Selasa, 17 September 2019


Pilkada Kayong Berkutat di Infrastruktur

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 548
Pilkada Kayong Berkutat di Infrastruktur

Grafis (Suara Pemred / Koko)

Citra Duani
"Kondisi geografis kita itu pesisir, maka yang pertama bidang kelautan dan perikanan, sektor pertanian, sektor-sektor perdagangan dan sektor kerajinan masyarakat,"

Abdul Halim Hasim
“Infrastruktur masih kurang. Itu yang kita kejar target kedepannya. Kedua, masalah kebutuhan dasar masyarakat, seperti air bersih yang tentunya akan kita teruskan kembali,”

SUKADANA, SP
– Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Kayong Utara, cenderung lebih sunyi dari sisi pemberitaan di media massa. Padahal, ada empat calon yang bakal bertarung di Pilkada Kayong. Isu infrastruktur masih jadi isu sentral para kandidat.

Ada empat bakal pasangan calon (Bapaslon) yang bakal maju di Pilkada Kayong. Mereka adalah, Abdul Halim Hasim dan Bukhori yang didukung oleh Gerindra, PDIP, PAN, PKPI dan Demokrat. Pasangan Citra Duani-Effendi Ahmad didukung Hanura, PPP, PKS, Nasdem, PKB dan Partai Golkar. Di jalur perseorangan, ada pasangan Masdar-Zulkaslim Tamura, serta pasangan Ashadi Yusuf-Abdurahman.

Citra Duani yang mendapat dukungan enam partai, dengan total 13 kursi mengatakan, keinginannya maju pada Pilkada 2018, karena keinginannya sebagai putra daerah untuk membangun Kayong Utara ke arah yang lebih baik. 

Ia menegaskan, alasannya ikut Pilkada, pertama, sebagai masyarakat Kayong Utara, ingin berbuat yang terbaik untuk daerah, dan mengabdikan diri untuk daerah.  Kedua, ia ingin membangun daerah ini lebih maju, lebih mandiri, kemudian kita harapkan dengan segala potensi yang ada di Kayong Utara ini, bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lantas, sektor apa saja yang dapat dikembangkan di Tanah Betuah ini? Citra yang akrab disapa ini mengaku, sektor laut menjadi penting untuk dikembangkan. Kedua, sektor pertanian dan sektro hasil kerajinan tangan. 

"Kondisi geografis kita itu pesisir, maka yang pertama bidang kelautan dan perikanan, sektor pertanian, sektor-sektor perdagangan dan sektor kerajinan masyarakat," ungkapnya.

Selain itu, beberapa pondasi pemerintahan dan program pendidikan dan kesehatan gratis, masih menjadi hal terpenting untuk terus ditingkatkan. Karenanya, dirinya tetap berkomitmen untuk melanjutkan program pendidikan dan kesehatan gratis.  Air bersih dan listrik juga akan menjadi fokus yang akan diselesaikan, jika mereka menjabat. 

Di dunia pariwisata, dirinya akan mengembangkan Ekowisata. Yakni pariwisata berbasis masyarakat. Yaitu, pola pengembangan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh.


Air Bersih


Pasangan yang memiliki jargon AKUR (Alim Bukhori), berjanji akan meningkatkan pembangunan di bidang infrastruktur, terutama infrastruktur dasar seperti air bersih yang akan menjadi program prioritas jika terpilih.

“Infrastruktur masih kurang. Itu yang kita kejar target kedepannya. Kedua, masalah kebutuhan dasar masyarakat, seperti air bersih yang tentunya akan kita teruskan kembali,” kata Abdul Halim di Sukadana.

Menurutnya, dua hal itu merupakan hak kebutuhan masyarakat sehingga wajib bagi kita lanjutkan kembali,Dengan menggunakan peci khas berwarna hitam, pria yang akrab disapa pak itam ini berjanji akan memperjuangkan aspirasi masyarakat Kayong Utara yang selama ini belum terwujud di pemerintahan sebelumnya.

“Motto saya untuk maju pada Pilkada Kayong Utara ini adalah berjuang,bekerja untuk masyarakat Kayong Utara, yang jelasnya kita ingin membangun Kayong Utara yang lebih baik lagi,”tegasnya.

Ditambahkannya, guna mengejar ketertinggalan dengan daerah lain, dirinya akan membuka akses jalan Perawas-Simpang Hilir. Peningkatan Pelabuhan Telok Batang menjadi pelabuhan Nasional. Serta Pembangunan Bandara Udara yang diperjuangkan Ketua DPD-RI, Oesman Sapta Odang, perlu didukung guna menunjang keberadaan pariwisata di KKU.

