Bupati Ketapang Buka Gawai Adat Nyapat Taun

Ketapang

Editor Kiwi Dibaca : 855

Bupati Ketapang Buka Gawai Adat Nyapat Taun
KARNAVAL - Bupati Ketapang, Martin Rantan menaiki kendaraan hias Karnaval Gawai Adat Nyapat Taunt di Kecamatan Simpang Hulu, kemarin. HUMAS
Untuk melestarikan budaya lokal atau mengaktualisasikan nilai nilai  kearifan sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial, maka diperlukan sebuah wadah. Upaya ini bisa memperkuat identitas daerah dan nasional, serta mendorong masyarakat untuk lebih mandiri inovatif, produktif serta menghargai kebudayaan dan produk sendiri.

Demikian disampaikan oleh Bupati Ketapang, Martin Rantan saat membuka secara resmi Gawai Adat Nyapat Taun ke V di Kecamatan Simpang Hulu, kemarin.

Usai membuka Gawai Adat Nyapat Taun, Martin juga menyempatkan diri untuk meletakkan batu pertama pembangunan Gedung Serba Guna Paroki Santo Martinus.
Dalam sambutannya, Martin mengharapkan kegiatan Gawai Adat Nyapat Taun dapat menampilkan seni budaya Dayak yang terbaik.  "Artinya, para juara yang telah terseleksi di tingkat kecamatan dapat tampil di Gawai Adat Dayak di Kabupaten Ketapang," ujarnya.

Selain itu, dirinya juga mengharapkan pengurus kecamatan bisa menampilkan seni dan budaya Dayak yang asli dan jangan dicampur campur dengan budaya lainnya.

"Kita mengedepankan keaslian budaya Dayak," katanya.

Di samping itu, pembangunan Gedung Serba Guna Paroki Santo Martinus Balai Berkuak diharapan bisa memberikan pembinaan keagamaan kepada umat Katholik, agar terjaga dari hal-hal yang berkaitan dengan narkoba, perjudian dan aktivitas intoleransi.
Masyarakat Dayak di Kecamatan Simpang Hulu merupakan salah satu etnik asli  dari 405 sub suku yang tersebar di seluruh pulau Kalimantan. Sebagai etnik terbesar ,suku Dayak telah lama hidup secara harmonis berdampingan dengan suku lainnya.

"Masyarakat Dayak memiliki keberagaman dan keunikan. Ini yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari melalui budaya dan keharmonisan," tuturnya.
Gawai Adat Nyapat Taun yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun di Simpang Hulu ini, diisi berbagai kegiatan budaya tradisional, seperti upacara adat, karnaval budaya, permainan tradisional, dan berbagai bentuk kreatifitas kerajinan yang bernuansa tradisional.

“Kegiatan merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Balai Berkuak atas keberhasilan panen raya kepada Tuhan yang Maha Esa,” tuturnya. (teo/bob/PK)