Kamis, 24 Oktober 2019


Petani di Desa Benawai Agung, Sukadana Tunda Tanam Padi

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1570
Petani di Desa Benawai Agung, Sukadana Tunda Tanam Padi

Sejumlah buruh tani menanam padi kedua di areal persawahan Desa Dukuhringin, Tegal, Jawa Tengah, Senin (18/4). Tanam kedua, ini mengejar musim hujan yang masih berlangsung agar tetap mendapat pasokan air. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/

SUKADANA, SP – Petani padi di Dusun Pelerang, Desa Benawai Agung Kecamatan Sukadana,  Kayong Utara terancam  gagal panen. Pasalnya, bibit padi yang baru disemai justru sudah lebih dulu terendam banjir.

“Saya baru menyemai padi sekitar 10 hari lalu, sudah tiga hari ini terendam banjir. Kalau terlalu lama tergenang air, maka kemungkinan bibit ini akan mati. Jadi para petani harus menyemai kembali bibit baru, sehingga bisa menunda penanam musim ini,” tutur Asiri, petani setempat, kemarin.

Selain bibit padi terendam banjir, para petani juga mengeluhkan lahan yang mereka tanami padi mengandung zat asam tinggi. Sehingga, begitu terlalu lama padi terendam air, bisa mengganggu pertumbuhan padi yang berujung pada  kematian.


“Sudah tiga hari sawah saya terendam banjir. Padahal banyak yang mau dikerjakan. Petani lain juga mengeluhkan hal sama. mudah- mudahan air cepat surut. Biar bibit yang baru disemai tak mati,”harapnya.

Petani padi lainnya, Asuli mengatakan, akibat sawah terendam air, para petani tidak bisa menggarap sawah mereka. Dirinya juga mengaku kesulitan mencari rumput untuk sapi, akibat banyak lahan yang tergenang air.

“Sudahlah sawah terendam air, lahan yang digunakan untuk mencari rumput pun terendam, terpaksalah ngarit  tempat yang jauh lagi, kalau tidak sapi saya tak makan,” tutur warga Dusun Selimau ini.

Ditambahkan Asuli, padi miliknya sudah menjadi langganan air jika musim penghujan datang. Apalagi terjadi hujan yang deras.

Pemerhati Lingkungan Kayong Utara, Nanang mengungkapkan, sawah pertanian yang sering terendam banjir ini diakibatkan kurangnya areal  “pengawetan tanah” atau irigasi air.
Seharusnya untuk mengatasi banjir harus memperbanyak parit- parit kecil di areal persawahan yang sering dikeluhkan petani.

Selain kurangnya jumlah irigasi air, juga saluran yang ada  masih banyak yang tak berfungsi dengan baik. Sehingga menyebabkan, apabila hujan deras, dengan cepat menggenangi lahan pertanian. (ble/loh)