Ajak Masyarakat Lestarikan Permainan Tradisional

Kapuas Hulu

Editor elgiants Dibaca : 112

Ajak Masyarakat Lestarikan Permainan Tradisional
MENYUMPIT - Lomba menyumpit dalam Festival Danau Sentarum, Kapuas Hulu, beberapa waktu lalu.
PUTUSSIBAU, SP - Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kapuas Hulu, Antonius L. Ain Pamero menjelaskan, sumpit merupakan senjata yang digunakan oleh masyarakat Dayak untuk melindungi diri dan berburu di dalam hutan, demi memenuhi kebutuhan protein hewani.

"Selain menjadi pemersatu, olahraga ini perlu dipelihara agar tidak tergerus zaman. Gasing dan sumpit saat ini sudah dipertandingkan di tingkat Provinsi Kalbar," katanya, belum lama ini. 

Ia menerangkan bahwa sumpit biasanya dibuat dari kayu yang kuat dan tahan lama seperti kayu belian (ulin), dengan panjang sekitar 1,5-2 m. Pelurunya terbuat dari bambu yang telah diserut. Sumpit mampu menjangkau sasaran sejauh 25-30 meter.

"Kelebihan senjata tradisional ini, tidak mengeluarkan suara dan dapat dengan seketika melumpuhkan sasarannya," terangnya. 
Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kapuas Hulu, Abang Muhammad Nasir menjelaskan, dalam permainan gasing, terdapat nilai luhur yang terkandung seperti sportivitas, kebersamaan, persatuan, kekompakan, silaturahmi, dan nilai positif lainnya. 

"Permainan gasing terdiri dari dua jenis, yakni pangkak gasing dan uril. Perbedaan permaianan ini, jika pada pangkak gasing, yakni dengan mengadu gasing, sementara jika uri, yakni mengadu durasi lamanya gasing berputar," ujarnya.

Nasir yang juga menjabat sebagai Bupati Kapuas Hulu ini menuturkan bahwa kayu yang digunakan untuk membuat gasing, seperti kayu belian, kempas, tapang, dan berbagai kayu keras lain.

"Perlombaan olahraga tradisional selama ini selalu dilakukan di Kapuas Hulu demi memupuk rasa persatuan dan kesatuan serta untuk menangkal paham radikalisme, terorisme, dan konflik," paparnya.

Permainan gasing ini, kata dia, juga dimainkan oleh masyarakat Kapuas Hulu sebagai sarana untuk melepas penat mengisi waktu luang.

Warga Putussibau, Zaki mengatakan, permainan tradisional ini secara perlahan mulai menghilang dikarenakan kemajuan teknologi.
"Anak-anak lebih suka main permainan di smartphone daripada permainan tradisional," katanya.

Ia melanjutkan, permainan tradisional sebenarnya lebih bermanfaat karena banyak nilai positif yang terkandung di dalamnya. Berbeda dengan permainan yang ada di smartphone, yang mengajarkan anak untuk berperilaku keras terutama seperti permainan perang dan sebagainya. (syapari/shella)