Menanti Legalitas Kratom

Kapuas Hulu

Editor K Balasa Dibaca : 1408

Menanti Legalitas Kratom
Petani Kratom di Kapuas Hulu. (SP/Syapari)
PUTUSSIBAU, SP - Pemkab Kapuas Hulu berencana memberikan payung hukum terhadap para petani Kratom (Purik), sepanjang tidak menyalahi aturan. Kratom juga digadang menjadi salah satu produk unggulan daerah.

Sekda Kapuas Hulu, Muhammad Sukri mengatakan, terkait legalitas tanaman ini sudah dibicarakan oleh pihaknya. sejauh tidak ada larangan hukum masyarakat dipersilahkan untuk bertani Kratom.

"Purik itu sudah diuji di Amerika katanya tidak bermasalah, jadi silahkan untuk sementara jika masyarakat ingin bertani Kratom," katanya, kemarin.

Dijelaskannya, pada dasarnya hampir semua tumbuhan mengandung alkohol seperti ubi dan jagung termasuk Kratom, namun kadarnya tidaklah terlalu banyak.

"Nanti jika sudah resmi tanaman ini tidak bertentangan dengan hukum maka akan kita atur dalam aturan yang jelas, sehingga ada kontribusinya bagi pendapatan daerah," terangnya.

"Nanti kita atur sehingga ke depan akan ada perizinannya terkait masalah kratom tersebut," jelasnya.

Seperti diketahui, Kapuas Hulu adalah kabupaten penghasil Kratom terbesar se- Kalbar. Sebabnya, memang dibutuhkan pengkajian ke depan sebelum dibuatkan aturan.

"Kita lihat dulu Kratom itu masuk dalam jenis tanaman hutan atau kebun, sebab berpengaruh terhadap retribusinya nanti," jelasnya.

Jika masuk jenis tanaman hutan, maka yang mendapatkan retribusinya provinsi. Sedangkan bila termasuk jenis tanaman kebun, Pemda Kapuas Hulu yang mendapatkan retribusinya.

"Jika sudah ada izinnya nanti, kemungkinan ke depan Kratom akan dijual dari Kapuas Hulu sudah dalam bentuk produk jadi, selain itu kita akan menjadikan kratom sebagai produk unggulan daerah," terangnya.

Petani Kratom Kecamatan Bunut Hilir, Paridawati meminta kepastian hukum kepada Pemda untuk melindungi para petani. Terlebih berbagai isu miring terus beredar hingga meresahkan mereka.

"Ada yang bilang kratom mengandung zat narkoba dan akan dilarang oleh pemerintah, isu ini tentunya membuat kami resah," katanya.

Kratom menjadi primadona di Kapuas Hulu pasca harga karet anjlok. Banyak petani karet beralih tanam ke kratom. Tak sedikit mereka yang menggantungkan hidup dari tanaman ini. 

"Kami meminta ada kepastian hukum dari pemerintah, jangan sampai purik yang sudah kami tanam terpaksa harus ditebang karena tidak adanya kepastian hukum," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammad Nasir mendukung semua jenis usaha masyarakat, asalkan tidak bertentangan dengan aturan yang ada.

"Jadi saya minta masyarakat jangan menebang karet dan menggantinya dengan kratom. Kratom dan karet harus sama sama ditanam," jelasnya. (sap)