Rabu, 23 Oktober 2019


Kapolda Kalbar Apresiasi Peran Warga Berantas Narkoba

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1501
Kapolda Kalbar Apresiasi Peran Warga Berantas Narkoba

Kapolda Kalbar Irjen Pol Musyafak menunjukkan barang bukti sebagai bagian dari 18 kilogram sabu-sabu asal Malaysia di Pontianak. (aju/SP)

PONTIANAK, SP- Kapolda Kalbar Irjen Musyafak mengaku sangat bangga, karena sepanjang tahun 2016, pengungkapan kasus penyelundupan narkoba dari Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, selalu berkat laporan masyarakat.  “Tingkat kesadaran masyarakat cukup menggembirakan. Aparat keamanan tidak akan bisa berbuat banyak tanpa dukungan masyarakat,” kata Irjen Musyafak di Pontianak, Selasa (12/11).

 Musyafak memberi contoh penangkapan dua warga Malaysia, Lee Sing Chua alias Achien dan Khong Yia Hieng alias Aheng, atas kepemilikan 18 kilogram narkoba, Sabtu (6/11/2016), terungkap semata-mata berkat laporan masyarakat sekitar.  Jaringan Achien dan Aheng, melibatkan warga Indonesia berdomisili di Pontianak, Darmadi yang sekarang masih dinyatakan buron. Saat dilakukan penggerebekan rumah Darmadi, ditemukan lagi narkoba jenis happy five sebanyak 23.400 butir.
 
Dikatakan Musyafak, pengungkapan penyelundupan 17 kilogram sabu-sabu lewat Pos Lintas Batas Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Minggu, 7 April 2016, semata-mata pula berkat laporan masyarakat. “Saya tugas instruksikan seluruh Kapolres di perbatasan untuk selalu merangkul masyarakat sekitar, di dalam mengungkap peredaran narkoba.  Jaringan Achien dan Aheng, warga Sarawak sudah tercium aparat satu bulan silam. Kemudian terus dilakukan pengintaian, dan saat yang tepat ditangkap,” kata Musyafak.

 Diungkapkan Musyafak, pebinis narkoba lintas negara, melakukan berbagai upaya untuk memuluskan aksinya. Mulai dari menikahi warga Indonesia, hingga melakukan penyelundupan lewat jalan setapak di sepanjang perbatasan.  “Penyelundupan 18 kilogram sabu-sabu yang ditangkap di Pontianak, Sabtu (6/11), lewat jalan setapak di perbatasan Kabupaten Sanggau. Saat jumlah sudah mencapai 18 kilogram, dan segera akan dikirim ke Jakarta, langsung kita amankan,” ungkap Musyafak.

 Dengan disita 18 kilogram sabu-sabu, maka sejak 2013 sudah 71 kilogram sabu-sabu diselundupkan ke Kalimantan Barat, untuk didistribusikan ke seluruh wilayah di Indonesia.  Terakhir, sebanyak 6,8 kilogram narkotika jenis sabu-sabu 6,8 kiloggram, 2.080 butir happy five dan 12 butir ekstasi berhasil digagalkan petugas Bea Cukai Entikong, di Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong, Kabupaten Sanggau, pukul 13.30 WIB, Kamis (28/10/2018).

Dalam penyelundupan narkoba dari Malaysia, pernah melibatkan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) bernama Ishyang bekerja di bagian karantina ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan di PPLB Entikong tahun 2013.  Pada Senin, 15 Juli 2013, petugas BNN menggeledah rumah Ishar di Jalan Pangeran Nata Kusuma, Gang Kusuma, Komplek Natasari, Blok D13, Kota Pontianak,  terhadap kepemilikan 5,1091 kilogram sabu dan 9.107 butir pil ekstasi senilai Rp6 miliar.  

Polisi menggagalkan penyelundupan 5 kilogram narkoba asal Malaysia jenis sabu-sabu di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, dengan tersangka utama Ayong, sopir bus antar negara, Sri Merah, rute Kuching – Pontianak. Ayong ditangkap Selasa, 26 Agustus 2014.

Ayong merupakan jaringan Dicky Chandra yang sudah ditangkap sebelumnya. Periode Agustus – September 2014, jaringan Ayong dan Dicky berhasil memasok narkoba jenis sabu-sabu asal Malaysia ke Kalimantan Barat, sebanyak 5 kali.  Setiap kali pasok sebanyak 5 kilogram, sehingga lima kali dipasok kumulatifnya menjadi 25 kilogram. Jika dihitung hingga kali keenam saat ditangkap, Selasa, 26 Agustus 2014, komplotan Ayong dan Dicky Chandra berhasil memasok narkoba dari Malaysia sebanyak 30 kilogram.

Kantor Pelayanan Bea & Cukai Entikong, Kabupaten Sanggau menangkap seorang penyelundup narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 515,38 gram dan 24.245 butir ekstasi jenis "happy five" dari seorang kurir bernama Win alias Er, warga Kelurahan Tambelan Sampit, Kecamatan Pontianak Timur, 2 Juli 2015. “Semua kasus yang terungkap sepanjang tahun 2016, berkat laporan masyarakat yang ditindaklanjuti polisi,” ujar Musyafak. (Aju)