Senin, 23 September 2019


Tokoh Pemuda Harap Generasi Muda Lestarikan Budaya

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 128
Tokoh Pemuda Harap Generasi Muda Lestarikan Budaya

Rumah Betang dan Kemajuan Teknologi

Dewasa ini kemajuan teknologi menjadi salah satu faktor penyebab lunturnya adat istiadat yang ada di rumah betang. Hal tersebut jika tidak disikapi secara serius akan berdampak terhadap hilangnya tujuan dari rumah betang tersebut.

Tokoh Pemuda Rumah Betang Tangak Banua, Desa Sayut, Kecamatan Putussibau Selatan, Didimus Mika Suka menyampaikan, dengan kemajuan teknologi saat ini secara perlahan terjadi pergeseran kebudayaan di rumah betang.

"Khususnya generasi muda, mereka sekarang lebih suka hidup menyendiri dengan asyik menonton televisi dan bermain smartphone," katanya

Kondisi tersebut jika dibiarkan berlarut-larut maka berpotensi akan menimbulkan sifat tidak peduli antara satu dengan yang lain.
"Padahal, makna dari rumah betang itu sendiri adalah menciptakan suasana kekeluargaan, persatuan, kepedulian dengan menjunjungg tinggi nilai-nilai sosial masyarakat," ucapnya.

Diceritakannya, dulunya, setiap pukul 16.00 WIB, penghuni rumah betang selalu berkumpul dengan tujuan untuk menjalin silaturahmi, bercerita, dan berembuk mencari solusi dari segala bentuk permasalahan yang dihadapi.

"Sekarang mereka lebih suka menyimpan permasalahannya sendiri daripada bertukar pikiran dengan sesama penghuni rumah betang," ungkapnya.

Selain itu, semangat gotong royong pun sudah mulai menghilang saat ini. Diperlukan kesadaran bersama baik generasi muda dan tua untuk mengatasi permasalahan tersebut.

"Siapa lagi yang akan melestarikan adat istiadat jika bukan generasi muda yang sekarang. Jangan sampai semua hanya menjadi sejarah yang hilang," harapnya.

Namun tidak dimungkiri, kata dia, kemajuan teknologi juga membawa dampak yang positif bagi penghuni rumah betang, di mana wawasan dan pemikiran generasi mudanya sudah lebih maju.

"Ada rasa malu jika anak-anak mereka tidak bersekolah, namun kemajuan itu harus diimbangi dengan menjaga kelestarian adat istiadat dan kebudayaan," ucapnya.

Dijelaskannya, rumah betang Tangak Banua dihuni sekitar 80-an Kepala Keluarga (KK) suku Dayak Taman. Penghuni rumah betang tersebut mayoritasnya berprofesi sebagai peladang.

"Untuk ritual adat yang masih ada sampai saat ini, seperti ritual adat perkawinan, kematian, dan Gawai RA," tuturnya.

Rumah betang yang didirikan secara gotong royong pada tahun 1990 tersebut terdiri dari sekitar 40-an bilik,dengan ketinggian tiang mencapai 1,5 meter. Untuk kepemilikan bilik betang tersebut berdasarkan waris/garis keturunan.

"Orang yang paling dituakan di rumah betang, seperti Kepala Adat, Ketua RT/ Dusun," terangnya.

Biasanya untuk membahas mengenai suatu permasalahan dilakukan kombong (rapat) di teras rumah betang tersebut.

"Terkait beda pilihan dalam pemilu mereka sangat dewasa, biar pun mereka beda pilihan, namun suasana kondusif tetap terjaga," terangnya.

Untuk potensi kerawanan yang paling dikhawatirkan, terkait kebakaran. Untuk itu, diperlukan kesadaran para penghuni rumah betang.
"Imbauan itu selalu disampaikan dalam setiap pertemuan," tutupnya. (sap/lha)