Polres Ketapang Tangkap Seorang Kakek Cabuli Lima Siswa SD

Ketapang

Editor sutan Dibaca : 10344

Polres Ketapang Tangkap Seorang Kakek  Cabuli Lima Siswa SD
Mustafa alias Datok Mus (kiri) ketika berada di Mapolres Ketapang.(SUARA PEMRED/THEO BERNADHI)
KETAPANG, SP- Seolah tak pernah ada habisnya, kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak terus terjadi di Kabupaten Ketapang. Usia pelakunya pun rata-rata dewasa. Bahkan pada Jumat (2/9), aparat polres setempat menangkap  seorang kakek 66 tahun Mustafa alias Datok Mus karena dilaporkan mencabuli lima siswi sekolah dasar (SD).

Orang yang sudah 'bau tanah' biasanya akan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebab, maut selalu datang tanpa pernah bisa diprediksi, ibarat maling di malam hari. Jadi, bekal di akhirat harus disiapkan.
 

Tapi,  beda halnya dengan Mustafa.  Hidup menyendiri di Lubuk Dalam Sungai Kepuluk, Desa Pematang Gadung, bukan membuatnya makin dekat dengan Sang Pencipta, melainkan semakin bejat.

Lima anak perempuan, yang tiga di antaranya kakak-beradik, dicabulinya. Kelimanya, LE (7), CK (7), MS (8), TI (9), YE (10)
 
Kapolres Ketapang AKBP Sunario melalui Kasat Reskrim Polres Ketapang AKP Putra Pratama menjelaskan, Minggu (4/9), keberhasilan pihaknya menangkap pelaku berawal dari laporan Sumarliyah, bibi korban pada Jumat lalu.

"Usai mendapat laporan, Jumat malam harinya sekitar pukul 22.00 WIB, kita menggunakan motor air menuju pondok tersangka di Lubuk Dalam. Saat diamankan, tersangka tidak melakukan perlawanan, dan mengaku kalau dirinya bersalah," ungkap Putra, Minggu (4/9).

Terungkapnya serangkaian kasus cabul tersebut berasal dari laporan Alfa, nenek seorang korban berinisial MS. Alfa  awalnya mendengar percakapan tiga korban lainnya bahwa CK mengalami sakit di bagian genitalnya ketika kencing.  

Menurut Putra, Alfa kemudian memberitahu anaknya Sumarliyah untuk kemudian memanggil ketiga anaknya,  agar menceritakan kejadian tersebut. Korban berinisial TI bercerita bahwa dirinya pernah diraba-raba di bagian kemaluan oleh pelaku.

Pelaku  bahkan sempat mengajaknya bersetubuh tapi ditolaknya.
Dua anak perempuan lainnya, MS dan CI juga mengaku sudah tiga kali diperlakukan seperti itu oleh pelaku, tepatnya di kawasan Kelip Air,  Desa Pematang Gadung.

 Setelah menjalankan aksinya,  pelaku memberi mereka uang dua ribu dan seribu rupiah sambil mengancam akan menggosok cabe mulut mereka jika berani menceritakan kejadian itu kepada orang lain.
 
Lebih bejat lagi, salah satu korban berinisial CI, ternyata masih cucu tiri yang juga tinggal serumah dengan pelaku. Akibatnya, menurut Putra, CI  mengalami sakit jika akan buang air besar dan kecil.
 

"Modus tersangka, membujuk korbannya dengan memberi uang seribu hingga tiga ribu rupiah, dan juga memberi susu sasetan kepada korbannya. Dia  juga mengancam para korban jika berani memberitahukan  kejadian itu kepada orang lain," terang Putra.

Kini Mustafa terus disidik di Mapolres Ketapang. Selain untuk kepentingan pemeriksaan  juga untuk menghindari amuk massa. Pelaku dijerat pasal 81 dan atau pasal 82 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
       

Menurut Putra, pihaknya sudah meminta ketua RT setempat untuk ikut mencari tahu terkait kemungkinan adanya anak perempuan kecil lain di sekitar rumah Mustafa yang juga menjadi korban. Pihak kepolisian sangat yakin ada korban lain.   "Sebab, dari hasil pendataan, baru ditemukan satu anak lagi, inisial  YE yang menjadi korban tahun 2015 lalu," jelasnya.  

Mustafa sendiri ketika dikonfirmasi di Mapolres Ketapang,  menunduk 'malu-malu anjing'.  "Saya menyesal. Apa boleh buat, semua sudah terjadi, saya siap menerima hukumannya," dalihnya.
 

Kakek yang senyumnya selalu mencong ke kiri ini juga menceritakan perbuatannya terhadap cucu tirinya.  "Saya tidur bersama istri saya bersama CK. Saat itu neneknya mencuci piring sekitar pukul lima subuh," tuturnya.
 

Mustafa kala itu mengaku disergap nafsu karena 'tanduk di kepalanya' terlanjur keluar. "Saya sekedar suke-suke. Saya tutup mulut CK agar tidak bersuara, takut kedengaran istri," ujarnya.  

Hanya saja,  kakek kurus hitam ini bersikeras tak sampai melakukan penetrasi kecuali 'gesek-gesek'. Sejak itulah Mustafa merasa ketagihan dan mulai menyasar teman-teman cucu tirinya.
 

Bahkan Mustafa mengaku total delapan kali melakukan perbuatan tersebut kepada lima korbannya. "Kalau CK tiga kali saya gitukan, kalau yang lain ada juga yang tiga kali," akunya.

CK kerap digagahinya di pintu kelip air, dan di tepi gudang bekas puyak di desanya. Mustafa berdalih tak pernah memaksakan perbuatannya, serta tak pernah pula  mengancam para korbannya.

"Tak ada saya paksa. Hanya biasa, saya kasih uang buat jajan. Saya tidak mengancam. Hanya saya bilang, kalau ketahuan orangtua, nanti mulutnya dicabe," tuturnya.

Tersangka yang sehari-hari bekerja menanam sayur ini mengaku sama sekali tak menyangka perbuatannya bakal dilaporkan apalagi ditangkap polisi. Bahkan saat dicokok, Mustafa sedang bersantai di pondok tempatnya berladang.

"Saya tidak tahu bakal ditangkap. Tau-tau sudah ada polisi same warga datang ke pondok. Saya kemudian diamankan. Beruntung polisi menjaga saya. Kalau tidak, mungkin saya sudah diamuk massa. Situasinya memang sudah memanas, karena ada keluarga dari para korban," katanya.

Berdasarkan data Mapolres Ketapang, terjadi 19 kasus pencabulan dan persetubuhan pada Januari- per 2 Agustus 2016. Semua korban masih  anak-anak di bawah umur.(theo/pat/sut)