Kekerasan Seksual Anak di Kapuas Hulu

Kapuas Hulu

Editor elgiants Dibaca : 145

Kekerasan Seksual Anak di Kapuas Hulu
BARANG BUKTI – Pakaian korban jadi barang bukti kasus kekerasan seksual terhadap anak di Silat Hilir, Kapuas Hulu, Senin (18/3).
Belum hilang di ingatan ketika seorang kepala sekolah memperkosa muridnya di Kapuas Hulu, kasus kekerasan seksual terhadap anak kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang anak SD yang pulang sekolah. Pelakunya, remaja tanggung berusia 15 tahun.

Kejadian itu berlangsung di kebun sawit, Senin (18/3) tengah hari. Korban yang melintas seorang diri, dipeluk dari belakang. Dia tak bisa teriak, mulutnya dibekap.
 
“Terlapor mengancam korban, kalau teriak akan dibawa ke kuburan dan dibunuh,” kata Kasat Reskrim Polres Kapuas Hulu, Iptu Siko, Kamis (21/3).

Aksi itu pun berlangsung. Korban kini sakit dan trauma.

Walau sempat diancam, korban akhirnya buka suara. Sehari selang kejadian, paman korban melapor ke Mapolsek Silat Hilir. Tak butuh waktu lama, pelaku berhasil ditangkap.

"Pasal yang disangkakan yakni pasal 81 ayat 1, ayat 2 dan atau pasal 82 UU RI Nomor 17 Tahun 2016 dan Peraturan Pemerintah pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak," paparnya.

Dari kasus pertama di awal Maret dengan kasus sekarang, jaraknya tak sampai 10 hari. Dua anak Kapuas Hulu itu direnggut masa anak-anak dan masa depannya. Butuh pendampingan khusus, agar tak lagi trauma dan siap berkarya di dunia.

Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Kapuas Hulu, Rustini, menyampaikan, selama ini dari pihaknya selalu menyosialisasikan pencegahan dan pendampingan terhadap korban kekerasan seksual anak.

"Alhamdulillah ada anak di Empanang yang menjadi korban, bisa kita rujuk ke selter P2TP2A Dinas PPPA Kalbar bekerja sama dengan Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah Kalbar (KPPAD)," terangnya.

Mereka melakukan pelayanan jemput bola, sampai ke tempat korban untuk pemulihan trauma dan perlindungan khusus. Pemeriksaan kesehatan dan lain-lain juga diberikan.

"Selama di sana mereka ditanggung sama Dinas PPPA dan KPPAD, biasanya selama 14 hari," terangnya.

Di tahun 2019 ini, jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terdata pihaknya baru dua kasus. Yakni di Empanang dan Silat Hilir yang terjadi Maret ini. (syapari/balasa)