Rabu, 20 November 2019


Kasus Mandek, Anggota TNI AU Lanud Adisucipto Datangi Mapolres Ketapang

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1193
Kasus Mandek, Anggota TNI AU Lanud Adisucipto Datangi Mapolres Ketapang

Ilustrasi

KETAPANG, SP - Serka Uti Harmain (34) yang merupakan Anggota TNI AU Lanud Adisucipto Yogyakarta mendatangi Mapolres Ketapang. Ia mempertanyakan perkembangan kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan isterinya berinisial YY, terhadap putri kandung mereka berinisial UAC (4).

Kasus ini terungkap setelah Serka Uti mendapatkan video rekaman dari handpone istrinya. Dalam laporannya, tahun 2015 lalu, Serka Uti menceritakan, di video tersebut kaki dan tangan anaknya terlihat diikat menggunakan seutas tali.

"Saat itu, anaknya menangis sembari ditonton beberapa orang yang menurutnya keluarga dari sang istri di daerah Kendawangan, Kabupaten Ketapang," kata Serka Uti, Senin (27/2).


Setelah mengetahui kejadian tersebut, Serka Uti  langsung membawa sang anak ke Dinas Kesehatan TNI AU RSPAU DR S Harjolukito untuk dilakukan visum. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bekas tindak kekerasan di tubuh anaknya.

"Dalam video itu, sudah jelas membuktikan perbuatan pelaku yang menganiaya anaknya. Maka dari itu, saya datang ke Ketapang untuk mencari tahu sejauh mana perkembangan kasus ini, mengingat sudah dilaporkan dua tahun yang lalu,"
ungkapnya.

Sementara itu, Kapolres Ketapang, AKBP Sunario melalui Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres setempat, Brigadir Sri Windasari mengatakan, kasus tersebut sebelumnya sudah masuk tahap satu, bahkan berkas perkaranya juga sudah pernah dikirim ke Kejari  Ketapang.

"Tapi kejaksaan mengembalikan berkas tersebut, kita diminta melengkapi alat bukti lain berupa hasil visum," terangnya.

Menurutnya, bukti visum memang sangat diperlukan pihak penyidik, mengingat perkara yang diajukan adalah masalah kekerasan anak. Sedangkan, bukti kejadian dalam video yang menjadi dasar laporan dan petunjuk awal sudah sangat lama dan dinilai belum cukup kuat. 

Sedangkan hasil visum yang diberikan terlapor dari RS Harjolukito di Yongkakarta dinilai tidak dapat dipergunakan.

"Karena visumnya dilakukan di sana, maka pelaporannya harus di sana. Untuk bukti terhadap tindak kekeresan harus ada hasil visum korban dari rumah sakit di Ketapang," jelasnya.

"Jadi proses selanjutnya kita rencanakan akan gelar perkara dan kemungkinan kasus ini akan kita SP3 kan," imbuhnya.  (teo/bob)

Baca Juga:
Soal PETI, Ini Komentar Anggota DPRD Sambas
Pencairan Dana Desa Tahap Pertama di Melawi Terancam Molor