Warga Kapuas Hulu Banyak Pindah Menjadi Warga Malaysia

Kapuas Hulu

Editor Admin Dibaca : 1161

Warga Kapuas Hulu Banyak Pindah Menjadi Warga Malaysia
Ilustrasi. (SP)
PUTUSSIBAU, SP - Bupati Kapuas Hulu Abang Muhammad Nasir mengatakan, Warga Bumi Uncak Kapuas sudah banyak yang berpindah kewarganegaraannya, menjadi warga negara Malaysia.

Ke depan, pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin untuk mempertahankan agar masyarakat yang berada diwilayah perbatasan agar tidak berpindah kewarganegaraan lagi.

Dijelaskannya, dari sejak dulu warga Kapuas Hulu sering keluar masuk Malaysia. Hal ini dikarenakan antara Malaysia dan Kapuas Hulu berada dalam satu rumpun. Mereka biasanya bepergian ke Malaysia untuk bekerja. Selain itu, mereka juga mengunjungi keluarganya yang berada di sana.

"Dulu waktu akses jalan menuju ke sana masih sulit, mereka sudah sering keluar masuk, tidak hanya warga perbatasan bahkan dari kecamatan lain pun juga ke sana seperti dari Kecamatan Jongkong, Selimbau, Putussibau Selatan dan kecamatan lainnya," jelasnya seusai memimpin upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila di halaman Kantor Bupati Kapuas Hulu, Senin (2/10).

Diterangkannya, warga Kapuas Hulu banyak terdapat di wilayah Malaysia, khususnya di Sibu dan Miri. Biasanya mereka akan kembali bersilaturahmi kepada keluarganya di Kapuas Hulu, pada momen perayaan Idul Fitri.

"Mereka datang kembali ke Kapuas Hulu, biasanya sudah membawa kesuksesan. Walaupun mereka sudah di Malaysia, mereka masih tetap ingat dengan Indonesia," jelasnya.

Bupati mengimbau, melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini, hendaknya warga negara Indonesia (WNI), khususnya warga Kapuas Hulu, dapat meneladani para pejuang dengan cara mengamalkan Pancasila, menumbuhkan semangat persatuan, semangat perjuangan, serta tidak mudah dipecahbelah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Saat ini masyarakat kita secara umum sudah mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, namun saya tidak menafikan juga, mungkin ada satu dua orang yang belum mengamalkannya dari sekian banyak warga Kapuas Hulu ini," ungkapnya.

Dandim 1206 Putussibau Letkol Infantri Ibnu Subroto mengatakan, ideologi Pancasila harus ditanamkan mulai sejak dini kepada anak-anak, dengan cara memasukkan ideologi Pancasila ke dalam kurikulum pembelajaran, dalam hal ini yang paling berperan adalah Dinas Pendidikan.

"Pancasila tidak bisa diubah sampai kapan pun. Dulu PKI pernah berupaya untuk mengubah Pancasila menjadi paham komunis, namun tidak berhasil," tegasnya.

Diterangkannya, Pancasila sudah sangat cocok bagi negara Indonesia, salah satu yang terkandung di dalamnya toleransi beragama, keadian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan lain-lainnya. Saat ini tidak menutup kemungkinan adanya paham-paham komunis dan radikalisme, namun gerakan-gerakan tersebut selalu diantisipasi agar tidak berkembang.

"Untuk warga perbatasan Kapuas Hulu, (Indonesia-Malaysia) tidak boleh ber-KTP ganda alias dua kewarganegaraan. Jika itu terjadi, maka pihak imigrasi dan kepolisian bisa mengambil tindakan tegas," tutupnya.

Sementara, Kapolres Kapuas Hulu AKBP Imam Riyadi menjelaskan, kemajuan teknologi menjadi ancaman bagi keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa, sebab dikhawatirkan digunakan oleh oknum tertentu, untuk menebarkan informasi hoax dan ujaran kebencian dan bersifat provokatif, sehingga akhirnya akan menjadi konflik SARA.

"Saat ini Medsos sering dimanfaatkan untuk menebarkan informasi hoax yang berpotensi memecahbelah persatuan dan kesatuan," tegasnya.

Diterangkannya, biasanya para pelaku menggunakan akun-akun Medsos palsu yang mereka gunakan untuk mengadu domba masyarakat, sehingga menimbulkan gesekan yang berujung pada perpecahan.

"Mabes Polri sudah mengungkap akun-akun palsu seperti Saracen, Nikah Siri dan lainnya. Teknologi yang canggih saat ini menjadi ancaman bila tidak disikapi secara benar," ungkapnya.

Imam meminta masyarakat Kapuas Hulu bisa memilah dan memilih informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi hoax yang bersifat provokatif. Kemajuan teknologi harus digunakan untuk semakin mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, mempermudah komunikasi untuk menjalin silaturahmi dan pekerjaan, bukan digunakan untuk hal-hal yang negatif.

"Pancasila harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari," pintanya. (sap/lis)