Rabu, 23 Oktober 2019


Tabungan Dibobol, Bank BRI Dianggap Lamban

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 2912
Tabungan Dibobol, Bank BRI Dianggap Lamban

GRAFIS (SUARA PEMRED/ KOKO)

PONTIANAK, SP - Maraknya aksi pembobolan rekening nasabah bank BRI di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kota Pontianak, membuat nasabah BRI di Kalbar merasa resah. Apalagi dalam kasus ini, pihak bank dianggap lambat menjawab persoalan ini. Seperti, kebijakan mengganti kerugian yang diderita nasabahnya.  

  "Begitu saya dapat berita rekening nasabah BRI dibobol, saya putusan akan memindahkan uang saya ke rekening bank lain," kata Wawan, nasabah BRI di Kabupaten Sambas, Rabu (2/11).

Karyawan swasta ini mengaku, dapat kabar pembobolan rekening nasabah dari media sosial, kemarin. Berangkat dari kasus tersebut, dirinya khawatir menjadi korban berikutnya. "Uang saya tidak banyak di BRI. Tapi itu hasil kerja keras selama ini saya tabung. Takut dibobol, saya pilih bank lain yang lebih aman," katanya.

Sebelumnya, Ranti Nurfitriana, warga Kota Pontianak yang juga nasabah BRI menjadi korban, di mana uang Rp 20 juta miliknya di tabungan hilang secara misterius.

Adapun proses penarikan terjadi dua kali, yakni pada 29-30  Oktober, masing-masing Rp 10 juta. 
Celakanya, sampai sekarang, Ranti masih mempertanyakan jawaban pihak BRI Pontianak, terkait hilangnya saldo miliknya di rekening bank tersebut. “Kemarin saya mencoba melaporkan kejadian ini, namun pihak bank hanya meminta saya untuk bersabar, tanpa memberikan kepastian yang jelas terkait nasib uang saya,” ungkapnya kepada Suara Pemred, kemarin.

Dirinya juga sempat meminta tenggang waktu kepada pihak bank, untuk menyelesai persoalan ini. Namun, tak sedikit pun secercah harapan tidak bisa dijanjikan oleh pihak bank. “Pihak bank tidak berani menjanjikan kapan uang saya dapat dikembalikan,” kata Ranti.

Sementara itu, dalam sebuah postingan di sebuah media sosial Facebook yang diunggah Ranti Nurfitriana, terlihat beragam komentar yang ditulis netizen, dua di antaranya menyatakan pernah mengalami kejadian serupa.  “Saya juga pernah. Hilang Rp 500 ribu, bolak balik ke BRI, capek ngurusnya,” demikian komentar salah seorang netizen berakun @Anton Goliq.

Berbeda dengan komentar lainnya, salah seorang netizen justru membongkar sistem pengaman di internal bank.

Pada saat Suara Pemred mencoba mengkonfirmasi pihak BRI Cabang Pontianak, Jalan Barito, tak ada satu pun penanggung jawab yang bisa memberi komentar.

Salah seorang petugas keamanan di sana mengatakan semua pejabat kantor tengah rapat. Jawaban sama didapat dari dua kunjungan Suara Pemred, pada pagi dan siang.
 "Semua lagi rapat, tidak tahu sampai kapan," katanya.   

Sasaran Skimming
 

Modus skimming atau pemindai data kerap digunakan oleh pelaku kejahatan dalam membobol kartu ATM nasabah bank tertentu. Modus ini yang diduga dilakukan oleh sekelompok penjahat cyber.

Modus tersebut diduga sudah ada sejak masa-masa awal kartu ATM mulai populer. Meskipun metodenya di masa lalu mungkin relatif sederhana dibanding metode saat ini.

Skimming bisa terjadi karena informasi yang tersimpan secara magnetis pada kartu ATM. Informasi ini dibajak oleh perangkat khusus, kemudian disalin pada kartu 'bodong'.

Pelaku juga butuh mengetahui Personal Identification Number (PIN) korban untuk bisa memanfaatkan kartu palsu tersebut. Cara paling 'mudah' untuk mendapatkan PIN ini adalah, mengintip dari balik bahu nasabah saat bertransaksi atau menggunakan kamera perekam.
 

Anehnya, di Kalbar, kejahatan skimming justru menyasar pada BRI, merupakan bank terbesar yang tersebar dipesolok desa.  Seperti pada kasus percobaan pembobolan ATM BRI di Putussibau, Kapuas Hulu, 27 September 2016.

Dalam kasus tersebut, pelaku tidak berhasil membobol ATM tersebut. Sehingga  tidak ada kerugian uang yang hilang. Tapi menurut kepolisian, pelaku sudah masuk dalam percobaan pencurian. Meskipun dalam rekaman CCTV ada petunjuk pelaku, tetapi masih perlu pengumpulan barang bukti dan saksi-saksi.

Kasat Reskrim Polres Kapuas Hulu AKP Muhammad Aminuddin, kala itu mengatakan, melalui rekaman CCTV pelaku menggunakan topeng, kaca mata hitam dan menggunakan sarung tangan.

Selain itu, pelaku diduga dibantu oleh dua orang yang terlihat dari CCTV menggunakan sepeda motor Shogun warna biru yang diduga kawanan pelaku ada yang standby di luar ATM. "Dari hasil rekaman CCTV pelaku masuk di dalam ATM selama empat jam dan terlihat ada percikan api," tutur Aminuddin.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) memberikan penjelasan terkait aksi pembobolan mesin ATM dengan metode skimming, beberapa waktu lalu.
“Nasabah dari sejumlah bank tiba-tiba terpotong saldo tabungannya, padahal mereka tidak melakukan transaksi pengambilan uang,” kata Hari Siaga Amijarso, Coorporate Secretary BRI, dalam pernyataan resmi, Minggu (30/10).

Hari menjelaskan, modus yang digunakan pelaku kejahatan perbankan dengan teknik skimming tersebut, di antaranya dengan cara memasang WiFi pocket router disertai kamera yang dimodifikasi menyerupai penutup PIN, pada mesin-mesin ATM untuk mencuri PIN nasabah.


Melalui alat tersebut, para pelaku menduplikasi data magnetic stripe pada kartu ATM, lalu mengkloningnya ke dalam kartu ATM kosong.
“Jadi ketika ada pembobolan rekening, selain nasabah pemilik tabungan, pihak bank pun turut menjadi korban. Reputasi akan kenyamanan dan tingkat keamanan yang terjaga, menjadi turun di mata masyarakat,” ujar Hari.

Hari mengakui, beberapa kejadian juga sempat menimpa nasabah BRI. Ia menyatakan, BRI segera melakukan penelusuran terkait dugaan pembobolan rekening tersebut. BRI juga telah menggandeng pihak kepolisian, menangani kasus-kasus kejahatan perbankan yang menimpa BRI dan nasabahnya.

“Kami tidak akan segan memproses secara hukum para pelaku kejahatan perbankan yang telah merugikan nasabah dan institusi BRI,” kata Hari.

BRI juga meminta nasabah agar selalu menjaga kerahasiaan, dan mengubah PIN secara berkala. “Kami juga sampaikan agar nasabah menghubungi Call BRI di 14017 kalau ada yang kurang jelas mengenai berbagai produk atau layanan yang diberikan BRI,” ujar Hari. (bls/bob/ant/pas/loh/sut)