Wagub Kalbar: Fokus Lahan Gambut Berpotensi Terbakar

Regional

Editor sutan Dibaca : 1035

Wagub Kalbar: Fokus Lahan Gambut Berpotensi Terbakar
Persiapan water bombing untuk penanganan Karhutla di Kalbar. (SUARA PEMRED/ YODI)
PONTIANAK, SP - Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Christiandy Sanjaya menegaskan, hasil pantauan di lapangan menunjukkan, sebagian besar asap muncul di lahan gambut. Karena itu pemerintah daerah gencar memfokus sumber masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalbar.  

“Efek yang luar biasa itu terjadi di lahan gambut, ini bukan statement kita,  tetapi berdasarkan hasil dari pantauan,” tegasnya saat menggelar Rapat Evaluasi Penanganan Karhutla di Kantor BPBD, Kota Pontianak, Rabu (31/8).
   

Dengan mengetahui sumber masalah tersebut, lanjutnya, Pemprov Kalbar akan fokus menangani karhutla mulai dari tingkat pencegahan.  “Kita bisa fokus, memantau lahan gambut yang berpotensi bisa terbakar,” tambahnya.
 

Menurut Christiandy, kegiatan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar di lahan, jelas tidak sampai mengganggu karena mereka membutuhkan pangan.   “Mungkin penanganan kita berbeda dibandingkan petani yang bergerak di lahan tanah gambut. Itu harus ada upaya berbeda,” ungkapnya.  

“Jika masyarakat berladang di lahan gambut, itu berarti harus jauh lebih berhati-hati untuk mengelolanya. Termasuk perusahaan. Perusahaan harus benar-benar menjaga, jika ada lahan gambut dalam konsesinya,” tambah Christiandy.    

Wagub mengatakan, pemerintah daerah telah membentuk posko lapangan sampai ke titik terdepan. Menurutnya, ini terbukti efektif hingga hari ini.   “Tahun lalu, di Desa Empening dilakukan pengecekan. Berdasarkan laporan,  di sana masih terjaga aman. Semoga itu bisa terjaga, agar tidak terjadi asap seperti tahun kemarin,” jelasnya.  

Menurut Christiandy, beberapa desa lainnya juga memiliki posko sama dengan Desa Empening. Ke depannya,  posko ini akan terus ditingkatkan.
 

“Supaya kita bisa bersama-sama menanggulangi ini. Penanggulangan asap ini tidak ada superman. Tidak ada orang datang lalu asap takut semua. Jadi tidak ada pahlawan kesiangan, tapi betul-betul kita semua,” tambahnya.
 

Penanggulangan ini melibatkan semua pihak, baik pemerintah pusat, daerah, sampai ke jajaran desa.   “Termasuk LSM lingkungan hidup kita ajak semua,” tuturnya.  

Ditambahkan, beberapa perusahaan yang sudah melakukan pengelolaan lahan sesuai prosedur yang ada. Bahkan sudah bisa turut membantu masyarakat sekitar, seperti memiliki lahan yang sejenis.  

Christiandy juga bersyukur atas  bantuan sejumlah pihak, termasuk jajaran TNI/Polri yang sudah bersama-sama bekerja keras menangani persoalan nasional ini.  
 

Sementara itu, Direktur  LSM Elpagar, Furberus Ipur meminta para petani yang ditangkap aparat terkait karhutla supaya dibebaskan. Aparat diminta tidak menterjemahkan peristiwa karhutla karena masyarakat membakar ladang.
 

Jika nanti petani menggugat ketika musim paceklik tidak bisa berladang, ia mempertanyakan apakah aparat mau ikut menanggung. “Bebaskan tanpa syarat. Dia mesti menjadi batal demi hukum,” tegasnya.  

Menurutnya, para petani lokal yang membuka ladang dengan membakar, seharusnya tidak bisa dikriminalkan. Para petani berladang dengan mekanisme pembersihan ladang yang merupakan kearifan lokal. Ini dikerjakan turun-temurun.

 “Coba kita tracking ke belakang, ada tidak yang membakar ladang sampai mengakibatkan kebakaran lahan sangat luas? Faktanya kan kebakaran yang besar-besar itu di dalam HGU (Hak Guna Usaha) perusahaan,” kata Furbertus.(nit/bls/pat)