Rabu, 16 Oktober 2019


Nasib Burung Enggang di Tanah Kayong (Bagian Satu)

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 735
Nasib Burung Enggang di Tanah Kayong (Bagian Satu)

BURUNG ENGGANG - Patung burung enggang atau rangkong di depan Rumah Radakng di Jalan Sutan Sahrir, Kota Baru, Pontianak. Burung enggang merupakan burung yang memiliki nilai magis dan sakral bagi orang Dayak. (Rebanas)

Simbol yang Sakral Bagi Masyarakat Dayak   


Burung enggang atau rangkong merupakan hewan yang memiliki pencitraan yang kuat bagi masyarakat Dayak. Saking sakralnya, karakter-karakter yang ada pada burung tersebut, tercermin dalam budaya orang Dayak. Enggang di masyarakat Dayak bukan hanya sekadar burung yang indah, tapi juga sebagai sosok yang suci, setia dan ramah. 

SP - Tapi sangat disayangkan nasib burung enggang hingga saat ini tergerus, dan dipinggirkan oleh modernisasi dan rusaknya ekosistem alam. Dan yang  lebih pasti, burung enggang yang suci, telah berubah menjadi sosok komoditas penghasil rupiah.

Kabupaten Kayong Utara yang hampir 60 persen wilayahnya merupakan hutan lindung, merupakan surga bagi habitat burung enggang. 

Namun, sangat disayangkan tidak banyak yang peduli dengan nasib burung enggang tersebut. Baik dari dinas terkait maupun lembaga non pemerintah, serta masyarakatnya sendiri. 

Sangat tragis, di saat hutan primer terus tergerus oleh perubahan fungsi menjadi lahan perkebunan. Populasi burung enggang kian terdesak, lantaran ekosistem mereka yang tak lagi sesuai dengan peruntukan. 

Tapi kini, setelah burung-burung itu semakin terdesak ke suatu wilayah, mereka justru menjadi sasaran empuk bagi para pemburu. Tak ada pilihan lain, selain hukum yang tegas dan kesadaran masyarakat akan lingkungan.

Demikian dikatakan oleh Ryan, salah seorang pemuda Kayong Utara yang peduli akan habitat burung enggang di Negeri Bertuah Raye ini. 

“Dulu, sering burung enggang setiap pagi atau sore hari terbang di atas rumah warga. Namun, sekarang sudah jarang terlihat lagi burung enggang terbang atau sekadar melintas di wilayah Kayong Utara,” katanya kepada Suara Pemred, belum lama ini.

Ryan mulai mengamati jarangnya keberadaan enggang tersebut, sejak tahun 2013. Sejak saat itulah, dirinya bersama rekan-rekan pegiat alam dan pariwisata mulai melacak burung enggang.   

Enggang dalam bahasa Inggris, Hornbill adalah jenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk. Burung enggang memiliki tubuh yang cukup besar, yaitu sekitar 100-160 cm (rentang dari kepala sampai ekor). Dari 57 jenis spesies enggang di seluruh dunia, 13 di antaranya berada di Indonesia. 

Burung yang gemar mengkonsumsi buah ara ini, sebagian besar hidup secara berpasangan. Enggang suka bersarang di lubang-lubang pohon besar dan tinggi. Yang membuat burung ini berbeda dengan burung lainnya, adalah saat masa mengerami, betina akan mengurung diri selama masa ini, dan jantan akan setia melayani betinanya. 

Saat musim bertelur, betina akan bertelur antara satu sampai lima butir. Enggang dikenal sebagai burung yang setia pada pasangannya. Dari semua jenis, Enggang Gading yang ukurannya terbesar. Jenis ini paling banyak ditemukan di wilayah Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) Kabupaten Kayong Utara. 

Menurut Ryan, Enggang Gading termasuk raksasanya enggang, kepala dan paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan tanduk yang menutup dahinya. Para ahli unggas mancanegara menyebutnya Helmeted Hornbill, karena kekhasannya, seperti terdapat kulit mirip helm berwarna merah menyala sampai ke leher. Secara morfologi, Enggang Gading merupakan khas Kalimantan Barat.

Hingga saat ini, ia belum bisa menemukan keberadan Enggang Gading. Hampir seluruh wilayah Kabupaten Kayong Utara sudah ditelusuri, namun belum juga ketemu. 

“Entahlah, kalau di Puncak Gunung Palung, yang selama ini menjadi pusat penelitian para ahli flora dan fauna dari berbagai penjuru dunia,” ungkap Ryan, pemuda asli Sukadana ini.

Dirinya berharap bisa menemukan keberadaan Enggang Gading dan dapat mendokumentasikannya. Karena, tidak banyak fotographer asal Indonesia, khususnya Kabupaten Kayong Utara, memiliki foto burung Enggang Gading. 

Abdurrahman selaku Ketua Ketapang Biodiversity Keeping (KBK) menerangkan, secara ekologis, enggang memiliki nilai dalam penyebaran benih di hutan. Daya jelajahnya yang luas, yakni hingga puluhan kilometer dan 90 persen makanannya berjenis buah. Di samping itu, enggang memiliki peran penting sebagai penyebaran benih di seluruh hutan primer. 

“Tetapi populasi enggang saat ini bisa dikatakan semakin sedikit. Dalam sebuah area hutan primer seluas 1.000 hektare, hanya ditemukan 380 ekor burung enggang dari enam jenis,” terang Abdur. 

Jadi bisa dibayangkan, jika perburuan terus merajalela dan perubahan ekosistem terus merebak. Bukannya tak mungkin, dalam lima tahun mendatang kepakan sayap burung itu sudah sangat sulit terdengar dan terlihat. (muhammad arief/bob)