Petani Ketapang Sulit Peroleh Pupuk Subsidi

Ketapang

Editor Kiwi Dibaca : 731

Petani Ketapang Sulit Peroleh Pupuk Subsidi
MENABUR PUPUK - UUM (50) menaburkan pupuk dengan komposisi campuran ZA, TE, dan pestisida di area persawahan di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (11/6) lalu.
KETAPANG, SP - Petani di Kabupaten Ketapang mengaku kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Pengajuan permintaan yang dinilai lamban dan tidak tersedianya kios-kios pupuk bersubsidi di tiap desa menjadi faktor penyebab.

Sudarto (60), satu di antara petani Desa Sukamaju, Kecamatan Muara Pawan membenarkan persoalan tersebut. Menurutnya, kondisi seperti ini tentunya menyusahkan para petani.

"Kalau petani lagi butuh pupuk kemudian mengajukan melalui RDKK datangnya lama, karena stok di gudang distributor kadang tidak ada. Penyebabnya apa mungkin saja distributor takut pupuk tidak laku atau ketika petani tidak membeli pupuk dijual ke wilayah perindustrian di pedalaman, karena harga jual tentu lebih mahal di sana," ungkapnya, Jumat (8/9).

Selain persoalan tersebut, menurutnya yang juga menjadi kendala ialah, susahnya mencari kios penjualan pupuk di pedesaan, jika melalui RDKK, selain memakan waktu yang lama, terkadang kebutuhan pupuk mesti menyesuaikan dengan masing-masing kebutuhan petani.

"Mencari tempat jualan pupuk juga susah, bahkan tidak ada di pedesaan. Makanya, untuk mencukupi kebutuhannya, para petani banyak pergi ke kota membeli dengan pengecer yang harganya sudah pasti jauh lebih tinggi dibanding bersubsidi," ujarnya.

Untuk itu, ia berharap persoalan pupuk subsidi dapat teratasi, lantaran pupuk merupakan salah satu faktor pendukung meningkatnya hasil produksi petani. Oleh karena itu, selain mempermudah proses mendapatkan pupuk subsidi, pihak terkait diharapkan dapat menyediakan kios-kios di tiap desa atau wilayah yang memiliki lahan pertanian.

"Kami mengharapkan ada solusi untuk persoalan ini, meskipun petani tetap membeli pupuk pada pengecer dengan harga lebih mahal, tapi harapan kami tentu ada subsidi untuk menekan biaya," mintanya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Kalinilam, Kecamatan Delta Pawan, Ma'ad membenarkan soal susahnya petani dalam mendapatkan pupuk subsidi.

"Kalau mau mendapatkan pupuk subsidi petani harus menyusun RDKK sebagai permintaan yang diajukan ke penyalur, tapi kendalanya kadang penyalur tidak memiliki stok sehingga harus memesan dulu ke Pontianak dan memakan waktu sampai sebulan," katanya.

Tak ayal, kondisi ini membuat para petani lebih memilih membeli kepada para pengecer yang harga jual pupuknya jauh lebih tinggi dibandingkan pupuk subsidi, belum lagi lokasi jual para pengecer yang hanya berada di perkotaan Ketapang membuat petani harus mengeluarkan ongkos buat transportasi ketika membeli pupuk.

"Pupuk subsidi memang susah, jadi saat ini solusinya beli ke pengecer, mau mengajukan RDKK juga sulit," tuturnya. (teo/bob)