Selain itu, untuk penyelesaian infrastruktur perlu adanya koordinasi antara pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat. Untuk transportasi air, perlu adanya kerjasama dengan pengusaha yang bergerak di transportasi, khususnya air.

"Untuk mendongkrak di bidang pariwisata, perlu adanya kerjasama dengan pihak swasta, khususnya yang bergerak di bidang pariwisata. Sedangkan target suara 50 persen untuk memperoleh target tersebut, semua potensi akan digerakkan," tambah Halim.


Partai Pendukung


Ketua DPC Partai Demokrat, Kabupaten Kayong Utara, Darmawi  mengatakan bahwa, Partai Demokrat mempunyai bersifat terbuka. Itu artinya terbuka buat putra putri Kayong Utara tanpa memandang suku, agama, dan golongan, sehingga diberi kesempatan dua bulan buat Paslon di akhir-akhir masa pendaftaran.  

"DPP PD akhirnya memutuskan Bapaslon bupati/wakil bupati KKU pada pasangan Abdul Halim dan Bukhori,” ujar Sarnawi. 

Pertimbangannya, DPP PD adalah, sejalan dengan koalisi Bapaslon gubenur/wakil gubenur yang mana, dalam hal ini Ketua DPD PD Kalbar Bapak Suryatman Gidot menjadi Bapaslon Wakil Gubenur Kalbar yang kita tahu berpasangan dengan ibu dr. Karolin Margaret Natasa dari PDIP dan FKPI. Artinya satu arah yang semua itu mempermudah para kader tingkat kabupaten, kecamatan, desa untuk bergerak.                                             

Berapa target suara yg dijanjikan, disampaikan Sarnawi secara khusus tidak ada janji. Terlepas dari itu, setiap kader-kader Demokrat punya kewajiban mengamankan keputusan yang ditetapkan oleh DPP PD. 

“Masalah bargaining saya kira semua partai-partai yang berkoalisi dan mengusung Paslonnya, pasti sama maksud dan tujuannya," ujar dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai PKB Kayong Utara, Alias berharap dengan berkoalisinya Partai PKB mengusung Bapaslon Citra Duani dan Effendi Ahmad, diharapkannya dapat membawa KKU ke arah yang lebih baik.

"Harapan kami jika pasangan calon yang diusung nantinya terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati periode 2018-2023, maka kami berharap calon terpilih dapat mendengarkan masukan dan nasehat para alim ulama' dan dapat mengayomi warga NU,  para petani dan nelayan tanpa pandang bulu," ungkap H Alias. 

Selain itu, PKB sebagai partai pengusung mengaku siap memggerakkan mesin partai, dari tingkat dusun, desa, kecamatan, sampai tingkat kabupaten untuk memenangkan Bapaslon Citra Duani dan Effendi Ahmad. 


Tokoh Masyarakat


Tokoh masyarakat Simpang Hilir, Abdul Rani berharap terhadap calon kepala daerah yang akan bertarung 27 Juni 2018, agar betul-betul berpihak kepada masyarakat, bukan berpihak kepada penguasa.

"Beda pendapat dan pandangan hal yang biasa. Jangan dijadikan permusuhan. Oleh karena itu, pemimpin yang terpilih nanti agar lebih bijak dan arif,” ujarnya. 

Dalam program pembangunan agar ada azas pemerataan dan memperhatikan skala prioritas, tidak asal bapak senang sehingga pembangunan imfrastrukur terkesan mubazir, dan seolah-olah tidak terencana. 

Kemudian, pembangunan yang belum dilaksanakan oleh pejabat yang lama dapat dilanjutkan dan menjadi prioritas. Diharapkan, masyarakat khususnya Simpang Hilir, Teluk Batang dan Seponti. Yakni, air bersih menjadi skala prioritas. 

"Ini pernah dijanjikan oleh bupati pada saat kampanye, masyarakat akan menuntut janji ini," tuturnya.

Wisata Unggulan 


Ketua Badan Promosi Pariwisata Pontianak, M Rizal Razikan mengatakan ikon wisata yang ada di Kayong Utara saat ini, yaitu Pulau Datok. Potensi pariwisata di Pulau Datok harus dipromosikan dengan lebih gencar dan dikelola dengan baik, agar dapat menarik wisatawan sebanyak-banyaknya.

