Minggu, 08 Desember 2019


Peringatan Sumpah Pemuda Tahun 2017

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 493
Peringatan Sumpah Pemuda  Tahun 2017

FOTO BERSAMA - Bupati Ketapang, Martin Rantan bersama Forkopimda foto bersama dengan pengurus organisasi kepemudaan Ketapang usai upacara sumpah pemuda

KETAPANG, SP - Bupati Ketapang, Martin Rantan, SH mengimbau para pemuda agar menjadikan Hari  Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk berani bersatu demi kemajuan dan kejayaan Indonesia. Harapan tersebut disampaikan Bupati Ketapang saat membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga RI dalam upacara peringatan Sumpah Pemuda ke-89 di halaman Kantor Bupati Ketapang, Sabtu (28/10) pagi.

Sebelum upacara dimulai, peserta upacara dan undangan dihibur dengan penampilan drum band dari para siswa sekolah menengah pertama. Upacara ditandai dengan pengibaran sang saka merah putih. Selain itu, bupati juga membacakan teks Pancasila, dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Pembukaan UUD 1945 dan sejarah lahirnya Sumpah Pemuda oleh mahasiswa dan pengurus Pemuda Pancasila.

Dalam amanat Menteri Pemuda dan Olahraga RI yang dibacakan Bupati Ketapang dipaparkan bahwa 89 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, sebanyak 71 Pemuda dari seluruh penjuru tanah air berkumpul di sebuah di Jalan Kramat Raya, Kwitang Jakarta.

 Mereka mengikrarkan diri sebagai satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. "Sungguh, sebuah ikrar yang sangat monumental bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia, ikrar ini nantinya 17 tahun kemudian melahirkan Proklamasi Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945," tegas Martin Rantan, membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga RI. Dilanjutkan, Sumpah Pemuda dibacakan di arena Konggres ke-2 yang dihadiri pemuda lintas suku, agama dan  daerah. Jika kita membaca dokumen sejarah Kongres Pemuda ke-2, kita akan menemukan daftar panitia dan peserta konggres yang berasal dari pulau-pulau terjauh Indonesia.

Secara imaginatif sulit rasanya mereka dapat bertemu dengan mudah.
Dari belahan barat Indonesia, terdapat nama Mohamad Yamin, seorang pemuda kelahiran Sawah Lunto, Sumatera Barat yang mewakili organisasi Pemuda Sumatera, Jong Sumatranen Bond.

Dari belahan timur Indonesia, kita menemukan pemuda bernama Johannes leimena, kelahiran Ambon, Maluku yang mewakili organisasi Pemuda Jong Ambon. Ada juga Katjasungkana dari Madura dan Lefrand Senduk yang mewakili organisasi Pemuda Sulawesi Jong Celebes.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang Mohammad Yamin dari Sawah Lunto dapat bertemu dengan Johannes Leimena dari Ambon? Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang Katjasungkana dari Madura dapat bertemu dengan Lefrand Senduk dari Sulawesi? Bukan hanya bertemu, tapi mereka juga berdiskusi, bertukar pikiran, mematangkan gagasan, hingga akhirnya bersepakat diri dalam komitmen keindonesiaan. Padahal jarak antara Sawah Lunto dengan Kota Ambon lebih dari 4.000 kilometer, hampir sama dengan jarak antara Kota Jakarta ke Sanghai di China.

Sarana transportasi umum saat itu masih mengandalkan laut, dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk bisa sampai ke kota mereka. Alat komunikasi pun masih terbatas, mengandalkan korespondensi melalui Kantor Pos. Hari ini surat dikirim, satu dua bulan kemudian barulah sampai di alamat tujuan.

"Belum lagi kalau kita bicara tentang perbedaan agama dan bahasa. Mohamad Yamin beragama Islam berbahasa Melayu. Johannes leimena beragama Protestan berbahasa Ambon. Begitu juga Katjasungkana Senduk dan 71 pemuda peserta konggres lainnya," lanjut bupati.

Mereka memiliki latar belakang agama, suku, bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa sekat dan batasan tersebut tidak menjadi halangan bagi pemuda Indonesia untuk bersatu demi cita-cita besar Indonesia.

“Inilah yang kita sebut dengan berani bersatu" ucap bupati. Lebih lanjut dipaparkan, kita patut bersyukur atas sumbangsih para pemuda Indonesia yang sudah melahirkan Sumpah Pemuda. Sudah seharusnya kita meneladani langkah-langkah mereka hingga mampu menoreh sejarah emas untuk bangsanya. Bandingkan dengan era sekarang. Hari ini, sarana transportasi umum sangat mudah untuk dijangkau ujung timur dan barat Indonesia hanya dibutuhkan waktu beberapa jam saja.

Untuk dapat berkomunikasi dengan pemuda di pelosok-pelosok ini cukup menggunakan alat komunikasi. Tidak perlu menunggu datangnya tukang pos hingga berbulan-bulan lamanya. Interaksi sosial dapat dilakukan 24 jam. Kapanpun dan dimanapun.

Namun, anehnya justru dengan berbagai macam kemudahan yang kita miliki hari ini. Kita justru lebih sering berselisih paham, mudah sekali memvonis orang. Mudah sekali berpecah belah, saling mengutuk dengan yang lain. Menebar fitnah dan kebencian. Seolah-olah kita ini dipisahkan oleh jarak yang tak terjangkau atau berada di ruang isolasi yang tidak terjamah atau terhalang oleh tembok raksasa yang tinggi dan tebal hingga tidak bisa ditembus oleh siapapun.

Padahal dengan kemudahan teknologi dan sarana transportasi yang kita miliki hari ini, seharusnya lebih mudah buat kita untuk berkumpul, bersilaturahmi dan berinteraksi sosial. Sebetulnya tidak ada ruang untuk salah faham, apalagi membenci, karena semua hal dapat kita konfirmasi dan kita klarifikasi hanya dalam hitungan detik. Dalam sebuah kesempatan Presidan Republik Indonesia yang pertama, Bung Karno pernah menyampaikan

"Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda, kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air, tapi ini bukan tujuan akhir". Pesan yang disampaikan Bung Karno ini sangat mendalam khususnya bagi generasi muda Indonesia. Api sumpah pemuda harus kita ambil dan terus kita nyalakan.

Kita harus berani melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Kita juga harus berani melawan ego kesukuan. Keagamaan dan kedaerahan kita. Ego ini yang menggerus persaudaraan kita sesama anak bangsa. Kita harus berani mengatakan bahwa persatuan Indonesia adalah segala-galanya, jauh dari persatuan agama, kesukuan, kedaerahan, apalagi golongan.

Mari kita cukupkan persatuan dan kesatuan Indonesia. Stop segala bentuk perdebatan yang mengarah pada perpecahan bangsa, kita seharusnya malu dengan para pemuda 1928 dan juga kepada Bung Karno, karena masih harus berkutat di soal-soal ini, sudah saatnya kita melangkah ke tujuan yang lain yang lebih besar, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dilanjutkan, bahwa kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo yang selama ini memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembangunan kepemudaan Indonesia. Bulan Juli 2017 yang lalu, Presiden telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan.

Melalui Perpres ini, peta jalan kebangkitan pemuda Indonesia kita gelorakan, bersama pemerintah daerah, organisasi kepemudaan dan sektor swasta. Kita bergandengan tangan, bergotong-royong melanjutkan api semangat Sumpah Pemuda 1928. "Saatnya kita berani bersatu untuk kemajuan dan kejayaan Indonesia," tuntasnya. (teo/pk/ind)