Masyarakat Diminta Perhatikan Asupan Gizi Anak

Kapuas Hulu

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 391

Masyarakat Diminta Perhatikan Asupan Gizi Anak
WORKSHOP - Kegiatan Workshop Jurnalis Kampanye Gizi Nasional, yang berlangsung di Pondok Meranti Putussibau, Selasa (12/12). (SP/Syapari)
PUTUSSIBAU, SP - Fasilitator Program Kampanye Gizi Nasional Kapuas Hulu, Baco Maiwa mengatakan bahwa rata-rata persoalan stunting kasusnya banyak terjadi di daerah pesisir. 

"Sebagian nelayan tidak mengkonsumsi ikan yang didapatinya malah dijual, dan memberikan asupan seperti indomie untuk makan anak. Padahal ikan mengandung gizi yang sangat baik untuk dikonsumsi, utamanya bagi anak-anak," ujar Baco pada acara Workshop Jurnalis Kampanye Gizi Nasional, di Pondok Meranti Putussibau, Selasa (12/12).

Persoalan stunting sendiri menurut Baco, berawal dari asupan gizi yang kurang mencukupi, anak stunting bisa memiliki postur tubuh yang gemuk, tapi kualitas atau daya tangkapnya lambat.

"Sebab penyakit ini menyasar pada otak yang diakibatkan asupan gizi yang diperoleh tidak maksimal," jelasnya.

Begitu juga soal keturunan, stunting terjadi bukan akibat dari faktor keturunan dari orangtua. Maka dari itu 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) sangat penting, mengingat itu merupakan masa emas bagi anak.

"Di Kabupaten Kapuas Hulu angka stunting tertinggi ad di Bunut hilir, namun sayangnya Kecamatan Bunut hilir tidak masuk dalam program GSC dan KGN. Harapan ke depan kecamatan yang masuk dalam program kampanye gizi nasional adalah kecamatan-kecamatan yang kasus stuntingnya tinggi," katanya.

Sementara itu, Anggota Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Tatang S Falah mengatakan, faktor resiko terjadinya stunting tidak hanya dialami oleh masyarakat miskin, bahkan juga terjadi pada penduduk yang terbilang mampu.

"Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007, 2010 dan 2013, satu dari tiga anak balita di Indonesia mengalami stunting. Ini merupakan tanda kekurangan gizi kronis, yaitu kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama dan sejak dalam kandungan sampai usia dua tahun," paparnya.

Salah satu faktor terjadinya stunting yaitu dari tingkat kesenjangan masyarakat, khususnya warga miskin yang masih belum memahami tentang hal ini, namun tak dipungkiri bahwa masyarakat mampu juga mengalami stunting.

"29 persen warga mampu juga mengalami stunting," ujarnya.

Tatang mengatakan, hal ini juga diakibatkan asupan gizi pada ibu hamil serta anak yang belum tercukupi dengan baik, kemudian pola asuh yang harus memenuhi standar minimal PBMA. 

Selain Pola asuh yang tidak tepat, gizi yang tidak mencukupi, terjadinya infeksi juga merupakan penyebab lainnya terjadi stunting, artinya kehigienisan perorangan juga menjadi pemicu terjadinya infeksi.

"Seperti sanitasi lingkungan, ini juga haru diperhatikan oleh ibu dan anak," ucapnya.

Kepala Bidang Bina Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Trisnawati mengatakan, sejauh ini dalam penangana stunting di Kota Pontianak, pihaknya melakukan berbagai program, salah satunya pendampingan pada ibu hamil, dengan pendekatan mulai dari 1000 hari pertama kehidupan, yaitu melalui program 1000 HPK.

"Hingga sampai saat ini di masyarakat Kota Pontianak, terjadinya stunting sudah mengalami penurunan, dari 56 ribu balita yang ada, hanya  17 persen anak yang mengalami pertumbuhan tubuh pendek," pungkasnya. (sap/pul)