Produksi Sarang Walet di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat Menurun

Kayong Utara

Editor sutan Dibaca : 2847

Produksi Sarang Walet di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat  Menurun
ILUSTRASI- Sarang burung walet (rumahdijual.com)
SUKADANA, SP – Produksi usaha sarang walet warga di Kecamatan Sukadana dan sekitarnya mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini  dipengaruhi perubahan iklim di daerah tersebut.

 “Selain produksi, kualitas dan bentuknya juga mengalami perubahan,” ungkap Lim Mou Seng, pengusaha penangkaran sarang burung walet di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara (KKU), Jumat (19/2).

Lim menduga,  kabut asap yang melanda KKU mengakibatkan burung walet kesulitan mencari makan.
Selain asap, penyebab  lain akibat banyaknya pohon yang rusak akibat kebakaran lahan.
  Kondisi ini mempengaruhi produksi sarang walet. Ini  terlihat dari ukurannya yang lebih kecil. "Entah karena waletnya sulit mencari makan akibat asap atau ada penyebab lain. Yang jelas selama musim kabut asap kemarin, sarang yang dihasilkan lebih kecil dari biasanya," kata Lim.  

Setiap kali panen biasanya diperoleh sekitar 20-an kilogram dari sarang walet jenis mangkok. Namun dalam beberapa bulan terakhir mengalami penurunan hingga separuhnya. Bahkan,  banyak burung walet yang berpindah tempat.

“Kalau kita hitung-hitungan, turunnya mencapai 50 persen. Kita tidak tahu juga, ke mana burung walet ini pergi. Apakah mati saat musim panas kemarin, atau lari ke tempat lain yang lebih aman. Yang jelas, sekarang populasi burung walet sudah berkurang,” terangnya.

Terkait dengan persoalan tersebut, pelaku bisnis walet hanya bisa pasrah menghadapi kondisi saat ini. Padahal, harga sarang burung walet dalam sebulan terakhir naik cukup tinggi. Kenaikan ini diperkirakan karena menurunnya produksi sarang burung walet.

Pembudidaya sarang burung walet biasanya menjual hasil panennya kepada pengepul yang rutin datang. “Harga sarang burung walet memang berfluktuasi, namun cukup prospektif sehingga banyak warga yang menggeluti usaha ini,” katanya.

Ditambahkan, harga sarang burung walet beberapa waktu lalu juga sempat merangkak naik hingga mencapai belasan juta rupiah perkilo  Tak heran jika belakangan ini banyak warga yang mulai melirik peluang tersebut, dengan mendirikan bangunan sebagai penangkaran sarang burung walet.

Lim berharap agar usaha burung pembawa rezeki bagi masyarakat ini dapat kembali berkembang seperti semula. “Kita harap burung walet ini datang lagi, agar dapat memberi hasil bagi masyarakat yang menekuninya,” ujarnya.

Sementara itu, pengusaha penangkaran burung walet lainnya, Doni Suprapto mengatakan, tetap akan berupaya mengembangkan penakaran walet di Dusun Sungai Cina, Desa Riam Berasap Jaya.
Ia menilai, harga walet belakangan ini lumayan cukup tinggi dan berpotensi akan kembali merangkak naik. “Kita bangun karena untuk saat ini harga walet mulai naik, semoga harganya ini stabil,” tuturnya. (ble/bob)