Kamis, 12 Desember 2019


Warga Khawatir Kemarau Panjang Landa Kapuas HUlu

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 423
Warga Khawatir Kemarau Panjang Landa Kapuas HUlu

MUSIM KEMARAU - Potret Taman Nasional Danau Sentarum, Kapuas Hulu, yang dilanda kekeringan pada musim kemarau. Warga sekitar bahkan bisa berkendara di atas daratan yang sudah kering. Ist

PUTUSSIBAU, SP - Sudah hampir dua pekan Bumi Uncak Kapuas memasuki musim kemarau panjang, kondisi ini dikhawatirkan warga akan menimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan penyakit.

Warga Putussibau, Jamal mengatakan, saat ini iklim panas di Kapuas Hulu sudah sangat ekstrem. Selain itu, udara juga sudah tidak segar lagi.

"Dengan kondisi cuaca seperti ini, membuat kondisi kesehatan menurun, kepala menjadi pusing, batuk, pilek, dan sesak pernapasan," ujarnya, Kamis (18/7).

Belum lagi kolam, sungai, dan sumur yang sudah mengering. Akibatnya, sulit mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci, memasak, dan kakus.

"Ada juga yang menderita diare akibat air yang tidak higienis," ujarnya.

Warga lainnya, Yandi, mengkhawatirkan kondisi kemarau ini. Sebab, ada yang memanfaatkan dengan mengambil keuntungan pribadi, seperti menangkap ikan dengan cara meracun air yang ada di sungai dan danau.

"Tidak hanya ikan yang mati jika dituba, manusia yang menggunakan air juga bisa ikut keracunan," ucapnya.

Selain itu, dikhawatirkannya pada momen seperti ini banyak juga yang memanfaatkan untuk membakar hutan dan ladang untuk berkebun. Selain menimbulkan kebakaran hebat, juga merusak sistem pernapasan, khususnya bagi anak-anak.

" Transportasi menjadi macet, baik darat sungai maupun udara," katanya 

Terpisah, Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kapuas Hulu, M. Hatta menyampaikan, sejauh ini menurut pantauan pihaknya, wilayah yang rawan karhutla, yaitu di daerah kecamatan yang berada di dataran tinggi.

"Seperti di daerah seputaran lokasi perkebunan sawit di Kecamatan Semitau, Silat Hulu, Badau, dan lain-lain," katanya. 
Pihaknya akan selalu siaga dalam membantu masyarakat dan instansi terkait dalam mengantisipasi serta memadamkan api bila terjadi karhutla.

"Selama ini, kami selalu berkomunikasi dengan pemerintah terkait dalam upaya mengatasi segala bentuk benca alam yang terjadi termasuk karhutla," tuturnya.

Menurutnya, untuk kendala yang dialami pihaknya ketika terjadi karhutla, saat titik api berada di daerah bukit atau berada di daerah lahan gambut.

"Terkadang akses untuk menuju ke daearah titik api tersebut sangat sulit dan ketersedian air juga sangat minim dan jauh," tutupnya. (sap/lha)

Stok dan Harga BBM Aman

Sekretaris PT Uncak Kapuas Mandiri Kapuas Hulu (UKM KH) Badan Usaha Milik Daerah, Tomba, menyatakan bahwa ketersedian BBM saat ini, baik bensin, solar maupun pertalite masih aman dan harganya juga tidak mengalami kenaikan.

"Khusus untuk APMS yang kami pegang, stok dan harga BBM aman," katanya.

Selama kemarau ini juga, tidak terjadi peningkatan permintaan BBM. Untuk harga masih normal, di mana untuk premium Rp6.450 per liter, solar Rp5.150 per liter, dexlite Rp10.700 per liter, dan pertalite Rp7.850 per liter.

"Untuk pertalite dan dexlite kita tidak dibatasi kuotanya karena dia kan nonsubsidi. Berbeda dengan yang subsidi kita dibatasi kuotanya," tuturnya.

"Selama musim kemarau ini, suplai BBM dari Sanggau. Sebelum kemarau lebih dekat yakni dari Sintang," ucapnya.

Sudah dua minggu ini, kata Tomba, tongkang pengangkut BBM dari pontianak sudah tidak bisa lagi masuk sampai ke Sintang.

"Kalaupun untuk kendala BBM yang mungkin ada, itu seperti waktu kedatangannya ke Kapuas Hulu terlambat karena jaraknya yang jauh. Mengingat sekarang mengambil BBM sudah ke Sanggau," pungkasnya. (sap/lha)