Minggu, 15 Desember 2019


Polres Ketapang Tahan Dua Tersangka Pembobol Rumah Kosong

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 967
Polres Ketapang Tahan Dua Tersangka Pembobol Rumah Kosong

Sseorang reporter media cetak sedang mewawancarai RK (16), anak di bawah umur yang terlibat kasus pembobolan rumah di Ruangan Reskrim Polres Ketapang, Senin (8/8). Suarapemred/theobernadi

KETAPANG, SP – Anak di bawah umur, RK (16) dan abang kandungnya AK (22) harus mendekam di balik jeruji besi Polres Ketapang, Jumat (5/8). Mereka kedapatan membobol rumah kosong milik seorang warga di daerah Sungai Cina, Kecamatan Delta Pawan, beberapa waktu lalu.

RK yang masih berstatus pelajar kelas 1 SMA di Ketapang mengaku mengaku mencuri lantaran berniat hendak membantu abangnya yang terlilit hutang. RK mengatakan bahwa AK mengajaknya membobol rumah kosong.

"Jadi saat itu pagi hari abang ngajak saya keliling daerah Jembatan Pawan V untuk melihat rumah kosong, tapi akhirnya kami temukan di Sungai Cina ada rumah kosong," akunya, Senin (8/8).

RK
merupakan anak ketiga dari lima bersaudara mengaku baru pertama kali melakukan tindak kejahatan.
"Saya cuma ingin bantu abang bayar hutang. Orang tua saya hanya kerja tukang," tuturnya.

Dar
i hasil tindakan kejahatannya, RK dan AK berhasil menggondol satu unit laptop, tiga unit net book, dua unit handphone serta uang tunai sebesar Rp 450ribu. Barang hasil curiannya belum sempat dijual, RK dan AK lebih dulu diciduk polisi.

"Jum'at (5/8) kami ditangkap dan barang-barang curian belum sempat dijual," jelasnya.

RK mengaku menyesal dan terpaksa tak sekolah karena terlibat kasus kejahatan. Padahal, dirinya ingin tetap bersekolah.
"Harapan saya ingin segera dikeluarkan dan ingin melanjutkan sekolah," katanya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Putra Pratama saat dikonfirmasi menjelaskan, terungkapnya perbuatan kedua pelaku usai salah satu pelaku yakni AK (22) mengaku menjadi korban pencurian dan membuat laporan palsu di polres.

Setelah dilakukan penyelidikan, akhirnya keduanya terungkap telah membobol rumah milik salah satu warga di Jalan Panembahan Bandala Daerah Sungai Cina, Kecamatan Delta Pawan, pada Senin (18/7) lalu. Akibat perbuatannya, korban mengalami kerugian hingga Rp 36 juta.

"Tersangka diamankan di rumah orang tuanya bersama barang bukti hasil pencurian di antaranya satu unit laptop toshiba, dua unit note book, satu unit handphone, beberapa barang bukti lainnya dan satu unit kendaraan bermotor yang digunakan kedua pelaku dalam menjalankan aksinya," jelasnya.

Akibat perbuatannya, kedua kakak beradik kini telah diproses untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Untuk AK (22) tidak hanya dijerat persoalan laporan palsu tetapi juga Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara.

Ditindak Lanjuti dengan Diversi
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Ketapang, Aipda Nasran menjelaskan, terhadap anak-anak di bawah umur yang tersandung persoalan hukum, maka wajib dilakukan diversi dalam proses penyelesaian persoalannya.

"Hal itu sesuai UU Nomor 11 Tahun 2012," ungkapnya.
Diversi dilakukan sesuai syarat yang telah ditentukan di antaranya Anak yang berhadapan dengan hukum (ABH)  diancam pidana di bawah tujuh tahun penjara,  serta bukan merupakan pengulangan tindak kejahatan.

"Jadi kalau ancaman hukumannya di atas 7 tahun penjara dan merupakan perbuatan pengulangan dari kejahatan sebelumnya, maka diversi tidak wajib kita lakukan. Hanya saja untuk proses hukumnya tetap sesuai peradilan anak," jelasnya.

Selain itu, tidak semua ABH harus dilakukan penahanan, namun tergantung atas persoalan lantaran ada pertimbangan serta sesuai aturan peradilan anak. Anak-anak yang bisa dilakukan penahanan syaratnya sudah berumur minimal 14 tahun serta menerima ancaman pidana atas perbuatannya di atas tujuh tahun.

"Jadi kalau syaratnya tidak memenuhi sesuai dengan pertimbangan yang ada, maka ABH cukup melakukan wajib lapor atau mendapat jaminan dari orangtua, namun proses hukumnya tetap jalan sesuai aturan peradilan anak," terangnya. (teo/bah
/sut)