Dia berharap, kedepannya bupati dan wakil bupati terpilih dapat mengembangkan potensi pariwisata tersebut. “Kami harap si bupati baru nanti, bisa mengajak kami dari Badan Promosi Pariwisata Kota Pontianak, paling tidak bisa diajak untuk rembuk dengan Kayong Utara, supaya apa sih destinasi yang bisa kita promosikan di sana,” katanya.

Selain potensi Pulau Datok, potensi pariwisata yang dapat dikembangkan, seperti hutan manggrove. Potensi ini cukup banyak, tinggal bagaimana dinas terkait turun tangan membangun industri pariwisata di Kabupaten Kayong Utara dengan fokus dan konsisten. (ble/jek/rah/lis)

Pemilih Tradisional yang Cenderung Emosional


Pengamat Politik Kalimantan Barat, Ireng Maulana mengatakan, Berdasarkan Daftar Pemilih Tetap pada Pemilihan Presisiden (Pilpres) Republik Indonesia tahun  2014 lalu,  jumlah pemilih di Kabupaten Kayong Utara (KKU) berjumlah sekitar 75 ribu lebih sedikit pemilih. 

"Jumlah ini hanya separuh dari pemilih di kecamatan Sungai Raya, bahkan lebih sedikit dari pemilih kecamatan Kakap yang berjumlah 83 ribuan pemilih, Kabupaten Kubu Raya," kata Ireng Maulana.

Oleh karena itu, lanjut Ireng, kompleksitas Pilkada KKU 2018 diperkirakan bukan yang terberat. Jumlah 75 ribuan pemilih dengan empat pasang kandidat sudah lebih daripada cukup bagi pemilih di sana, untuk dapat mengidentifikasi figur yang terbaik bagi mereka. 

"Penilaiannya sederhana, kandidat yg paling masuk akal program kerjanya untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, adalah kandidat yang paling harus didukung dan dipilih. Sedangkan kandidat yang paling payah dalam urusan program kerja yang benar, sebaiknya tidak didukung," terangnya 

Alasannya, satu dekade terakhir, sebagai daerah otonomi baru d Kalimantan Barat, masyarakat Kayong Utara sudah mendapatkan kesempatan merasakan gerak pembangunan di berbagai sektor secara baik. Seharusnya, kandidat yang akan bertarung di 2018, memperhebat kemajuan yang sudah dicapai melalui konsepsi visi dan misi yang berkesesuaian dengan kebutuhan ini. 

"Pemilih Kayong Utara dapat dikatakan pemilih tradisional yang cenderung emosional,” ujarnya. 

Tradisional maksudnya, masih banyak pemilih yang loyal pada partai politik yang lahir dan besar di zaman Orde Baru, seperti Partai Golkar dan PPP. Secara ideal, mereka akan memilih kandidat yang diusung oleh salah satu atau koalisi dari parpol-parpol tersebut.

Selain itu pemilih emosional dalam artian sebagian besar pemilih memang dalam menentukan pilihannya, masih tergantung pada tolak ukur subjektifitas. Misalkan karena masih memiliki hubungan kekeluargaan, cenderung mengikuti arahan dari tokoh-tokoh setempat terhadap calon tertentu. Warga masih memandang status sosial kandidat bersangkutan, dan lebih memperhatikan arah dukungan mayoritas kepada kandidat tertentu di lingkungan tempat tinggalnya.

"Dua karakter pemilih tadi tentu saja dapat mengaburkan kebutuhan daerah untuk mendapatkan  kandidat yang berkompeten dengan visi misi yang baik,” ujarnya. 

Kandidat yang cakap tadi belum tentu masuk dalam kategori figur yang akan dipilih oleh pemilih tradisional dan pemilih emosional. Kita barangkali belum tahu pilihan yang terbaik supaya muncul lebih banyak pemilih pemilih rasional, sehingga kandidat yg memiliki kualitas kepemimpinan yang baik, dapat didukung dan dipilih oleh lebih banyak orang.

“Apabila penentuan untuk memilih kandidat masih dengan cara yang tradisional dan emosional, maka kita semua khawatir Kabupaten Kayong Utara tidak akan mendapatkan pemimpin yang akan berkomitmen, untuk memikul mandat perubahan dan kemajuan,” ujarnya. 

Pada akhirnya, pilihan berada di tangan publik Kayong Utara. “Kita berharap, kandidat yang memiliki kinerja, spirit dan moral yang terbaik dapat terpilih demi kemajuan daerah dan demi perbaikan kehidupan masyarakat lebih baik lagi,” ujarnya. (jek/lis)