau. "Kami  sedang melakukan langkah-langkah penerapan sesuai dengan aturan tentang penanganan karhutla," tegas  Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD), Akhmad Suryadi di ruang kerjanya, Senin (29/8).    

 Akhmad mengakui,   membakar lahan untuk membuka ladang merupakan budaya orang Kalimantan. "Saat ini tidak ada dana khusus kepada petani sebagai pengganti agar tidak buka lahan dengan cara membakar. Salah satu solusinya, adalah cetak sawah itu," tukasnya.
 

Sementara itu, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ketapang, Triyoga menyatakan, wilayahnya masih dalam status siaga darurat bencana kabut asap. Menurutnya,  masa berlaku status tersebut,  terhitung sejak dikirimnya SK ke Pemkab Ketapang pada Senin (22/8).
 

Menurutnya, status siaga darurat bencana kabut asap, bisa saja berubah menjadi status tanggap darurat bencana kabut asap. Ini jika memang kondisi titik panas terus meningkat, terjadi banyak kebakaran hutan dan lahan, atau indeks standar pencemaran udara buruk,  sehingga menimbulkan berbagai penyakit.
 

"Jika sudah begitu, status siaga bisa kita naikkan ke tanggap darurat. Hanya saja untuk saat ini,  kita masih siaga darurat, mengingat kondisi masih bagus akibat adanya hujan di beberapa wilayah di Ketapang. Jadi,  kita masih terus memantau perkembangan cuaca, dan akan melakukan koordinasi nanti bersama pihak terkait seperti lingkungan hidup, dan dinas kesehatan," tambah Triyoga.


Sementara Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Distanak Ketapang, Akhmad Humaidi mengaku, pihaknya memang memiliki program meminimalisir bagi petani yang membakar lahan untuk berladang.   Menurutnya,  program tersebut mengajak petani beralih menanam bibit padi lokal menjadi bibit unggul.

Program itu dilakukan mengingat petani yang membuka lahan dengan membakar adalah petani yang melakukan penanaman sekali sesetahun.
  Karena itu, tambahnya, lahan mudah untuk ditumbuhi rumput atau semak sehingga petani melakukan pembakaran sebagai solusi ketika akan melakukan penanaman kembali.

"Biasanya petani yang menanam setahun sekali itu rumput di lahannya sudah tebal dan tinggi. Sedangkan petani yang menanam dua kali setahun,  rumputnya tidak tinggi dan tidak tebal," ujar Akhmad.
  "Jadi  ketika ingin melakukan penanaman, tidak perlu dibakar melainkan cukup dengan memberikan herbisida kepada rumput di lahan petani," tambahnya.

Menurut Akhmad, petani yang menanam hanya sekali setahun, memang rentan lahannya ditumbuhi rumput tebal dan tinggi. Ini  karena lahan tidak dirawat lama sehingga pemberian herbisida tidak efektif.
 

Ditambahkan, hal ini berbeda dengan petani yang menanam dua kali setahun. Lahan mereka cepat ditanami sehingga rumput tidak tinggi dan tebal dan mudah dibersihkan menggunakan herbesida.

"Program kita,  mengajak petani yang awalnya setahun menanam sekali,  menjadi setahun dua kali menanam. Masalahnya, kalau petani menanam setahun sekali itu, ketika lahannya ditumbuhi rumput tinggi dan tebal, mereka biasanya membakar lahan sebagai solusi. Ini karena biaya rendah ketimbang  dengan cara lain yang biayanya tinggi," akunya.

Selain itu, tambah Akhmad, jika melakukan penanaman dua kali setahun, selain dapat menggunakan herbisida, persiapan pembukaan lahan juga bisa menggunakan pupuk organik," tambah Akhmad.
 

Tujuannya, mempercepat penghancuran bahan organik, seperti bungbung pada penanaman pertama. Tetapi pupuk organik dinilainya tidak efektif jika dilakukan oleh petani yang menanam sekali setahun. Ini karena rumput di lahannya  sudah tinggi dan tebal.(akh/teo/pat/sut)