Gara-gara Nonton Film Porno, Dua Pelajar SD Cabuli Temannya

Ketapang

Editor sutan Dibaca : 4262

Gara-gara Nonton Film Porno, Dua Pelajar SD Cabuli Temannya
ILUSTRASI (sehatfresh.com)

KETAPANG, SP – Kasus kekerasan seksual terhadap anak kembali terjadi di Kabupaten Ketapang. Kali ini pelaku dan korbannya sama-sama masih di bawah umur dan berstatus pelajar di SDN, Desa Sungai Kelik, di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang.

Hingga saat ini, Polsek Nanga Tayap masih terus menyelidiki kasus dugaan pencabulan yang dialami oleh dua siswa itu yang terjadi pada Kamis (18/8) lalu. Dugaan pencabulan terjadi akibat pelaku sering menontont film porno.

Kapolres Ketapang, AKBP Sunario melalui Kapolsek Nanga Tayap, Iptu Bambang menjelaskan, dugaan pencabulan terjadi di hutan seberang sungai di Dusun Tanah Merah, Desa Sungai Kelik, Kecamatan Nanga Tayap pada 18 Agustus lalu.

"Orangtua korban mengadukan kejadian pada Senin (22/8). Kemudian dilakukan visum dan hasil visumnya baru keluar pada Rabu (24/8) kemarin," ungkapnya di sela-sela koordinasi dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Ketapang, Senin (29/8) sore.

Bambang menceritakan, peristiwa dugaan pencabulan terjadi usai jam belajar. Korban berinisial U (11) dan YW (12) bersama satu orang teman perempuan lainnya bermain perahu kecil menyeberangi Sungai Pawan Hulu menuju hutan bersama dengan teman laki-lakinya berinisial E (11) dan S (14).

Sesampainya di hutan, mereka langsung turun dari perahu dan masuk ke dalam hutan. “Di dalam hutan, tanpa disangka-sangka E (11) langsung merangkul U (11), sedangkan S (14) langsung merangkul YW (12). Melihat kejadian itu, satu teman perempuan U dan YW kemudian melarikan diri ke tepi sungai. Sementara di dalam hutan dugaan pencabulan terjadi,” kata Bambang.

Usai kejadian tersebut, satu di antara orangtua korban yang mendengar kejadian tersebut tidak terima. Kemudian bersama orangtua korban lainnya melaporkan kejadian itu ke Polsek Nanga Tayap. Tetapi karena tidak ada alat bukti, maka orangtua korban disarankan untuk melakukan visum kepada kedua anak mereka.

"Hasil visumnya kedua korban memang ada bekas luka luar di bagian kemaluan," terangnya.

Bambang mengaku kalau kasus ini masih dalam proses aduan dan belum masuk ke tahap laporan, namun pihaknya akan terus melakukan proses hukum sesuai undang-undang yang berlaku.

"Proses hukum akan tetap lanjut, makanya kita berkoordinasi dengan unit PPA Polres Ketapang seperti apa ke depannya," akunya.

Namun, dari hasil pertemuan yang dilakukan di Mapolsek Nanga Tayap antara orangtua korban dan orangtua pelaku, terjadi kesepakatan untuk tidak melanjutkan perkara ini.

Sebab, para orangtua khawatir jika terus dilanjutkan kasus ini akan menambah trauma korban. Apalagi keduanya masih di bawah umur, sehingga kedua pihak sepakat menyelesaikan secara kekeluargaan.


Kasus Tetap Diproses

Kanit PPA Polres Ketapang, Aiptu Nasran menjelaskan, meskipun sudah bersepakat damai, kasus itu akan tetap diproses sesuai dengan undang-undang anak yang berlaku.

"Jadi kita akan tetap proses sesuai  Undang-Undang Sistem Peradilan Anak," ungkapnya.

Dijelaskan, untuk anak yang belum berusia di atas 12, maka tidak bisa dipidanakan meskipun ancaman hukumannya di atas tujuh tahun penjara.

Selain itu, anak-anak yang di bawah umur wajib dilakukan diversi sesuai undang-undang peradilan anak. Sehingga kedua pelaku yang masih berstatus di bawah umur keduanya wajib dilakukan diversi yang melibatkan pihak-pihak terkait, termasuk juga dengan pihak korban.

"Yang jelas prosesnya sesuai uu
 anak," terangnya.

Untuk proses lebih lanjutnya apakah akan dilakukan di Polres atau di Polsek Nanga Tayap, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan melihat kondisi dan kepentingan korbannya.

"Kita juga memperhatikan korbannya secara serius karena korban memerlukan pendampingan dan pendekatan ekstra untuk memulihkan trauma yang dialaminya," tukasnya.
(teo/bah/sut)